Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

11 Karakter Karyawan yang Makin Dicari Perusahaan di Tengah Gempuran AI

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Selasa, 15 Sep 2026 20:40 WIB

Business woman working in the office
Ilustrasi karakter karyawan yang makin dicari perusahaan di tengah gempuran AI / Foto: Getty Images/migimigi
Daftar Isi

Bunda atau anak sedang cari kerja? Tidak sekadar pintar, kenali karakter karyawan yang semakin dicari perusahaan di tengah gempuran AI.

Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai mengubah banyak hal di dunia kerja, termasuk cara perusahaan menentukan kandidat yang ingin direkrut. Kemampuan teknis dan pengalaman tetap menjadi pertimbangan, namun sejumlah karakter personal kini dinilai semakin penting.

Di tengah pekerjaan rutin yang mulai dapat dikerjakan teknologi AI, perusahaan justru membutuhkan karyawan yang mampu beradaptasi ketika menghadapi situasi yang tidak memiliki panduan jelas. Kemampuan berkomunikasi, menerima masukan, bekerja sama, hingga berani mengajukan pertanyaan yang tepat menjadi kualitas yang semakin diperhatikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Fenomena ini bahkan memunculkan istilah personality hire, yakni sebutan bagi pekerja yang dianggap membawa nilai besar melalui kepribadian, kemampuan berinteraksi, dan kontribusinya terhadap suasana kerja. Menurut pakar performa di tempat kerja Henna Pryor, ada sejumlah karakter yang kini mendapatkan nilai lebih dalam proses perekrutan. 

Karakter seperti apa yang makin dicari perusahaan di tengah gempuran AI? 

Karakter karyawan yang makin dicari perusahaan

Mengutip dari Market Watch, berikut karakter karyawan yang semakin dicari oleh perusahaan.

1. Mudah menerima masukan

Kemampuan menerima kritik dan masukan menjadi salah satu kualitas yang dinilai penting. Seorang karyawan tidak harus selalu mengetahui semua hal sejak awal, tapi perlu menunjukkan kemauan untuk belajar ketika mendapatkan arahan dari atasan maupun rekan kerja.

Pryor menyebut coachability sebagai salah satu perilaku yang kini semakin berharga. Jadi, seseorang mampu menerima feedback, mengolahnya, lalu menggunakan masukan tersebut untuk memperbaiki cara bekerja.

2. Punya rasa ingin tahu

Rasa penasaran terhadap sesuatu juga dapat menjadi nilai tambah bagi pencari kerja. Ketika teknologi dan pola kerja berubah cepat, perusahaan membutuhkan orang yang tidak berhenti belajar hanya karena sudah menguasai tugas tertentu.

Bagi pekerja pemula, rasa ingin tahu bahkan bisa menjadi bekal untuk berkembang dalam karier. Menurut technical recruiter Farah Sharghi, posisi pemula memang seharusnya memberi ruang bagi seseorang untuk menunjukkan rasa ingin tahu dan keinginan berkembang.

3. Mampu beradaptasi

Tidak semua persoalan di tempat kerja memiliki prosedur yang bisa langsung diikuti. Oleh karena itu, kemampuan menghadapi kondisi baru tanpa selalu menunggu instruksi terperinci menjadi semakin dibutuhkan.

Pryor mengatakan perusahaan ingin melihat bagaimana seseorang bertindak ketika tidak ada panduan. Karyawan yang fleksibel, mudah menyesuaikan diri, dan mampu mengambil keputusan dengan pertimbangan baik dapat menjadi aset ketika perusahaan menghadapi perubahan teknologi.

4. Berani bertanya dengan tepat

Di era ketika informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui AI, kemampuan mengajukan pertanyaan yang berkualitas justru menjadi pembeda. Bukan sekadar banyak bertanya, melainkan mampu memahami persoalan dan menentukan informasi apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Pryor menggambarkan hal tersebut dengan pertanyaan, “Akankah orang ini mengajukan pertanyaan yang bermanfaat?” 

Menurutnya, perusahaan ingin mengetahui apakah seorang kandidat dapat membaca situasi, mengajukan pertanyaan yang berguna, serta memahami kapan harus mencari penjelasan lebih lanjut.

5. Jadi pendengar yang aktif

Kemampuan mendengarkan dengan baik juga tidak kalah penting. Seorang karyawan yang mampu memahami lawan bicara cenderung lebih mudah menangkap instruksi, menyerap ide, dan menghindari kesalahpahaman dalam pekerjaan.

Kualitas ini semakin relevan ketika perusahaan membutuhkan orang yang dapat menyampaikan gagasan sekaligus memahami perspektif orang lain. Dalam proses perekrutan, kemampuan menjadi pendengar aktif atau lawan bicara yang menyenangkan dapat menjadi nilai tambah, terutama untuk pekerjaan yang mengandalkan kolaborasi.

6. Mampu memperbaiki kesalahan

Kesalahan dalam pekerjaan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi, terutama ketika seseorang menghadapi tugas atau situasi baru. Yang kemudian dinilai bagaimana karyawan merespon setelah melakukan kesalahan tersebut.

Pryor memasukkan kemampuan memperbaiki sebuah kesalahan sebagai salah satu karakter yang penting. Karyawan yang tidak berlarut-larut dalam kegagalan, mau bertanggung jawab, dan berusaha memperbaiki keadaan dinilai lebih siap menghadapi ketidakpastian di dunia kerja.

7. Menyenangkan diajak kerja sama

Istilah personality hire sering kali disalahartikan sebagai seseorang yang direkrut hanya karena memiliki kepribadian menarik meski tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan. Padahal maknanya dapat lebih luas, terutama mengenai bagaimana seseorang memberikan kontribusi terhadap lingkungan kerja.

8. Punya empati

Salah satu karakter yang tidak selalu mudah dibentuk adalah sikap mudah bekerja sama atau agreeableness. Sifat ini berkaitan dengan kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang orang lain serta mempertimbangkan dampak tindakan terhadap mereka.

Penulis Olga Khazan dalam bukunya Me, But Better: The Science and Promise of Personality Change mengeksplorasi perubahan kepribadian menggunakan model Big Five. Salah satu aspek yang ia coba tingkatkan adalah agreeableness.

Menurut Khazan, lebih mudah bekerja sama butuh kemampuan untuk tidak selalu menempatkan diri sendiri sebagai pusat perhatian dan mencoba memahami alasan di balik tindakan orang lain. Sebuah penelitian pada 2022 juga mengeksplorasi kaitan antara peningkatan agreeableness dengan berkurangnya karakter yang termasuk dalam dark triad, yakni machiavellianism, narsisme, dan psikopati.

Studi tersebut menemukan bahwa melakukan kebaikan untuk teman atau mencoba melihat sesuatu dari perspektif orang lain dapat meningkatkan sikap agreeableness.

9. Bisa diandalkan

Ketika perusahaan menghadapi perubahan teknologi, mereka tetap membutuhkan karyawan yang bisa dipercaya untuk menjalankan tanggung jawabnya. Kemampuan teknis saja tidak cukup jika seseorang sulit memenuhi komitmen atau tidak konsisten dalam bekerja.

Pryor memasukkan reliabilitas atau sikap dapat diandalkan sebagai salah satu karakter penting. Karyawan yang bisa menyelesaikan tanggung jawab, berkomunikasi ketika mengalami kendala, dan tetap dapat diandalkan dalam situasi yang berubah akan lebih mudah dipercaya oleh tim.

10. Bisa baca situasi

Kemampuan membaca suasana atau read a room juga menjadi bagian dari kecakapan sosial yang semakin diperhatikan. Seseorang mungkin memiliki kemampuan teknis yang sangat baik, tapi tetap perlu mengetahui bagaimana menyampaikan ide dan merespons orang lain sesuai konteks.

“Apakah mereka mampu membaca situasi? Apakah mereka bisa menerima masukan?” kata Pryor. Jadi, perusahaan tidak hanya melihat apa yang bisa dikerjakan seseorang, tapi juga bagaimana ia berinteraksi ketika berada dalam sebuah tim.

11. Tetap punya keterampilan teknis

Meski karakter personal semakin mendapat perhatian, bukan berarti kemampuan teknis menjadi tidak penting. Justru kandidat tetap perlu menunjukkan bahwa latar belakang dan keahliannya sesuai dengan pekerjaan yang dilamar.

Sharghi tidak sepakat jika kepribadian dianggap kini lebih penting dibandingkan satu dekade lalu. Menurutnya, keterampilan teknis tetap akan mengungguli sekadar menjadi orang yang menyenangkan untuk diajak bekerja. Ia menyarankan pencari kerja memahami kebutuhan perusahaan dan melihat bagaimana keterampilan yang dimiliki dapat mengisi kekurangan di perusahaan tersebut.

Dengan demikian, kandidat yang menarik di era AI bukan berarti harus memilih antara kemampuan teknis dan kepribadian. Keduanya justru dapat saling melengkapi. Kemampuan teknis menunjukkan seseorang mampu mengerjakan pekerjaan, sedangkan karakter seperti rasa ingin tahu, adaptasi, komunikasi, dan kemampuan bekerja sama menunjukkan bagaimana ia dapat berkembang bersama perusahaan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda