Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Beras Fortifikasi Abal-abal: Daftar Merek Diduga Bermasalah & Dampaknya bagi Konsumen

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 16 Sep 2026 12:00 WIB

Ilustrasi Beras
Ilustrasi beras / Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Produk beras fortifikasi abal-abal ditemukan di pasaran, Bunda. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, mengungkap adanya sejumlah beras yang diklaim sebagai produk fortifikasi, namun tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah.

Beras-beras tersebut bahkan dijual dengan harga jauh di atas harga yang normal, Bunda. Potensi kerugian dari praktik beras fortifikasi 'abal-abal' ini diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah.

Fakta beras fortifikasi abal-abal

Melansir dari beberapa sumber, berikut fakta beras fortifikasi abal-abal dan dampaknya bagi konsumen:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. 25 merek beras dinyatakan tidak memenuhi syarat

Dari hasil pemeriksaan di laboratorium, 25 dari 27 merek beras fortifikasi dinyatakan tidak memenuhi syarat, Bunda. Sementara dua merek lainnya memenuhi standar.

Dilansir laman detikcom dan CNBC Indonesia, ketidaksesuaian ini berkaitan dengan kandungan gizi pada beras yang ditemukan tidak sesuai dengan klaim produsen. Pemerintah juga menemukan kandungan beras tidak sesuai dengan klaim fortifikasi pada label.

"Ada dugaan beralih dari premium ke fortifikasi. Katanya fortifikasi. Setelah kita cek di lab, ada empat lab kredibel, kita cek ternyata tidak sesuai dengan labelnya," ujar Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

2. Harga jual tidak wajar

Beras fortifikasi abal-abal bukan hanya tidak sesuai standar, tapi juga dijual dengan harga tidak wajar. Misalnya, beras dengan merek dagang berinisial WFO yang dijual hingga Rp57.600 per kilogram (kg). Padahal, harga wajarnya hanya sekitar Rp13.500 per kg.

Menurut Amran, selisih harga tersebut bisa menjurus ke dugaan penipuan. Bahkan, jika dihitung dalam satu truk berisi 10 ton beras, selisih harga bisa mencapai sekitar Rp44 juta.

"Ini Rp57.000 (per kg) harusnya Rp13.000 (per kg) harganya. Untungnya Rp44.100 per kg. Kalau 1 truk 10 ton itu Rp44 juta. Memang menggiurkan. Nah, ini tidak boleh. Kita sudah operasi pasar untuk menekan harga, ternyata ada juga penyimpangan di dalam," ungkapnya.

3. Daftar merek beras fortifikasi abal-abal

Dalam paparannya ke media, Amran mengungkap 25 daftar beras fortifikasi yang diduga melakukan penipuan. Berikut daftarnya:

  1. Idola Fortifikasi
  2. Idola High Quality Whole Grain Rice
  3. Idola Long Grain Rice
  4. Ikan Mas Cupang
  5. AAA Wijaya Kusuma
  6. Cantik Manis
  7. Penari Bangkok
  8. Topi Koki Short Grain
  9. Topi Koki Setra Royale
  10. Topi Koki Long Grain Crystal
  11. HOK-1 Gohan
  12. Maknyuss Pulen Gizi
  13. Anak Raja Fortifikasi
  14. Anak Raja Nusantara
  15. Top Anak Raja
  16. PMS Induk Ayam
  17. Sumo
  18. Rasvit
  19. FS Nutri Rice
  20. Pelikan
  21. Rice Rojolele
  22. Super Kepala Beras Premium 111
  23. 111 Golden Number
  24. Putri Koki
  25. Wellfarm Beras Diabet

Dikutip dari CNN Indonesia, Amran mengungkap sekitar 80 persen beras fortifikasi yang telah terdaftar diduga tidak memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah. Berdasarkan hasil pengujian awal Kementerian Pertanian, temuan tersebut diperkirakan berpotensi menimbulkan kerugian masyarakat hingga Rp71 triliun.

4. Apa itu beras fortifikasi?

Beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tambahan. Kandungan yang umum ditambahkan ke beras ini meliputi vitamin A, B1, B3, B12, asam folat, zat besi, dan zinc.

Penambahan nutrisi bertujuan agar nasi yang dikonsumsi tidak hanya jadi sumber karbohidrat, tetapi juga bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi mikro. Di Indonesia, beras fortifikasi telah beberapa kali digunakan dalam program bantuan pangan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat berpenghasilan rendah.

Masalah terkait beras fortifikasi menjadi serius karena produk tersebut banyak ditujukan untuk kelompok masyarakat rentan, seperti masyarakat miskin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan kelompok yang mengalami stunting. Dampak dari fortifikasi abal-abal tak hanya merugikan masyarakat secara finansial, tapi juga pemenuhan gizi yang diklaim dalam setiap produk.

"Fortifikasi ini adalah untuk stunting, orang miskin, ibu hamil, menyusui, balita, bukan untuk penipuan oleh oknum, pemburu rente. Ini harus tegas," ujar Amran.

5. Standar beras fortifikasi menurut SNI

Menurut Kementan, beras fortifikasi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan. Bahan fortifikasi ini wajib mengandung vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng dengan kadar tertentu.

Sementara di SNI 9372:2025 mengatur kandungan gizi beras fortifikasi per 100 gram beras. Standar itu mensyaratkan adanya kandungan vitamin B1 minimal 0,25 miligram (mg), asam folat 0,25-0,38 mg, vitamin B12 1,0-1,5 mikrogram (mcg), zat besi 3,50-5,25 mg, serta seng 3,0-4,5 mg.

Pencampuran kernel fortifikan ke dalam beras sosoh juga diwajibkan memiliki rasio minimal 1 persen dan memenuhi persyaratan homogenitas.

Demikian fakta terkait berat fortifikasi abal-abal yang ditemukan pemerintah dalam produk yang beredar di pasaran. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda