Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Peneliti Temukan Lebih dari 1.600 Cacing pada Ikan Ini, Sering Dikonsumsi Orang Indonesia

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Selasa, 06 Oct 2026 16:25 WIB

One tuna fish diagonal on dark wooden board really fresh just after capture little tunny
Ilustrasi ikan tuna / Foto: Getty Images/iStockphoto/MEDITERRANEAN

Para peneliti dari Universitas Federal Santa Catarina di Brasil Selatan telah melakukan analisis terhadap 53 jenis ikan yang ditangkap secara lokal. Melalui serangkaian penelitian yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa hampir semuanya terkontaminasi cacing. Dari salah satu jenis ikan yang diteliti, ada yang sering dikonsumsi orang Indonesia, Bunda.

Tuna jadi salah satu jenis ikan yang rentan terkontaminasi cacing. Dikutip Science Alert, tuna berlemak yang biasa digunakan untuk sashimi atau ikan kaleng kemungkinan sering berenang dengan parasit.

Spesies tuna yang dianalisis dalam studi ini dikenal sebagai skipjack, oceanic bonito, atau katsuo (Katsuwonus pelamis). Jenis tuna ini adalah spesies tuna paling melimpah di Brasil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pada tahun 2022, jenis ikan ini jadi spesies laut ketiga yang paling banyak ditangkap secara global. Pada tahun itu, 3,1 juta ton skipjack berhasil ditangkap dan dijual ke seluruh dunia.

Merujuk penelitian yang diterbitkan Ocean and Coastal Research, tim peneliti menghitung lebih dari 1.600 cacing kecil secara total. Hasilnya, dari 53 ikan yang ditangkap, 96 persen ikan tersebut terinfeksi parasit. Usus menjadi organ yang paling terinfeksi, diikuti oleh jaringan otot, kemudian lambung.

Menggunakan alat mikroskopi sebagai bantuan, mereka menemukan bahwa ginjal dan jantung menjadi satu-satunya organ yang bebas parasit pada setiap ikan.

"Hasil ini menyoroti pentingnya inspeksi sanitasi," simpul para penulis studi, "dan menekankan pentingnya pembersihan organ perut segera untuk menghindari migrasi larva dari organ perut ke otot," tulis peneliti, seperti dilansir Science Alert.

Meskipun penelitian dari Brasil ini hanya meliputi satu titik waktu, namun tuna di sana umumnya menjadi tuan rumah bagi dua genus cacing, yaitu Trypanorhyncha dan Anisakis. 

Proses pengolahan tuna dapat mempengaruhi kontaminasi parasit yang mungkin menempel.  Umumnya tuna yang dijual untuk konsumsi biasanya diperiksa dengan cermat oleh pengolah seafood dan koki sushi.

Dalam proses ini. parasit yang terlihat bisa dihilangkan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang ada cacing kecil yang bisa saja luput dari perhatian.

Apabila tuna dimakan dalam ikan mentah atau yang kurang matang, beberapa spesies parasit dapat menempel pada dinding usus manusia. Ini menyebabkan gejala pencernaan seperti nyeri perut, muntah, mual, atau diare.

Sementara ketika tuna melewati proses pengalengan, sebagian besar cacing parasit tidak berbahaya bagi manusia. 

Penelitian parasit dalam makanan laut juga pernah dilakukan oleh peneliti dari University of Washington pada tahun 2020. Dalam penelitian ini, ditemukan fakta bahwa cacing Anisakis dalam makanan laut mentah telah meningkat 280 kali lipat sejak tahun 1970-an. 

Mereka menemukan kurang dari satu cacing dari setiap 100 ikan yang ditangkap menjadi lebih dari satu cacing di setiap inang yang ditangkap. Namun hal itu tidak selalu buruk bagi manusia atau ekosistem laut. Selain ikan, parasit seperti Anisakis juga menginfeksi cumi-cumi, paus, dan lumba-lumba.

Saat ini belum ada penelitian lebih lanjut tentang sebaran parasit di wilayah perikanan di seluruh dunia. Penelitian ini akan berguna untuk memahami bagaimana parasit bertahan di dunia yang saat ini berubah dengan cepat.

Konsumsi ikan tuna di Indonesia cukup tinggi

Di Indonesia, tuna menjadi salah satu komoditas yang cukup melimpah. Tidak hanya melimpah, ikan ini juga jadi salah satu jenis yang mudah ditemukan dalam berbagai kuliner.

Dilansir laman Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dilaporkan total serapan tuna, tongkol, dan cakalang untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2023 mencapai 1,57 juta ton. Ini menandakan bahwa banyak orang Indonesia yang gemar mengonsumsi tuna.

Menanggapi temuan parasit yang terdapat dalam ikan, Profesor Chelsea L. Wood dari School of Aquatic and Fishery Sciences University of Washington tidak memungkiri bahwa ada cacing dalam segala hal yang dimakan.

Akan tetapi, ia memberikan sedikit tips untuk meminimalkan paparan parasit dalam makanan.

"Tapi memasak (dapat) membunuh berbagai parasit yang kita temukan dalam makanan kita, dan hanya ketika kita makan makanan mentah atau kurang matang kita akhirnya terjerat dengan parasit hidup dan menular," ujarnya. 

Demikian penjelasan tentang parasit yang ditemukan dalam salah satu ikan yang sering dikonsumsi orang Indonesia. Diperlukan kecermatan dan proses masak yang tepat untuk mengurangi risiko dari paparan parasit dalam makanan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda