Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Ciri Kepribadian Orang yang Memiliki kebiasaan Menggigit Kuku

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 05 Oct 2026 14:35 WIB

Ilustrasi Kebiasaan Gigit Kuku
Ilustrasi kebiasaan gigit kuku / Foto: Getty Images/iStockphoto/PeopleImages
Daftar Isi
Jakarta -

Banyak orang menganggap kebiasaan menggigit kuku sering sebagai hal yang buruk. Tak sedikit bahkan mengaitkannya dengan kondisi medis, Bunda.

Dilansir Times of India, perilaku menggigit kuku secara medis dikenal sebagai onychophagia, atau diakui oleh psikolog sebagai perilaku repetitif yang berfokus pada tubuh, yang terkait dengan pengaturan emosi, kebosanan, dan perfeksionisme. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini didasari oleh kondisi kesehatan mental.

Sebenarnya, alih-alih menjadi tanda kurangnya pengendalian diri, menggigit kuku sering kali memiliki tujuan psikologis. Kebiasaan ini dapat membantu orang mengatasi emosi yang tidak nyaman atau memuaskan dorongan yang mungkin bahkan tidak mereka sadari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ciri kepribadian orang yang suka menggigit kuku

Para psikolog mengatakan bahwa menggigit kuku jarang hanya berkaitan dengan kuku itu sendiri. Sebaliknya, itu seringkali merupakan perilaku otomatis yang membantu mengatur emosi atau meredakan ketegangan batin.

Menurut Hande Günal Okumuş and Devrim Akdemir di ulasan Body Focused Repetitive Behavior Disorders: Behavioral Models and Neurobiological Mechanisms, menggigit kuku diklasifikasikan sebagai perilaku berulang yang berfokus pada tubuh, yaitu sekelompok perilaku yang juga mencakup menarik rambut dan menggaruk kulit.

Tindakan berulang ini sering terjadi tanpa kesadaran dan dapat memberikan kelegaan sementara dari kebosanan, frustrasi, atau ketidaknyamanan emosional. Bertentangan dengan kepercayaan umum, kecemasan tidak selalu menjadi pemicu utama.

Banyak orang menggigit kuku saat berkonsentrasi, menonton televisi, membaca, atau mengerjakan tugas-tugas sulit. Sementara yang lain melakukannya ketika mereka melihat ujung yang kasar atau kuku yang tidak rata sehingga merasa terdorong untuk 'memperbaikinya'.

Para peneliti percaya bahwa perilaku tersebut menjadi semakin kuat karena memberikan rasa puas atau lega sesaat, yang mendorong otak untuk mengulanginya setiap kali situasi serupa muncul.

Penelitian tentang kebiasaan menggigit kuku

Salah satu tinjauan paling komprehensif tentang kebiasaan menggigit kuku pernah dilakukan oleh Dr. Ahmad Ghanizadeh dari Shiraz University of Medical Sciences. Dalam studi yang dilakukan Ghanizadeh dan diterbitkan dalam Iranian Journal of Medical Sciences menyimpulkan bahwa kebiasaan menggigit kuku jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan buruk dan sering terjadi bersamaan dengan kondisi psikologis atau perilaku lainnya.

Tinjauan tersebut menemukan bahwa lebih dari 80 persen anak-anak yang diperiksa di klinik karena kebiasaan menggigit kuku juga memiliki setidaknya satu gangguan kejiwaan atau perilaku yang menyertainya. Meski begitu, penulis menekankan bahwa kebiasaan menggigit kuku tidak boleh dianggap sebagai perilaku terisolasi, tetapi sebagai gejala yang mungkin memiliki penyebab emosional atau psikologis yang mendasarinya.

Penelitian ini juga menantang salah satu pendekatan pengasuhan yang paling umum. Menurut tinjauan Ghanizadeh, hukuman dan kritik berulang umumnya tidak efektif dan bahkan dapat memperburuk perilaku dengan meningkatkan frustrasi atau tekanan emosional.

Teori-teori sebelumnya menyatakan bahwa orang menggigit kuku terutama karena mereka cemas. Penelitian psikologis yang lebih baru memberikan gambaran yang lebih bernuansa.

Menurut ulasan di News Medical, kebiasaan menggigit kuku sering dikaitkan dengan kebosanan, frustrasi, perfeksionisme, dan pengaturan emosi, bukan hanya kecemasan semata.

Sebagian orang menggigit kuku tanpa sadar saat sedang berkonsentrasi karena gerakan berulang tersebut memberikan stimulasi sensorik. Sedangkan yang lain didorong oleh kecenderungan perfeksionis, merasa terdorong untuk 'menghaluskan' ketidaksempurnaan terkecil pada kuku hingga akhirnya rusak.

Anak-anak juga dapat mengembangkan kebiasaan ini melalui imitasi, meniru orang tua atau saudara kandung yang menggigit kuku mereka sendiri. Seiring waktu, apa yang awalnya merupakan perilaku sesekali dapat menjadi kebiasaan otomatis yang dilakukan otak tanpa kesadaran.

Apakah kebiasaan menggigit kuku bisa berdampak pada kesehatan?

Menggigit kuku sesekali kemungkinan besar tidak akan menyebabkan bahaya serius. Tetapi, kebiasaan menggigit kuku kronis dapat memiliki beberapa konsekuensi fisik dan psikologis, Bunda.

Kebiasaan menggigit kuku berulang kali bisa merusak kulit di sekitar kuku, meningkatkan risiko infeksi bakteri dan jamur, dan dalam kasus yang parah, dapat memengaruhi pertumbuhan kuku secara permanen. Para dokter gigi juga mengaitkan kebiasaan menggigit kuku dalam jangka panjang dengan gigi yang retak, pengikisan enamel, dan masalah rahang.

Dampaknya juga tidak hanya fisik. Banyak orang yang suka menggigit kuku melaporkan rasa malu tentang penampilan tangan mereka, yang menyebabkan mereka menyembunyikan jari-jari selama interaksi sosial atau menghindari aktivitas di mana kuku mereka terlihat.

Demikian penjelasan terkait kebiasaan menggigit kuku dan dampaknya pada kesehatan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda