Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

7 Kebiasaan Sehari-hari yang Jadi 'Biang Kerok' Risiko Stroke Menurut Pakar

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Senin, 05 Oct 2026 11:05 WIB

Ilustrasi duduk
Ilustrasi kebiasaan sehari-hari yang jadi 'biang kerok' risiko stroke menurut pakar /Foto: Getty Images/PeopleImages
Daftar Isi
Jakarta -

Stroke dapat terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, dan risikonya tidak hanya berkaitan dengan faktor kesehatan tertentu, Bunda.

Gaya hidup sehari-hari turut memengaruhi tekanan darah, kondisi pembuluh darah, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Sayangnya, dampak dari kebiasaan ini sering kali tidak terasa secara langsung.

Jika berlangsung terus-menerus selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, pengaruhnya dapat menumpuk dan meningkatkan risiko stroke.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Oleh karena itu, Bunda perlu mengetahui kebiasaan apa saja yang sebaiknya dihindari untuk mengurangi risiko stroke.

7 Kebiasaan sehari-hari yang jadi ‘biang kerok’ risiko stroke

Dilansir FUTURA Sciences, stroke sering kali terasa seperti kejadian ajak dan tak terduga, tetapi data klinis menunjukkan bahwa hal itu tidak demikian.

Menurut data global dari American Stroke Association, satu dari empat orang dewasa di atas usia 25 tahun akan menderita stroke selama hidupnya. Terlepas dari angka-angka tersebut, para peneliti memperkirakan bahwa modifikasi gaya hidup dapat mencegah hingga 80 persen kasus stroke.

Berikut beberapa kebiasaan sehari-hari yang dianggap sebagai ‘biang kerok’ penyakit stroke:

1. Duduk terlalu lama

Direktur bedah saraf endovaskular di Fakultas Kedokteran dari Tulane University, Dr. Arthur Wang, mengatakan gaya hidup kurang aktif merupakan salah satu faktor risiko terbesar untuk penyakit serebrovaskular.

“Aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga pembuluh darah kamu tetap bebas dari penyumbatan dengan mencegah penumpukan plak di arteri,” ujarnya.

Untuk mengatasi risiko duduk terlalu lama, Wang menyarankan untuk berolahraga sedang selama 30 menit sebanyak lima kali seminggu, dan mencatat bahwa berjalan kaki, bersepeda, dan berkebun semuanya termasuk dalam tujuan ini.

2. Tekanan darah yang tidak dipantau

Hipertensi atau tekanan darah tinggi membahayakan integritas pembuluh darah lebih dari variabel lainnya.

Penelitian klinis menunjukkan bahwa menurunkan tekanan darah sistolik hanya sebesar 10 mmHg dapat mengurangi risiko stroke secara keseluruhan sekitar 30 persen.

Karena tekanan darah tinggi biasanya berkembang tanpa gejala yang terlihat, pemeriksaan rutin tetap menjadi satu-satunya cara pasti untuk memantau kesehatan pembuluh darah Bunda.

3. Melewatkan pemeriksaan rutin

Pemeriksaan kesehatan rutin dapat mendeteksi perubahan fisiologis yang mendasari sebelum menyebabkan kerusakan sistemik.

Kondisi seperti hiperkolesterolemia (kolesterol tinggi), kadar glukosa darah tinggi, dan tekanan darah tinggi jarang menunjukkan gejala awal.

Evaluasi klinis rutin memungkinkan dokter untuk membangun profil risiko kardiovaskular yang komprehensif dan menyesuaikan strategi pencegahan dengan riwayat medis.

4. Merokok

Wang mengatakan merokok dapat menyebabkan pembuluh dara menyempit seiring waktu. Penyempitan ini pada akhirnya dapat menyebabkan penyumbatan aliran darah ke otak, yang persis seperti yang terjadi pada stroke.

5. Konsumsi alkohol berlebihan

Mengonsumsi alkohol secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko stroke sekaligus berkontribusi pada penyakit hati.

6. Keseimbangan nutrisi yang buruk

Pola makan yang tidak seimbang dan tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium mempercepat kerusakan arteri.

Memprioritaskan makanan utuh, buah-buahan, dan sayuran daripada daging merah dan makanan olahan memberikan dukungan mendasar yang dibutuhkan sistem pembuluh darah Bunda agar tetap tangguh.

7. Tidak patuh pada obat yang diresepkan dokter

Terapi pencegahan, seperti statin penurun kolesterol atau obat antihipertensi, memerlukan konsistensi yang ketat agar efektif.

Pasien sering kali melakukan kesalahan dengan melewatkan dosis hanya karena merasa sehat. Menghentikan pengobatan yang diresepkan tanpa berkonsultasi dengan dokter akan menghilangkan perlindungan kardiovaskular yang sangat penting.

Nah, itulah beberapa kebiasaan yang sebaiknya Bunda hindari karena dapat menjadi penyebab stroke. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda