Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

9 Ciri Orang yang Takut Gagal, Bahkan Sebelum Mencoba

Melly Febrida   |   HaiBunda

Jumat, 16 Oct 2026 16:55 WIB

fatigued asian business woman feeling tired exhausted and listless while she is using laptop at office
Ilustrasi ciri orang yang takut gagal, bahkan sebelum mencoba / Foto: Getty Images/PonyWang
Daftar Isi

Rasa takut gagal bisa membuat orang berhenti mencoba sesuatu meski sebenarnya ingin. Dalam pikiran muncul pertanyaan,'Kalau gagal bagaimana' atau 'kalau ternyata aku enggak mampu?'. Adakah ciri orang yang takut gagal meski belum mencoba?

Rasa takut gagal itu manusiawi dan hampir semua orang mengalaminya. Namun, untuk sebagian orang, rasa takut yang begitu kuat membuatnya memilih tidak mencoba, menunda pekerjaan, atau tanpa sadar melakukan hal yang justru menghambat peluangnya sendiri.

Ciri orang yang takut gagal sebelum mencoba

Melansir Psychology Today, psikolog Gary Drevitch menjelaskan bahwa rasa takut gagal pada sebagian orang bukan semata-mata takut mengalami kegagalan. Di baliknya dapat terdapat kekhawatiran akan rasa malu, penilaian orang lain, atau perasaan bahwa kegagalan menunjukkan dirinya tidak cukup baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ciri-ciri berikut bukan berarti seseorang pasti mengalami fear of failure. Namun, pola-pola ini dapat muncul ketika ketakutan terhadap kegagalan mulai memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak.

Berikut ciri-ciri orang yang takut gagal bahkan sebelum mencoba:

1. Terlalu memikirkan apa kata orang

Salah satu tanda orang takut gagal adalah terlalu khawatir dengan yang dipikirkan orang lain jika dirinya gagal. Misalnya, Bunda ingin memulai bisnis kecil-kecilan, tetapi tidak jadi karena membayangkan orang lain akan menertawakan jika usaha tersebut tidak berhasil.

Padahal, orang lain belum tentu memikirkan kegagalan tersebut sebesar yang dibayangkan. Ketakutan terhadap penilaian orang lain dapat membuat seseorang lebih memilih aman daripada mengambil kesempatan yang sebenarnya ingin dicoba.

2. Takut kegagalan akan menentukan masa depan

Orang yang takut gagal juga bisa memandang satu kegagalan seolah-olah akan menentukan seluruh masa depannya. Gagal dalam satu pekerjaan terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak akan berhasil dalam bidang tersebut. Tidak lolos satu seleksi dianggap sebagai tanda bahwa impiannya tidak mungkin tercapai.

Cara berpikir seperti ini membuat kegagalan terasa jauh lebih menakutkan, padahal kegagalan juga bisa menjadi bagian dari proses belajar.

Penelitian tentang self-worth yang berkaitan dengan pencapaian juga menunjukkan bahwa ketika harga diri seseorang sangat bergantung pada keberhasilan tertentu, kegagalan dapat memberikan dampak emosional yang lebih besar.

3. Khawatir orang lain akan kehilangan minat

Takut gagal juga dapat berkaitan dengan kekhawatiran bahwa orang lain akan kecewa atau tidak tertarik jika dirinya tidak berhasil. Misalnya, seseorang merasa harus selalu berprestasi agar tetap dianggap hebat oleh keluarga, teman, atau orang yang dikaguminya.

Akibatnya, mencoba sesuatu yang berisiko gagal terasa jauh lebih menakutkan karena yang dipertaruhkan bukan hanya hasilnya, tetapi juga penerimaan dari orang lain.

4. Meragukan kemampuan diri sendiri

"Kayaknya aku enggak cukup pintar."

"Aku memang enggak berbakat."

"Orang lain pasti lebih bisa."

Kalimat-kalimat seperti ini dapat muncul sebelum seseorang benar-benar mencoba.

Melansir Verywell Mind, rasa takut gagal dapat membuat seseorang meragukan keterampilan atau pengetahuan yang dimilikinya. Ketika keyakinan dengan kemampuan diri semakin rendah, seseorang bisa memilih menghindari tantangan daripada menghadapi kemungkinan gagal.

Padahal, belum mencoba bukan berarti tidak mampu.

5. Takut mengecewakan orang yang pendapatnya penting

Ada orang yang sebenarnya tidak terlalu takut terhadap kegagalan itu sendiri, tetapi sangat takut mengecewakan orang yang mereka sayangi.

Misalnya, takut mengecewakan orang tua jika nilainya tidak sesuai harapan, takut mengecewakan pasangan jika rencana tidak berhasil, atau takut membuat atasan kecewa ketika sebuah pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana.

Penelitian McGregor dan Elliot menemukan bahwa orang dengan tingkat fear of failure lebih tinggi mengalami rasa malu yang lebih besar setelah merasa gagal. Mereka juga melaporkan lebih kecil kemungkinan untuk menceritakan pengalaman kegagalan kepada orang tua dibandingkan menceritakan keberhasilan

6. Sengaja menurunkan ekspektasi orang lain

Bunda pernah mendengar orang yang sebelum melakukan sesuatu sudah bilang, "Kayaknya aku enggak bakal bisa deh"? Sekilas terdengar seperti rendah hati. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus setiap kali akan menghadapi sesuatu yang menantang, perilaku ini bisa menjadi cara untuk melindungi diri dari rasa malu jika benar-benar gagal.

Dengan menurunkan ekspektasi orang lain terlebih dahulu, seseorang merasa punya alasan jika hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Perilaku seperti ini dapat berkaitan dengan self-handicapping, yaitu ketika seseorang menciptakan atau menggunakan hambatan tertentu sehingga jika hasilnya buruk, ada alasan yang dapat melindungi harga dirinya.

7. Menunda sampai akhirnya kehabisan waktu

Ini salah satu ciri yang cukup mudah dikenali. Sudah tahu ada tugas yang harus diselesaikan, tetapi malah sibuk melakukan hal lain. Ketika waktu semakin sedikit, pekerjaan akhirnya tidak selesai maksimal.

Masalahnya, penundaan tersebut terkadang bukan karena malas. Ada kemungkinan seseorang sedang berusaha menghindari rasa tidak nyaman yang muncul ketika harus menghadapi tugas yang membuatnya takut gagal.

Penelitian pada 156 mahasiswa kedokteran menemukan bahwa fear of failure berperan sebagai mediator dalam hubungan antara perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri dan prokrastinasi akademik.

8. Tanpa sadar mencari alasan agar tidak maksimal

Orang yang takut gagal dapat melakukan self-handicapping, yaitu menciptakan atau menggunakan hambatan tertentu sehingga jika hasilnya buruk, ada alasan yang dapat menjelaskan kegagalan tersebut.

Contohnya, seseorang punya presentasi penting tetapi justru menghabiskan waktu untuk melakukan berbagai hal yang sebenarnya tidak mendesak. Ketika hasil presentasinya kurang baik, ia kemudian dapat berkata, "Aku memang nggak sempat latihan."

Penelitian terhadap mahasiswa menemukan bahwa tingkat fear of failure dapat memprediksi perilaku self-handicapping.

9. Memilih tidak mencoba sama sekali

Ini mungkin bentuk yang paling jelas. Daripada mencoba dan berhadapan dengan kemungkinan gagal, seseorang memilih tidak ikut, tidak mendaftar, tidak mengirimkan karya, tidak melamar pekerjaan, atau tidak memulai sesuatu yang sebenarnya diinginkan.

"Kalau aku enggak coba, aku enggak akan gagal."

Masalahnya, cara ini memang dapat membuat seseorang terhindar dari rasa kecewa untuk sementara. Namun, di saat yang sama, kesempatan untuk mengetahui kemampuan diri dan belajar dari pengalaman juga ikut hilang.

Pada kondisi yang cukup berat, ketakutan akan kegagalan dapat membuat seseorang sama sekali tidak mau mencoba karena ingin menghindari rasa sakit, malu, atau kecewa.

Kenapa seseorang bisa takut gagal?

Rasa takut terhadap kegagalan, yang dikenal sebagai atikifobia, sering kali berkaitan dengan rasa takut akan malu dan dapat membuat seseorang menghindari hal-hal yang sebenarnya ingin dilakukan. Rasa takut ini juga dapat disertai kecemasan dan respons emosional lainnya.

Setiap orang dapat memiliki faktor yang berbeda. Verywell Mind menyebut beberapa hal yang dapat berperan dalam munculnya rasa takut gagal, seperti pola asuh yang sangat kritis, standar diri yang terlalu tinggi, pengalaman kegagalan sebelumnya, perfeksionisme, serta kecemasan.

Cara seseorang mendefinisikan kegagalan juga berpengaruh, Bunda. Untuk satu orang, tidak memperoleh hasil sesuai rencana mungkin dianggap sebagai bagian dari proses. Sementara pada orang lain, hal yang sama bisa terasa seperti bukti bahwa dirinya tidak cukup pintar, tidak kompeten, atau mengecewakan orang lain.

Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara perfeksionisme, fear of failure, dan respons emosional terhadap kegagalan. Pada penelitian terhadap atlet, kekhawatiran terhadap kesalahan dan tekanan dari orang tua berkaitan dengan rasa takut mengalami malu atau dipermalukan setelah gagal.

Takut gagal tidak selalu berarti seseorang tidak percaya diri

Menariknya, orang yang takut gagal tidak selalu terlihat sebagai orang yang tidak punya ambisi. Sebaliknya, mereka bisa saja memiliki keinginan berprestasi yang sangat besar.

Justru karena hasil dianggap sangat penting untuk harga dirinya, kegagalan menjadi sesuatu yang terasa mengancam.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang terlalu mengaitkan harga dirinya dengan pencapaian tertentu, kegagalan dapat memberikan dampak emosional yang lebih besar.

Jadi, seseorang bisa terlihat sangat ingin sukses sekaligus sangat takut gagal.

Bagaimana cara mengatasi rasa takut gagal?

Menurut Psychology Today, salah satu langkah awal adalah mengakui bahwa rasa takut tersebut memang ada, kemudian membicarakannya dengan orang yang dipercaya.

Dengan mengungkapkan rasa takut, seseorang bisa lebih mudah menyadari bahwa yang sedang dihadapi bukan hanya 'takut gagal', tetapi bisa juga rasa malu, takut mengecewakan orang lain, atau takut dianggap tidak mampu.

Langkah berikutnya adalah memusatkan perhatian pada hal-hal yang memang berada dalam kendali.

Misalnya, Bunda tidak bisa mengendalikan apakah lamaran pekerjaan akan diterima. Namun, Bunda bisa mengendalikan persiapan CV dengan sebaik-baiknya, mencari informasi tentang perusahaan, berlatih wawancara, dan mengirimkan lamaran.

Bunda juga dapat mencoba mengubah definisi kegagalan. Tidak berhasil mencapai hasil yang diinginkan bukan selalu berarti seluruh usaha sia-sia. Dari sebuah percobaan, seseorang tetap bisa mendapatkan pengalaman, informasi, dan keterampilan baru.

Jika ketakutan terasa sangat kuat dan sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu mencari tahu apa yang sebenarnya berada di balik rasa takut tersebut.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda