Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Kisah Bunda Ikut Lomba Lari 3 Km Tanpa Alas Kaki demi Pelengkapan Sekolah

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Kamis, 24 Sep 2026 16:25 WIB

runnesr feet back race on asphalt action , background
Ilustrasi lari tanpa alas kaki / Foto: Getty Images/iStockphoto/summerphotos

Kisah inspiratif tentang perjuangan seorang Bunda yang satu ini datang dari negara India. Ramabai Ranvir, ibu tunggal berusia 47 tahun mengikuti lomba lari tanpa alas kaki untuk perlengkapan sekolah anak. 

Ramabai bukanlah atlet lari atau penggemar kegiatan lari. Ia adalah seorang Bunda yang rela menempuh lomba lari 3 km demi hadiah uang Rs3 ribu atau sekitar Rp559 ribu. Hadiah tersebut ia peruntukkan untuk membeli perlengkapan sekolah anaknya.

Meskipun tanpa persiapan atau latihan sebelumnya, Ramabai ikut rombongan calon peserta dari akademi Beed, tempat ia bekerja. Dikutip dari laman Times of India, Ramabai menjadi satu-satunya yang ikut lomba lari tanpa sepatu. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pada malam sebelumnya, putri bungsu Ramabai, Arti, sempat menelepon sang Bunda untuk meminta uang untuk makan dan tempat sewanya. Namun, Ramabai tidak punya uang dan ia melewati malam itu tanpa tidur.

Pada pagi harinya, Ramabai mendengar para pelatih akademi tempatnya bekerja sedang mengumpulkan calon peserta untuk kompetisi lari. Ia pun langsung memutuskan untuk ikut bergabung.

Hari itu ia berlomba menggunakan sandal. Ketika di tengah perlombaan, sandalnya sering tergelincir. Sehingga Ramaba memutuskan untuk melepas sandalnya dan memilih berlari tanpa alas kaki. Hasilnya, Ramaba berhasil memenangkan perlombaan lari kategori perempuan usia 30 - 60 tahun.

“Saya berlari seolah hidup saya bergantung padanya. Saya tidak tahu berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menempuh jarak itu. Saya hanya terinjak setelah melewati garis finis,” ungkap Ramabai kepada Times of India.

Motivasi Ramabai dalam menempuh jarak 3 km dalam lomba lari dengan penuh perjuangan itu semata-mata adalah anak-anaknya. “Saya sangat senang mereka memberi saya Rs5 ribu bukan Rs3 ribu. Saya membeli buku catatan dan pena untuk putri saya, Pooja. Sisa uang untuk Arti,” ujarnya.

Selama ini Ramaba bekerja di dapur Dnyandeep Academy. Setiap harinya ia membuat lebih dari 200 chapati per hari dengan gaji bulanan sebesar Rs9 ribu atau setara Rp1,6 juta. Setelah suaminya meninggal dunia pada tahun 2012, Ramaba menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai pendidikan kedua putrinya.

Putri sulung Ramabai, Pooja, juga turut ikut dalam lomba lari tersebut. Ia berhasil meraih juara kedua dan mendapat Rs2 ribu atau Rp372 ribu. Pooja mengaku ikut kompetisi ini untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.

Ramabai telah putus sekolah saat berusia 13 tahun. Ia ingin anak-anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik dari dirinya. "Saya percaya selama saya hidup, saya harus melakukan segala yang saya bisa untuk memberikan pendidikan yang baik kepada putri-putri saya," ucapnya.

Kisah menyentuh tentang perjuangan Ramabai ini telah menarik perhatian publik secara luas. Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, mengarahkan pejabat lokal untuk memberikan bantuan keuangan sebesar Rs50 ribu atau senilai Rp9 juta kepada Ramabai.

Namun, di sisi lain kisah perjuangan Ramabai ini membuat publik menyoroti peran pemerintah dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Mantan ketua University Grants Commission, Sukhadeo Thorat, mengungkapkan kisah Ramabai menunjukkan adanya permasalahan struktural yang lebih luas.

"Jika seorang perempuan terpaksa berjuang keras demi pendidikan putrinya, itu menunjukkan bahwa skema pendidikan pemerintah tidak menjangkau masyarakat dengan memadai," ujar Sukhadeo Thorat, dikutip BBC.

"Baik pemerintah pusat maupun negara bagian menjalankan berbagai skema. Masalahnya adalah implementasi masih lemah," sambungnya.

Bagi Ramabai, perdebatan tersebut adalah hal yang ia kesampingkan. Saat ini ia hanya ingin memastikan putri-putrinya memiliki masa depan yang lebih baik.

"Aku tidak ingin mereka mengalami kesulitan yang telah kuhadapi," katanya.

"Aku tidak ingin mereka berjuang melewati lumpur atau berjalan di bawah terik matahari dan hujan. Apapun yang telah saya alami, saya tidak ingin putri-putri saya menderita hal yang sama." 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda