Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

8 Ciri Kepribadian Perempuan yang Sering Bilang "Maaf" meski Tak Salah Menurut Riset

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Kamis, 22 Oct 2026 09:45 WIB

Ilustrasi maaf
Ilustrasi ciri kepribadian perempuan yang sering bilang maaf / Foto: Getty Images/Jcomp
Daftar Isi

Bunda pernah mengucapkan kata "maaf" padahal tidak melakukan kesalahan? Misalnya, meminta maaf sebelum bertanya dalam rapat, merasa bersalah ketika meminta bantuan, atau mengatakan maaf saat orang lain justru melakukan kesalahan.

Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi Ciri kepribadian bilang maaf secara berlebihan bisa berkaitan dengan cara seseorang memahami emosi, membangun hubungan, dan memandang dirinya sendiri.

Pada sebagian perempuan, kebiasaan meminta maaf bukan sekadar bentuk kesopanan, melainkan respons yang terbentuk dari pola asuh, pengalaman sosial, hingga keinginan untuk menghindari konflik. Meski tidak selalu menunjukkan masalah tertentu, kebiasaan ini bisa membuat seseorang merasa harus bertanggung jawab atas kenyamanan orang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, apa saja ciri kepribadian perempuan yang sering meminta maaf meski tidak bersalah? Yuk, Bunda, simak penjelasannya berikut ini.

8 Ciri kepribadian perempuan yang sering bilang "maaf" meski tak salah

Mengutip laman Times of India, kebiasaan perempuan yang terlalu sering meminta maaf dapat berkaitan dengan sejumlah karakteristik psikologis dan pengaruh lingkungan sosial. Perilaku ini tidak selalu menandakan rendahnya rasa percaya diri, tetapi dapat mencerminkan cara seseorang menghadapi situasi sosial dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Berikut delapan ciri kepribadian yang mungkin berkaitan dengan kebiasaan tersebut.

1. Peka terhadap perasaan orang lain

Perempuan yang sering meminta maaf mungkin memiliki kepekaan tinggi terhadap suasana dan emosi orang-orang di sekitarnya. Mereka cenderung cepat menyadari perubahan ekspresi, nada bicara, atau suasana yang terasa kurang nyaman.

Dalam psikologi kepribadian, kecenderungan ini dapat berkaitan dengan empati dan agreeableness, salah satu dari lima dimensi kepribadian dalam model Big Five. Karakteristik tersebut dapat membantu seseorang membangun hubungan yang harmonis.

Namun, ketika terlalu peka terhadap perasaan orang lain, seseorang bisa ikut merasa bersalah meskipun sebenarnya tidak melakukan kesalahan.

2. Cenderung ingin menyenangkan semua orang

Kebiasaan meminta maaf juga bisa berkaitan dengan perilaku people-pleasing, yaitu kecenderungan mengutamakan keinginan dan kenyamanan orang lain agar hubungan tetap berjalan baik.

Perempuan dengan kecenderungan ini mungkin mengatakan maaf untuk meredakan ketegangan, menghindari perdebatan, atau mencegah orang lain merasa kecewa. Perilaku tersebut dapat terbentuk dari pengalaman masa kecil maupun lingkungan yang mengutamakan sikap mengalah.

Meski terlihat sebagai bentuk perhatian, kebiasaan ini bisa membuat seseorang kesulitan menyampaikan kebutuhan dan pendapatnya sendiri.

3. Memiliki standar tinggi tentang kesalahan

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science dan dibahas oleh Scientific American meneliti kebiasaan meminta maaf pada laki-laki dan perempuan selama 12 hari.

Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan lebih sering meminta maaf dibandingkan laki-laki. Namun, perempuan juga melaporkan lebih banyak tindakan yang mereka anggap sebagai pelanggaran atau kesalahan.

Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi meminta maaf tidak selalu berarti perempuan lebih mudah merasa bersalah. Mereka mungkin memiliki batasan yang berbeda dalam menentukan perilaku apa yang perlu mendapatkan permintaan maaf.

Contohnya, terlambat beberapa menit, meminta bantuan, atau mengajukan pertanyaan mungkin dianggap sebagai alasan untuk meminta maaf, meskipun situasi tersebut sebenarnya tidak merugikan siapa pun.

4. Terbiasa merasa harus memenuhi ekspektasi sosial

Sejak kecil, perempuan dapat menghadapi tuntutan sosial untuk bersikap ramah, peduli, berprestasi, sekaligus menyenangkan orang lain. Ketika merasa tidak mampu memenuhi semua harapan tersebut, sebagian orang justru menyalahkan dirinya sendiri.

Tekanan ini dapat terbawa hingga dewasa dan muncul dalam bentuk kebiasaan meminta maaf secara refleks. Mereka mungkin merasa perlu meminta maaf ketika dianggap kurang ramah, berbeda pendapat, atau tidak mampu memenuhi keinginan orang lain.

5. Memiliki sifat kooperatif dan mudah bekerja sama

Perempuan yang sering meminta maaf mungkin memiliki tingkat agreeableness yang tinggi. Dalam model kepribadian Big Five, dimensi ini berkaitan dengan sikap kooperatif, kepedulian, keramahan, dan keinginan menjaga hubungan baik.

Karakteristik tersebut merupakan kekuatan yang dapat membantu seseorang bekerja sama dan membangun hubungan interpersonal yang positif.

Namun, ketika sifat kooperatif tidak diimbangi kemampuan bersikap tegas, seseorang bisa terlalu sering mengalah atau meminta maaf demi menghindari ketidaknyamanan.

Dalam kondisi tertentu, pola ini dapat menyerupai compulsive accommodation, yakni kecenderungan berlebihan menyesuaikan diri demi menghindari konflik.

6. Takut dianggap merepotkan atau berlebihan

Sebagian perempuan menggunakan kata maaf untuk mengantisipasi penilaian negatif dari orang lain. Mereka mungkin khawatir dianggap terlalu banyak bertanya, terlalu menuntut, atau sulit diajak bekerja sama.

Kecenderungan ini dapat berkaitan dengan perfeksionisme dan ketakutan terhadap penolakan sosial. Akibatnya, permintaan maaf digunakan sebagai semacam perlindungan agar orang lain tidak menilai mereka secara buruk.

7. Terlalu bergantung pada penilaian orang lain

Kebiasaan meminta maaf secara berlebihan juga dapat berkaitan dengan kebutuhan akan validasi eksternal, yaitu ketika seseorang terlalu mengandalkan penerimaan orang lain untuk menilai dirinya sendiri.

Perempuan dengan kecenderungan ini mungkin merasa lebih tenang ketika semua orang menyukainya. Sebaliknya, perbedaan pendapat atau ekspresi kecewa dari orang lain dapat membuatnya mempertanyakan harga diri sendiri.

8. Sebenarnya memiliki potensi kepemimpinan

Sering meminta maaf bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan memimpin. Justru, kepekaan terhadap orang lain dan kemampuan menjaga hubungan dapat menjadi modal penting dalam kepemimpinan.

Sebuah penelitian di University of Arizona membahas bagaimana penggunaan bahasa permintaan maaf yang lebih tegas dapat memengaruhi persepsi terhadap kompetensi perempuan.

Komunikasi yang percaya diri dinilai dapat membantu perempuan menyampaikan pesan secara lebih efektif.

Meminta maaf merupakan bagian wajar dari komunikasi dan dapat menunjukkan tanggung jawab ketika seseorang melakukan kesalahan.

Namun, Bunda tidak perlu merasa bersalah hanya karena menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, atau menetapkan batasan yang sehat. Belajar berkomunikasi secara tegas tanpa kehilangan empati dapat membantu perempuan membangun hubungan yang lebih seimbang dengan orang lain.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda