Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Ghea Indrawari Patah Hati Lihat Keluarga di Pontianak Bertahan 3 Bulan di Tengah Kabut Asap

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 19 Oct 2026 12:00 WIB

Ghea Indrawari
Ghea Indrawari/ Foto: Instagram @gheaindrawari
Jakarta -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Selain aktivitas terganggu, masyarakat harus bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak aman dan nyaman.

Bagi anggota keluarga yang menyaksikan karhutla dari dekat maupun kejauhan, rasa khawatir dan sedih dapat muncul karena melihat orang-orang tercinta harus melewati situasi yang sulit. Itulah yang dirasakan penyanyi Ghea Indrawari, saat melihat keluarganya di Pontianak bertahan selama tiga bulan di tengah kabut asap.

Melalui unggahan di media sosial, pelantun lagu Jiwa Yang Bersedih ini menceritakan kisahnya yang kembali ke kampung halaman di Pontianak, Kalimantan Barat, setelah lama merantau. Baru saja tiba di bandara, Ghea mengaku langsung merasakan dampak dari asap karhutla.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Aku baru banget dari Pontianak setelah lama ga mudik. keluar airport mata aku perih, tenggorokan gatel, air ledeng rasanya kaya garem," tulis Ghea, dikutip dari akun media sosial Thread miliknya, belum lama ini.

Ghea mengaku patah hati dan sedih mengetahui keluarganya di Pontianak harus hidup di tengah kabut asap selama tiga bulan. Menurut keluarga Ghea, kondisi saat ini sudah tidak separah sebelum ia mengunjungi rumahnya.

"Patah hati banget ngebayangin 3 bulan ini mama dan keluargaku harus hidup di dalam kabut itu. Gongnya mereka bilang ini udah jauh mendingan, awal awal kemaren langitnya oren," ungkap Ghea.

"Gampang untuk ga peduli kalo kamu atau keluargamu ga ngalamin sendiri. Selama ini aku diem sampe aku sikat gigi pake air ledeng itu. pls stop," sambungnya.

Dampak karhutla meluas

Karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera, Bunda. Dampaknya kini bahkan sudah meluas hingga mengganggu penerbangan.

Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F Laisa, berdasarkan data posisi 17 Oktober 2026, sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak Karhutla sejak 11 Agustus 2026. Jumlah ini bertambah 437 penerbangan dari posisi 13 Oktober 2026, yang mencatat 2.021 penerbangan.

"Selama 13-17 Oktober 2026, dampak kabut asap meluas hingga Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara, selain di Kalimantan, Papua, dan Sumatera," katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/26), dikutip dari detikcom.

Jadwal penerbangan di bandara di Kalimantan juga ikut terdampak akibat karhutla. Salah satunya adalah Bandar Udara Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat.

Lukman mengatakan bahwa asap dapat menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Setiap keputusan operasional dari penerbangan diambil dengan mengutamakan keselamatan.

"Pada penerbangan internasional, tercatat 14 penerbangan dibatalkan. Rinciannya, 12 penerbangan Singapura-Pontianak pulang pergi pada 12-23 September 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Supadio. Sementara itu, 2 penerbangan Singapura-Palembang pulang pergi pada 15 Oktober 2026 dibatalkan akibat asap di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II," ungkapnya.

Tak hanya di wilayah terdampak, asap karhutla juga dilaporkan sudah terdeteksi di sejumlah daerah, seperti Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap lapisan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat terdeteksi berada di atmosfer wilayah Jakarta, meski tak sampai di udara yang dihirup oleh masyarakat.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki mengatakan, keberadaan lapisan asap terpantau melalui citra satelit Himawari-9. Selain DKI Jakarta, lapisan asap juga terdeteksi di wilayah Banten dan Jawa Barat.

Menurut laporan, asap tersebut terbawa angin di lapisan atmosfer atas. Meski begitu, keberadaan asap ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa polusi udara di permukaan Jakarta mengalami peningkatan.

"Artinya, citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG menunjukkan adanya lapisan asap di udara di atas wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Lapisan ini berada di ketinggian sekitar 2 sampai 3 kilometer dan terbawa angin di lapisan atas. Dalam bahasa sederhana, asap tersebut 'lewat di atas' dan belum turun ke udara dekat permukaan yang kita hirup," ujar Marjuki, Minggu (18/10/26).

Dampak karhutla bukan hanya memengaruhi kualitas udara, tapi juga kesehatan masyarakat di sekitar wilayah terdampak. Krisis kabut asap ini ini setidaknya telah menyebabkan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut sebanyak 283.270 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla selama periode Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak berusia 0-5 tahun.

Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 74.636 kasus. Kasus tertinggi selanjutnya ditemukan di Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.

Demikian kabar terbaru dari dampak karhutla di sejumlah daerah di Indonesia.

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda