Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Manfaat Suami Istri Pelukan selama 20 Detik Menurut Penelitian

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Minggu, 18 Oct 2026 20:30 WIB

A young Asian man making up and hugging his girlfriend after an earlier argument.
Ilustrasi manfaat suami istri pelukan selama 20 detik menurut penelitian / Foto: Getty Images/Krisada tepkulmanont
Daftar Isi

Sering pelukan enggak, Bunda, setiap hari dengan suami? Yuk kenali manfaat suami istri pelukan selama 20 detik menurut penelitian.

Pelukan menjadi salah satu cara sederhana untuk menunjukkan kasih sayang kepada pasangan. Meski terlihat sepele, kebiasaan memeluk suami atau istri ternyata dapat membantu meredakan stres sekaligus mempererat kedekatan emosional dalam hubungan.

Penelitian menunjukkan bahwa durasi pelukan selama 20 detik dapat memberikan manfaat bagi tubuh ketika seseorang menghadapi situasi yang menegangkan. Pelukan hangat setelah menjalani hari yang melelahkan pun bisa menjadi bentuk dukungan emosional yang berarti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sejumlah penelitian juga mengungkap kaitan antara sentuhan penuh kasih, hormon oksitosin, dan interaksi positif yang membantu pasangan merasa lebih dekat satu sama lain. 

Manfaat suami istri pelukan

Apa saja manfaat pelukan bagi pasangan suami istri menurut penelitian?

1. Membantu menurunkan stres

Salah satu manfaat pelukan yang menarik perhatian peneliti adalah kemampuannya membantu meredakan stres. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di PubMed dan melibatkan hampir 200 orang bersama pasangannya, para peserta diminta melakukan tugas yang menegangkan, yaitu berbicara di depan umum.

Sebelum menjalani tugas tersebut, sebagian peserta mendapat pelukan selama 20 detik dari pasangannya. Sementara itu, kelompok lainnya diminta beristirahat dengan tenang seorang diri.

Hasilnya, laki-laki maupun perempuan yang menerima pelukan menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak mendapat perlakuan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan fisik dari pasangan berpotensi membantu seseorang menghadapi situasi yang memicu kecemasan.

Bagi suami dan istri, pelukan singkat sebelum menghadapi hari yang berat atau setelah melewati masalah di tempat kerja bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk saling menenangkan.

2. Bantu tubuh lebih relaks

Tidak semua pasangan merasa nyaman menunjukkan kasih sayang melalui pelukan. Namun penelitian dari Jepang menemukan bahwa memeluk bantal berbentuk manusia juga berpotensi membantu mengurangi stres, terutama ketika seseorang sedang menjalani percakapan yang menegangkan.

Dalam penelitian tersebut, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berbicara melalui telepon dengan orang asing selama 15 menit. Kelompok kedua melakukan percakapan serupa sambil memeluk bantal berbentuk manusia yang juga berfungsi sebagai perangkat telepon, yang disebut Hugvie.

Para peneliti mengukur tingkat stres melalui kadar kortisol dalam darah dan air liur. Hasilnya menunjukkan bahwa memeluk bantal selama percakapan dapat membantu menurunkan tingkat stres dibandingkan hanya berbicara tanpa pelukan.

Peneliti menduga posisi tubuh ketika memeluk turut berperan dalam efek itu. Saat merentangkan kedua tangan untuk memeluk, tubuh mengambil posisi yang berbeda dari ketika seseorang sekadar berbicara.

Meski penelitian ini bukan secara khusus menguji hubungan pernikahan, temuannya memberikan gambaran bahwa sensasi memeluk dapat membantu seseorang merasa lebih tenang.

3. Dukung kedekatan emosional melalui hormon oksitosin

Pelukan dan sentuhan penuh kasih sayang juga berkaitan dengan oksitosin, hormon yang berperan dalam ikatan sosial dan kedekatan emosional. Peneliti Ruth Feldman bersama rekan-rekannya mengamati interaksi 60 pasangan.

Dalam penelitian, pasangan diminta berbincang mengenai pengalaman menyenangkan yang pernah mereka alami bersama. Para peneliti kemudian mengamati interaksi mereka dan mengukur kadar oksitosin.

Hasilnya, pasangan yang lebih sering menunjukkan interaksi positif, seperti menyentuh dengan penuh kasih sayang, mengekspresikan emosi positif, dan berbagi cerita, memiliki kadar oksitosin yang lebih tinggi. Kadarnya juga secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak sedang menjalin hubungan romantis.

