moms-life
Kenali Ciri Orang Suka Playing Victim dari Kalimat yang Sering Diucapkan
HaiBunda
Jumat, 25 Sep 2026 14:25 WIB
Daftar Isi
-
11 Ciri orang playing victim dari kalimat yang digunakan
- 1. “Kamu bereaksi berlebihan”
- 2. “Aku sudah banyak berbuat untukmu, kenapa kamu malah fokus pada hal kecil ini?”
- 3. “Kamu persis seperti ibuku, dia bilang aku juga tidak bisa melakukan apa pun dengan benar”
- 4. “Tidak bisakah kamu melupakan saja?”
- 5. “Jika kamu tidak menyukainya, mengapa kamu masih di sini?”
- 6. “Baiklah, akulah masalahnya. Apakah itu yang ingin kamu dengar?”
- 7. “Menurutmu aku buruk? Orang lain jauh lebih buruk”
- 8. “Aku sudah minta maaf, apa lagi yang kamu mau?”
- 9. “Kamu hanya marah pada dia dan melampiaskannya padaku”
- 10. “Aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak melakukan hal lain ini”
- 11. “Aku tidak mengatakan apa pun ketika kamu melakukan hal yang sama”
Pola komunikasi seseorang terkadang dapat menunjukkan cara mereka menghadapi konflik. Salah satunya terlihat ketika seseorang selalu menempatkan diri sebagai korban setiap kali mendapat kritik atau diajak membahas masalah.
Orang yang gemar playing victim cenderung menghindari tanggung jawab dengan membalikkan keadaan, menyalahkan pihak lain, atau membuat lawan bicara merasa bersalah. Jika terus terjadi, pola tersebut dapat membuat komunikasi menjadi tidak sehat dan melelahkan.
Salah satu cara mengenalinya adalah memperhatikan ucapan yang muncul saat mereka merasa terpojok. Lantas, apa saja kalimat yang sering diucapkan orang yang playing victim? Yuk, simak selengkapnya berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
11 Ciri orang playing victim dari kalimat yang digunakan
Melansir dari Your Tango, berikut kumpulan kalimat yang mungkin digunakan oleh orang-orang yang suka playing victim:
1. “Kamu bereaksi berlebihan”
Kalimat ini terasa seperti penolakan langsung sambil menghindari masalah sebenarnya. Namun kenyataannya, emosi tidak selalu rasional, emosi itu nyata, dan perlu ruang untuk diakui.
Ketika seseorang mengatakan Bunda bereaksi berlebihan, itu lebih buruk daripada disuruh tetap tenang.
2. “Aku sudah banyak berbuat untukmu, kenapa kamu malah fokus pada hal kecil ini?”
Mereka mungkin mencoba membuat Bunda terlihat seperti orang jahat, seolah-olah menyadari satu hal yang mengganggu Bunda akan menghapus semua kebaikan yang telah Bunda lakukan.
Ini adalah upaya yang dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang ada saat ini dengan menyoroti hal-hal positif yang telah ia lakukan di masa lalu.
3. “Kamu persis seperti ibuku, dia bilang aku juga tidak bisa melakukan apa pun dengan benar”
Alasan ini memiliki tiga fungsi sekaligus. Pertama, mengalihkan kesalahan kepada orang lain dan membuat Bunda merasa kasihan. Kedua, mengalihkan kesalahan kepada Bunda karena dianggap mirip orang yang mereka sebut jahat. Ketiga, orang ini mungkin sedang memutarbalikkan kata-kata Bunda.
4. “Tidak bisakah kamu melupakan saja?”
Mengatakan hal ini seperti menekan tombol jeda pada emosi, mengharapkan semuanya akan lenyap begitu saja dengan lambaian tangan hanya karena mereka ingin Bunda melupakannya.
Rasanya seperti seseorang mencoba menyembunyikan masalah, berharap Bunda melupakannya dan melanjutkan hidup tanpa mendapatkan pemahaman atau solusi yang dibutuhkan.
5. “Jika kamu tidak menyukainya, mengapa kamu masih di sini?”
Orang ini sedang membangun tembok penghalang, mengubah percakapan dari kesempatan untuk memperbaiki keadaan menjadi sebuah tuduhan. Seolah-olah mereka mempertanyakan komitmen Bunda, alih-alih mengakui perasaan.
Pernyataan ini dapat membuat Bunda merasa terpojok, seolah-olah Bunda disalahkan karena tetap berada dalam situasi yang mengganggu.
6. “Baiklah, akulah masalahnya. Apakah itu yang ingin kamu dengar?”
Sekali lagi, ini adalah respons defensif yang dirancang untuk membuat Bunda merasa telah melakukan kesalahan, membuat Bunda merasa bertanggung jawab atas frustrasi seseorang, alih-alih mengatasi masalah yang sebenarnya.
Kata-kata ini dapat membuat Bunda seolah-olah memojokkan mereka, padahal yang Bunda inginkan hanya agar mereka mendengarkan dan memahami perasaan Bunda.
7. “Menurutmu aku buruk? Orang lain jauh lebih buruk”
Terlepas dari siapa yang mengatakannya, penting untuk tidak membiarkan mereka mengalihkan perhatian Bunda dari masalah utama yang diangkat.
Bukan soal menyalahkan, ini tentang kita saling memahami dengan lebih baik. Ini membantu menggeser narasi dari sikap defensif dan saling bermusuhan menjadi percakapan yang tulus, mengingatkan kalian berdua bahwa tujuan sebenarnya adalah koneksi, bukan konflik.
8. “Aku sudah minta maaf, apa lagi yang kamu mau?”
Permintaan maaf hanyalah langkah pertama, bukan garis finish. Ini bukan tentang menumpuk lebih banyak permintaan maaf, tetapi tentang merasa benar-benar dipahami dan mengetahui bahwa kedua pihak berkomitmen untuk berbuat lebih baik di lain waktu.
“Permintaan maaf yang efektif menggunakan validasi dan rasa ingin tahu untuk membangun kembali kepercayaan dan rasa aman dalam hubungan,” ujar Tasha Seiter MS, PhD, LMFT.
9. “Kamu hanya marah pada dia dan melampiaskannya padaku”
Ketika seseorang menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri, mereka akan mencari sasaran di mana saja untuk mengalihkan perhatian. Alih-alih bertanggung jawab, mereka malah bersikap defensif.
10. “Aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak melakukan hal lain ini”
Mereka mencoba menghindari tanggung jawab dengan membalikkan kesalahan. Alih-alih mengakui tindakannya, mereka malah menyoroti perilaku Bunda, seolah-olah reaksinya adalah reaksi berantai yang tak terhindarkan yang dipicu oleh sesuatu yang Bunda lakukan.
Ini seperti bermain permainan, ‘Siapa yang memulai?’ tetapi tidak ada yang benar-benar membahas masalah sebenarnya.
11. “Aku tidak mengatakan apa pun ketika kamu melakukan hal yang sama”
Ungkapan ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya. Orang playing victim menyalahkan orang lain atas masalahnya dan membawa percakapan masa lalu yang penuh kesalahpahaman.
Psikolog Tyler G. Okimoto, Ph.D., mengatakan untuk menyelesaikan konflik, lebih efektif untuk melihat ke masa depan daripada mengungkit masa lalu. Itu berarti mengatakan sesuatu seperti, “Mari kita lanjutkan percakapan ini di sini dan sekarang”.
Nah, itulah beberapa kalimat yang sering diucapkan oleh orang playing victim. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Kata-kata Bijak dalam Bahasa Inggris untuk Memotivasi Bunda
Mom's Life
11 Kalimat Khas Si Playing Victim, Kenali Sebelum Terkena Manipulasi
Mom's Life
10 Kalimat yang Biasa Diucapkan Orang yang Suka Playing Victim, Jangan Terkecoh
Mom's Life
50 Kata-Kata Bahasa Inggris Menyentuh Hati, Cocok untuk Caption Instagram
Mom's Life
35 Kata-Kata Bijak Kecewa pada Pasangan, Semangat Move On Bun
Mom's Life
50 Kata-Kata Bijak Tentang Hubungan Kakak Adik, Ungkapan Rasa Sayang
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ciri Kepribadian Orang yang Suka Playing Victim, Selalu Merasa Paling Tersakiti
10 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Manipulatif, Terdengar Manis tapi Penuh Maksud Tersembunyi
Ciri Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban dari Kalimat yang Diucapkan