moms-life
9 Ucapan Suami Egois yang Terlihat Biasa, tapi Bikin Istri Merasa Tak Dihargai
HaiBunda
Minggu, 27 Sep 2026 20:30 WIB
Daftar Isi
-
Ucapan suami egois yang bikin istri merasa tak dihargai
- 1. "Itu bukan masalah besar"
- 2. "Kamu berlebihan"
- 3. "Aku juga kerja keras, lho"
- 4. "Kenapa kamu selalu emosional?"
- 5. "Kamu cuma mau cari ribut"
- 6. "Aku enggak pernah minta kamu melakukan itu"
- 7. "Aku berhak santai setelah pulang kerja"
- 8. "Kamu beruntung aku mau membantu"
- 9. "Kamu sudah enggak seperti dahulu"
- Cara menghadapi suami yang bersikap egois
Suami yang egois bisa terlihat dari ucapannya. Mari simak ucapan suami egois yang terlihat biasa namun bikin istri merasa tak dihargai beserta cara Bunda menghadapinya.
Dalam kehidupan pernikahan, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Perselisihan kecil pun terkadang dapat berkembang menjadi pertengkaran besar, terutama ketika pasangan sedang sama-sama lelah atau menyimpan kekecewaan.
Pada kondisi seperti ini, kalimat yang sebenarnya terdengar sederhana bisa meninggalkan luka jika terus diucapkan. Ucapan tertentu bahkan dapat membuat istri merasa emosinya tidak dianggap, usaha yang dilakukan tak dihargai, atau tanggung jawab dalam rumah tangga hanya menjadi kewajibannya seorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih jika perkataan tersebut berulang kali muncul ketika pasangan sedang berusaha menyampaikan perasaan atau meminta bantuan. Sejumlah psikolog dan pakar hubungan menjelaskan bahwa cara pasangan merespons emosi, pekerjaan rumah, hingga perubahan dalam diri satu sama lain berpengaruh terhadap kualitas hubungan.
Ucapan suami egois yang bikin istri merasa tak dihargai
Mengutip Your Tango, berikut beberapa ucapan suami yang sekilas terdengar biasa, tapi berpotensi membuat istri merasa tidak dihargai.
1. "Itu bukan masalah besar"
Ketika istri menyampaikan sesuatu yang membuatnya kesal atau kecewa, suami mungkin merasa persoalan tersebut sebenarnya sepele. Namun mengatakan "itu bukan masalah besar" bisa membuat istri merasa perasaannya tidak penting.
Misalnya saja, ketika suami lupa melakukan sesuatu yang sudah berulang kali diminta atau tidak mengingat rencana penting bagi keluarga. Psikoterapis Moshe Ratson menjelaskan bahwa mengabaikan atau menihilkan emosi pasangan dapat berdampak buruk terhadap hubungan.
Menurutnya, invalidation sangat merusak hubungan romantis karena rasa aman secara emosional dan saling menghormati merupakan bagian penting dalam mempertahankan hubungan jangka panjang. Jika terjadi berulang, Bunda dapat merasa tak penting, tidak terlihat, bahkan tak dicintai. Kondisi tersebut lama-kelamaan bisa memunculkan rasa kesal dan mengikis kedekatan pasangan.
2. "Kamu berlebihan"
Kalimat "kamu berlebihan" sering kali muncul ketika suami tidak memahami mengapa istrinya memberikan respon tertentu terhadap sebuah persoalan. Dibanding membicarakan penyebab masalah, perhatian justru beralih pada reaksi istri.
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam merasakan dan mengekspresikan emosi. Untuk itu, respon Bunda tidak semestinya langsung dianggap berlebihan hanya karena suami melihat persoalan tersebut secara berbeda.
3. "Aku juga kerja keras, lho"
Ucapan ini sering muncul ketika istri mengeluhkan kelelahan atau meminta bantuan mengurus rumah. Suami mungkin merasa pekerjaan di luar rumah cukup menguras tenaga sehingga pekerjaan domestik seharusnya lebih banyak ditangani oleh pasangan.
Padahal pekerjaan rumah tangga juga membutuhkan tenaga, waktu, dan perhatian. Mulai dari mencuci pakaian, menyiapkan makanan, mengurus anak, hingga mengingat berbagai kebutuhan keluarga merupakan pekerjaan yang tidak selalu terlihat.
"Kebutuhan untuk terus menunjukkan nilai diri atau dominasi dapat menciptakan ketegangan dan rasa tidak percaya yang perlahan mengikis rasa saling menghormati dan memahami dalam hubungan," kata psikolog Mark Travers, PhD.
4. "Kenapa kamu selalu emosional?"
Setiap orang mempunyai tingkat sensitivitas dan cara yang berbeda dalam menghadapi persoalan. Oleh karena itu, ketika istri sedang rentan secara emosional, kritik seperti "kamu terlalu emosional" justru dapat membuatnya memilih memendam perasaan.
5. "Kamu cuma mau cari ribut"
Ketika istri mencoba membicarakan perilaku suami yang membuatnya terluka, respon seperti ini dapat membuat pembicaraan langsung berhenti. Masalah yang seharusnya dibahas justru dianggap sebagai upaya mencari pertengkaran.
Padahal membicarakan persoalan dalam pernikahan tidak selalu berarti ingin bertengkar. Komunikasi yang terbuka justru dapat membantu pasangan memahami sumber masalah sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
"Komunikasi merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat karena memungkinkan seseorang berbagi, belajar, merespon, dan membangun ikatan yang bertahan lama," ujar Kendra Cherry, selaku pengajar psikologi.Â
6. "Aku enggak pernah minta kamu melakukan itu"
Ucapan tersebut mungkin benar secara harfiah, namun dapat terasa menyakitkan ketika istri sebenarnya hanya mengharapkan apresiasi atas sesuatu yang dilakukannya dengan tulus. Dalam rumah tangga, Bunda sering melakukan berbagai hal bukan karena diminta, melainkan karena ingin membuat pasangan atau keluarga merasa nyaman.
Misalnya saja, istri menyiapkan makanan kesukaan suami, mengurus kebutuhan keluarga, atau mendukung keputusan besar yang diambil bersama. Tidak selalu diperlukan balasan yang besar.
Ucapan sederhana seperti "terima kasih" atau menunjukkan penghargaan sudah dapat membuat usaha pasangan terasa berarti.
7. "Aku berhak santai setelah pulang kerja"
Suami yang bekerja di luar rumah mungkin merasa waktu istirahat setelah pulang merupakan haknya. Namun persoalannya muncul ketika waktu istirahat itu dianggap lebih penting daripada kebutuhan pasangan untuk mendapatkan jeda yang sama.
Istri yang berada di rumah sepanjang hari belum tentu sedang bersantai. Mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mengatur kebutuhan keluarga, dan memikirkan berbagai hal yang harus dilakukan juga dapat menguras energi.
Menganggap pasangan tidak bekerja hanya karena tak pergi ke kantor dapat membuat beban yang dipikulnya terasa tidak terlihat.
8. "Kamu beruntung aku mau membantu"
Pekerjaan rumah dan pengasuhan anak merupakan bagian dari kehidupan bersama, bukan semata-mata bantuan yang diberikan salah satu pasangan kepada pasangan lainnya. Oleh karena itu, menganggap diri 'berjasa' hanya karena mencuci piring sendiri atau membantu mengganti pakaian anak dapat menimbulkan kesan bahwa tanggung jawab keluarga seharusnya dibebankan kepada istri.
Pekerja sosial sekaligus penulis Robert Taibbi menjelaskan bahwa kerja sama dalam hubungan berarti pasangan menghadapi persoalan sebagai satu tim. Menurutnya, masalah seperti uang, anak, orang tua, tekanan waktu, maupun tekanan emosional dan finansial seharusnya dihadapi bersama.
9. "Kamu sudah enggak seperti dahulu"
Perubahan dalam diri seseorang merupakan bagian yang wajar dalam perjalanan pernikahan. Pengalaman hidup, bertambahnya usia, pekerjaan, menjadi orangtua, hingga berbagai persoalan yang dilewati bersama dapat membuat seseorang berkembang dan memiliki kebutuhan yang berbeda.
Ketika istri mulai lebih berani menyampaikan pendapat atau menetapkan batasan, mengatakan "kamu sudah enggak seperti dahulu" dapat terdengar seperti sebuah kritik terhadap perubahan tersebut. Padahal pasangan yang menikah bertahun-tahun tidak mungkin selalu menjadi pribadi yang sama seperti ketika pertama kali bertemu.
Cara menghadapi suami yang bersikap egois
Berikut cara menghadapi suami yang bersikap egois dikutip dari Marriage.
1. Alihkan sebagian perhatian ke diri sendiri
Ketika terlalu banyak energi diberikan kepada pasangan yang egois, Bunda bisa lupa memperhatikan kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, penting untuk kembali menyediakan waktu bagi diri sendiri, baik dengan melakukan hobi, beristirahat, maupun menjalani kegiatan yang membuat diri merasa nyaman.
Berikan perhatian kepada diri sendiri bukan berarti berhenti peduli terhadap pasangan. Justru menjaga kebutuhan pribadi dapat membantu Bunda memiliki energi emosional yang lebih sehat ketika menghadapi persoalan dalam hubungan.
2. Coba pahami akar perilakunya
Sikap egois bisa memiliki berbagai latar belakang. Pola tersebut mungkin terbentuk dari kebiasaan yang sudah lama, pengalaman dalam hubungan sebelumnya, atau cara seseorang belajar menghadapi masalah.
Untuk itu, memahami penyebabnya dapat membantu pasangan menentukan cara berkomunikasi yang lebih tepat. Namun memahami alasan di balik perilaku bukan berarti membenarkan perlakuan yang menyakitkan.
3. Terapkan sistem bergantian
Ketika pembicaraan mengenai egoisme terus berakhir menjadi perdebatan, Bunda dapat mencoba sistem bergantian. Misalnya saja, coba masing-masing mendapat kesempatan untuk berbicara tanpa dipotong, kemudian bergantian mendengarkan sebelum memberikan tanggapan.
Cara sederhana ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk ketika membahas pekerjaan rumah, pengasuhan anak, atau kebutuhan emosional. Dengan adanya kesempatan yang seimbang untuk berbicara dan mendengarkan, kedua pasangan dapat lebih jelas memahami apa yang sebenarnya diharapkan satu sama lain.
4. Ingat kembali nilai diri sendiri
Perlakuan pasangan yang terus-menerus mengabaikan kebutuhan dapat membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, penting kembali mengingat bahwa kebutuhan, perasaan, dan batasan pribadi juga memiliki nilai.
Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai dan bertemu dengan orang-orang yang memberikan dukungan positif. Punya kehidupan dan minat di luar hubungan juga dapat membantu seseorang tetap terhubung dengan dirinya sendiri.
5. Ingat keberhasilan yang dapat dicapai bersama
Jika sebelumnya pasangan pernah berhasil menyelesaikan masalah atau membuat perubahan tertentu, pengalaman tersebut dapat dijadikan titik awal untuk menghadapi persoalan yang sedang terjadi. Pembicaraan bisa diarahkan pada apa yang dulu berhasil dilakukan bersama.
Bukannya saling menyalahkan, Bunda dan suami dapat mengingat kembali bagaimana mereka pernah mencapai kompromi. Cara ini membantu percakapan berangkat dari pengalaman bahwa perubahan sebenarnya pernah terjadi, bukan sekadar mengungkit kesalahan masing-masing.
6. Tentukan batas yang tidak bisa dikompromikan
Tidak semua perilaku pasangan harus langsung dianggap sebagai masalah besar. Namun setiap orang tetap perlu mengetahui batas pribadi yang tidak ingin dilanggar dalam hubungan.
Cobalah membedakan antara kebiasaan yang masih dapat ditoleransi dan perilaku yang membuat diri terus-menerus merasa diabaikan. Jika pasangan berulang kali mengabaikan persoalan penting yang sedang disampaikan, hal tersebut perlu dibahas secara lebih serius dan tegas.
Menetapkan batas bukan berarti mengancam pasangan. Batas membantu kedua pihak memahami perilaku apa yang dapat diterima dan apa yang perlu diubah agar hubungan tetap berjalan dengan saling menghormati.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
11 Cara Membuat Pasangan Nyaman dan Merasa Dihargai
Mom's Life
Ini Alasan Utama Kenapa Tidak Boleh Menyayangi Anak Lebih dari Pasangan Menurut Pakar
Mom's Life
10 Hak dan Kewajiban Suami Terhadap Istri Menurut Islam, Beritahu Ayah Bun!
Mom's Life
7 Tanda Istri Kecewa dengan Sikap Suami dan Cara Mengatasinya
Mom's Life
10 Cara Bijak Menghadapi Suami yang Selalu Menyalahkan Istri
7 Foto
Mom's Life
7 Potret Mesra Melanie Putria dan Suami Dokter Ortopedi, Bikin Heboh Saat Dilamar di Helikopter
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Apakah Suami Istri Akan Berkumpul Kembali di Akhirat?
11 Ciri Pasangan Suportif yang Membuatmu Merasa Didengar, Dihargai, dan Dicintai
8 Cara Mengenali Suami Bahagia dari Kalimat yang Diucapkan Sehari-hari