moms-life
Kisah Pertani Temukan Emas 16 Kg di Sawah
HaiBunda
Jumat, 02 Oct 2026 16:25 WIB
Kabar petani yang temukan emas seberat 16 kg di sawah pernah membuat masyarakat gempar. Emas 16 kg tersebut ditemukan oleh petani bernama Cipto Suwarno.Â
Kisah penemuan emas oleh Cipto Suwarno terjadi pada tahun 1990. Kala itu ia sedang menggarap sawahnya. Pekerjaan tersebut ia jalani selama lebih sepekan. Berbekal cangkul berukuran sedang, Suwarno mencangkul tanah dari pagi hingga matahari terbenam.
Sudah tak terhitung luas tanah yang digarap Suwarno, ia hanya ingin air irigasi bisa masuk ke lahan sawahnya. Apalagi proyek yang dibangun di sekitar sawah merusak kontur lahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, peristiwa tak terduga terjadi pada 17 Oktober 1990. Saat itu Cipto telah menggali tanah sedalam 2,5 meter. Cangkulnya menyentuh benda keras yang ia duga adalah batu. Namun, ketika benda keras itu diangkat, Suwarno terkejut bahwa ternyata benda tersebut ternyata sebuah guci keramik.
Warga sekitar pun mulai ramai berdatangan untuk melihat secara langsung benda yang ditemukan Suwarno, termasuk para pejabat desa. Suwarno lanjut menggali tanah dan pada momen itulah ia menemukan harta karun emas 16 kg.
Lebih dari itu, ditemukan berbagai benda lain yang tampaknya bukan berasal dari peralatan zaman kini. "Jika dirinci, barang temuan tadi terdiri dari bokor gembung, 6 tutup bokor, 3 gayung, 1 baki, 97 gelang, 22 mangkuk, pipa rokok, guci besar, 2 guci kecil, 11 cincin, 7 piring, 8 subang, tas tangan, keris, manik-manik, dan uang logam," seperti dikutip CNBC Indonesia.
Temuan Suwarno tersebut dicatat sejarah sebagai Harta Karun Wonoboyo. Harta Karun in juga dianggap sebagai temuan arkeologi berupa emas terbesar sepanjang sejarah. Harta karun Wonoboyo kemudian disimpan di Museum Nasional, Jakarta.
Setelah diteliti oleh para arkeolog, harta karun itu berasal dari akhir abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-10. Hal ini diketahui dari bentuk temuan emas yang sesuai dengan zamannya. Selain itu, dalam mangkuk emas ada relief Ramayana. Lalu, di koin emas terdapat tulisan Saragi Diah Bunga.
Selain mengidentifikasi asal harta karun tersebut, temuan harta ini juga dapat menjadi indikasi gaya hidup orang-orang Jawa pada masa kerajaan kuno abad ke-9 dan 10 yang gemar memakai emas. Hobi ini tidak hanya digandrungi bangsawan, tetapi juga rakyat biasa.
Dikutip laman CNBC Indonesia, dahulu emas bernilai murah dan mudah didapat. Dalam berbagai catatan tentang zaman Majapahit (1293-1527 M), ditemukan riwayat kepemilikan emas dalam jumlah besar oleh para bangsawan. Hal yang sangat lumrah apabila melihat berbagai benda dilapisi oleh emas, mulai dari kereta hingga kipas.Â
Kebiasaan serupa juga ditemukan di kerajaan Daha yang berada di garis zaman yang sama dengan Majapahit. Profesor Stuart Robson dalam Desawarna karya Mpu Prapanca (1995) memaparkan bahwa putri dari Raja Daha kerap menggunakan kereta berlapis emas.Â
Dalam buku Menuju Puncak Kemegahan yang ditulis Arkeolog Slamet Mulyana, dijelaskan bagaimana emas menjadi komoditas idaman di era Majapahit seperti yang ditulis oleh Empu Prapanca dalam Nagarakertagama. "Ia ingin sama dengan empu Winada yang bercita-cita mengumpulkan banyak uang dan emas," tulis Prapanca, ditulis ulang oleh Slamet Mulyana.
Koleksi emas yang dilakukan pada abad tersebut tidak hanya dilakukan untuk tujuan estetika saja, Bunda. Emas juga digunakan sebagai transaksi perdagangan.
Erwin Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya menjelaskan masyarakat Jawa kuno sering menggunakan emas dalam transaksi perdagangan dengan skala besar, seperti jual-beli tanah.
Kekayaan alam Indonesia berupa emas ini juga menarik perhatian penjelajah asing. Merujuk buku Nusantara dalam Catatan Tionghoa, penjelajah China sempat dibuat takjub dengan gaya hidup para raja Jawa yang erat dengan penggunaan emas. Bahkan, untuk makan saja para raja menggunakan peralatan berbahan emas.
Dalam catatan Suma Oriental, penjelajah Eropa Tome Pires yang mengunjungi Jawa tahun 1513 melihat raja Jawa yang sangat kaya. Ia mencatat bahwa penampilan para raja menggunakan emas dari atas sampai bawah. Bahkan, para pengawal dan anjing peliharaan juga memakai kalung dan gelang emas.Â
Meskipun penggunaan emas masif, tetapi emas tidak didapat di Pula Jawa. Untuk memperoleh emas, biasanya para penduduk mengimpor dari Sumatera atau India.
Mulai terjadi perubahan pola penggunaan emas setelah runtuhnya kerajaan kuno dan kemunculan kolonialisme. Di titik perhiasan emas kemudian menjadi harta karun terpendam. Barang itu tertimbun di bawah tanah antah berantah yang terus menjadi objek pemburu harta karun.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Investasi Emas VS Properti, Mana yang Lebih Cuan?
Mom's Life
Istri Jago Menyimpan Uang, Narji Jadi Juragan Tanah dan Punya Tabungan Emas
Mom's Life
Modal Biaya Nikah Pakai Emas? Begini Tipsnya
Mom's Life
Indonesia Punya Tanaman Penghasil Emas 5 Gram, Begini Bentuk & Prosesnya Bun
Mom's Life
Harga Emas Semakin Jatuh, Ini Rinciannya Bun
7 Foto
Mom's Life
7 Potret Bunda Seleb dengan Koleksi Boneka Labubu, Cathy Sharon hingga Ayu Dewi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Rumah Unik di Polandia, Bangunannya Tampak seperti Meleleh
Sapi Chianina Terbesar di Dunia Ternyata Dibudidayakan di Peternakan Kecil Ini
Rumah Gelembung dari Balon Raksasa Ini Dijual Rp31 Miliar, Kisah Pemiliknya Jadi Sorotan