Feldman bahkan mengungkapkan bahwa peningkatan oksitosin selama fase jatuh cinta merupakan yang tertinggi yang pernah ditemukan timnya.

“Peningkatan oksitosin selama periode jatuh cinta adalah yang tertinggi yang pernah kami temukan." kata Feldman dilansir dari Psychology Today.

Temuan ini memperlihatkan adanya hubungan antara interaksi penuh kasih sayang dan oksitosin. Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti pelukan selama 20 detik secara otomatis meningkatkan hormon oksitosin dalam jumlah tertentu pada setiap pasangan.

4. Bantu pasangan membangun kebiasaan saling menyayangi

Kebiasaan menunjukkan kasih sayang dapat membentuk pola interaksi positif dalam hubungan. Ketika suami memeluk istri dengan tulus, mungkin merasa lebih nyaman untuk membalasnya dengan sentuhan, senyuman, atau perhatian. Interaksi tersebut kemudian dapat mendorong keduanya untuk kembali menunjukkan kasih sayang.

Ruth Feldman dan rekan-rekannya menggambarkan proses ini sebagai feedback loop atau lingkaran umpan balik. Dalam proses tersebut, kasih sayang yang diberikan dapat mendorong pasangan untuk membalas dengan perilaku positif sehingga keduanya semakin terlibat secara emosional dalam hubungan.

“Oksitosin dapat memunculkan perilaku penuh kasih sayang, tapi memberi dan menerima perilaku tersebut juga mendorong pelepasan oksitosin dan menghasilkan lebih banyak perilaku serupa,"ujar Feldman.

Jadi, perhatian dalam pernikahan tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Kebiasaan sederhana, seperti memeluk sebelum berangkat kerja, menggenggam tangan ketika berbincang, atau memberikan pelukan setelah pulang ke rumah, bisa menjadi bagian dari interaksi positif sehari-hari.

5. Berpotensi memperkuat ikatan dalam hubungan jangka panjang

Kedekatan emosional yang terbangun sejak awal hubungan ternyata juga menarik untuk diamati dalam jangka panjang. Dalam penelitian Feldman, sejumlah pasangan kembali diundang ke laboratorium enam bulan setelah pengamatan awal.

Para peneliti menemukan bahwa kadar oksitosin pasangan tersebut tetap tinggi. Menurut tim peneliti, kadarnya serupa dengan yang ditemukan dalam ikatan antara orangtua dan anak.

Temuan ini menjadi salah satu petunjuk mengenai kuatnya hubungan antara kedekatan emosional dan hormon oksitosin. Penelitian itu juga menemukan bahwa kadar oksitosin pada awal hubungan dapat menjadi indikator yang berkaitan dengan keberlangsungan hubungan enam bulan kemudian.

Pasangan yang menunjukkan lebih banyak sentuhan, tawa bersama, dan interaksi positif cenderung memperlihatkan keterlibatan yang lebih baik satu sama lain. Namun hasil tersebut tidak dapat dijadikan jaminan bahwa pasangan yang sering berpelukan pasti memiliki pernikahan yang langgeng.

Hubungan yang sehat tetap membutuhkan komunikasi, rasa saling menghormati, kepercayaan, dan kemampuan menyelesaikan konflik. Bagi pasutri, pelukan dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kehangatan hubungan. Jika dilakukan dengan tulus dan sama-sama nyaman, kebiasaan ini bisa menjadi pengingat bahwa pasangan memiliki tempat untuk saling mencari dukungan.

Jadi, apakah suami istri harus berpelukan selama 20 detik?

Penelitian menunjukkan bahwa pelukan selama 20 detik sebelum menghadapi tugas yang menegangkan dapat membantu menurunkan stres pada peserta yang diteliti. Sementara itu, penelitian lain mengaitkan interaksi penuh kasih sayang dengan kadar oksitosin yang lebih tinggi pada pasangan romantis.

Meski begitu, 20 detik bukanlah durasi wajib yang berlaku untuk semua pasangan. Efek pelukan bisa berbeda-beda, bergantung pada kondisi, kenyamanan, dan situasi masing-masing. Penelitian tersebut juga tidak membuktikan bahwa pelukan dengan durasi tertentu pasti membuat hubungan pernikahan lebih bahagia.

Pada akhirnya, bukan hanya lamanya pelukan yang berarti, melainkan juga rasa perhatian dan dukungan yang menyertainya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda