Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Benarkah Abu Vulkanik Bisa Bikin Makin Tanaman Subur? Begini Kata Pakar

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Sabtu, 12 Sep 2026 21:30 WIB

cabbage plants on the plantation with mountain on the background - organic vegetable plantation
Ilustrasi / Foto: Getty Images/iStockphoto/mdz fahmi
Daftar Isi

Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik terbawa angin dan turun di sejumlah wilayah Indonesia. Benarkan abu vulkanik itu bisa membuat tanaman semakin subur?

Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau tentu perlu diwaspadai karena paparan tersebut jika terhirup dapat mengganggu kesehatan dan sistem pernapasan. Namun di balik dampaknya, abu vulkanik ternyata juga memiliki potensi manfaat bagi tanah dan tanaman.

Selama ini, abu vulkanik sering dikaitkan dengan tanah yang menjadi lebih subur setelah gunung berapi mengalami erupsi. Material vulkanik memang membawa sejumlah mineral yang dapat menjadi sumber unsur hara bagi tanah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Apakah abu vulkanik benar-benar bisa membuat tanaman tumbuh lebih subur? Pakar menjelaskan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu karena dampaknya bergantung pada kondisi abu, jumlah paparan, serta waktu dan cara pengelolaannya.

Mengutip detikcom, mari bahas di sini, Bunda.

Abu Vulkanik menyumbang unsur hara untuk tanah

Penelitian Kurniatun Hairiah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bersama sejumlah peneliti membahas potensi abu vulkanik sebagai bagian dari solusi alami untuk memperbaiki kondisi tanah. Dalam artikel berjudul Applying volcanic ash to croplands, The untapped natural solution, yang diterbitkan di jurnal ScienceDirect pada November 2020, mereka menjelaskan bahwa material vulkanik berpotensi menyediakan nutrisi bagi tanah sekaligus berkontribusi terhadap penyerapan karbon.

Menurut penelitian tersebut, ketika material vulkanik mengalami pelapukan, berbagai unsur di dalamnya dapat dilepaskan dan masuk ke tanah. Material yang awalnya belum memiliki kandungan karbon organik juga dapat mengalami perubahan hingga membentuk tanah yang kaya karbon.

"Di negara-negara dengan gunung berapi aktif, seperti Indonesia, abu vulkanik dapat dimanfaatkan untuk menyediakan nutrisi dan mengurangi CO2 dari atmosfer. Proses pelapukan dapat menyerap CO2 dari atmosfer; selain itu, abu vulkanik yang awalnya tidak mengandung karbon dapat berubah menjadi tanah dengan kandungan karbon organik sekitar 10 persen," tulis Kurniatun dan kawan-kawan.

Tanah vulkanik termasuk yang kaya dan subur

Salah satu jenis tanah yang terbentuk dari material vulkanik adalah Andisol atau Andosol. Jenis tanah ini dikenal memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Meski persebarannya hanya sekitar 1 persen dari permukaan bumi, Andisol disebut menyimpan kurang lebih 5 persen cadangan karbon tanah global. Peneliti juga menemukan kandungan karbon organik yang cukup tinggi pada lapisan atas tanah vulkanik di Sumatra Barat. Ini membuat kawasan dengan tanah vulkanik mampu mendukung kegiatan pertanian dan kehidupan masyarakat dalam jumlah besar.

"Analisis kami terhadap lapisan atas tanah vulkanik di Sumatra Barat menunjukkan rata-rata kandungan karbon organik sebesar 4 persen, dan pada beberapa kasus, kandungan karbon tersebut dapat mencapai hingga 15 persen. Berkat kesuburannya, Andisol sering kali menopang kepadatan penduduk yang tinggi dan memegang peranan krusial dalam menjamin ketahanan pangan," ujar peneliti.

Indonesia punya potensi besar dari material vulkanik

Sebagai negara yang memiliki banyak gunung berapi aktif, Indonesia mempunyai sumber material vulkanik yang relatif melimpah. Peneliti mencatat tanah yang terbentuk dari material vulkanik mencakup sekitar 31,7 juta hektare atau sekitar 17 persen dari keseluruhan wilayah daratan Indonesia.

Material itu tidak hanya berpotensi mendukung kesuburan tanah, tapi juga dikaji karena kemampuannya dalam menyerap karbon dioksida. Berdasarkan analisis peneliti, pelapukan material vulkanik dapat menjadi bagian dari siklus karbon yang berlangsung secara alami di lingkungan.

"Pada tahun-tahun dengan letusan gunung berapi yang signifikan, jumlah CO2 yang diserap dapat mencapai 100 sampai 200 Mt, atau setara dengan 20 persen sampai 40 persen dari emisi bahan bakar fosil negara tersebut. CO2 yang diserap selama proses pelapukan material vulkanik merupakan bagian dari siklus karbon global dan dipengaruhi oleh keputusan terkait penggunaan lahan," ujar Kurniatun.

Abu vulkanik tidak selalu langsung baik untuk tanaman

Meski material vulkanik dapat membawa manfaat dalam jangka panjang, bukan berarti tanaman yang langsung tertutup abu akan otomatis tumbuh lebih subur. Justru paparan abu dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama dapat menyebabkan tanaman mengalami kerusakan.

Pakar ilmu pertanahan dari IPB University, Prof Iskandar, menjelaskan bahwa durasi paparan menjadi salah satu faktor penting. Semakin lama tanaman tertutup abu, semakin besar pula risiko gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangannya.

"Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk," ujar Prof Iskandar dikutip dari situs web IPB University.

Lapisan abu bisa menghambat fotosintesis

Tanaman membutuhkan proses fotosintesis untuk menghasilkan energi yang menunjang pertumbuhan. Ketika permukaan tanaman tertutup abu, proses tersebut dapat terganggu, salah satunya karena stomata pada daun tertutup lapisan material vulkanik.

Jika berlangsung terus-menerus, tanaman dapat kesulitan menjalankan fungsi fisiologisnya sehingga pertumbuhan ikut terhambat. Bahkan tanaman yang terdampak berat bisa mengalami kegagalan dalam proses reproduksi.

"Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen," kata Prof Iskandar.

Jarak dari gunung berapi meningkatkan kerusakan

Menurut Prof Iskandar, dampak abu vulkanik terhadap tanaman juga dipengaruhi oleh jarak dari pusat letusan. Di wilayah yang relatif dekat dengan pusat letusan, abu vulkanik yang jatuh masih memiliki suhu cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.

"Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati," ujarnya.

Prof Iskandar mengatakan, lama abu vulkanik bertahan di permukaan lahan juga bergantung pada curah hujan. Abu vulkanik, terutama yang memiliki lapisan tipis, relatif mudah terbawa oleh aliran air hujan.

Semakin jauh dari pusat letusan, ukuran butiran abu vulkanik umumnya semakin halus dan ringan. Sementara itu, di sekitar pusat letusan, material yang dikeluarkan bukan lagi berupa debu, tetapi dapat berupa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu.

Abu vulkanik bisa dicampurkan ke tanah

Terkait penanganan lahan pertanian yang terdampak abu vulkanik, Prof Iskandar menyarankan agar lahan segera diolah setelah hujan abu berakhir dan masyarakat sudah dapat kembali beraktivitas secara normal, terutama jika lapisan abu yang menutupi lahan relatif tipis.

Namun, apabila lapisan abu cukup tebal, pengolahan tanah akan menjadi lebih berat. Menurut Prof Iskandar, abu vulkanik sebaiknya tidak langsung dibuang, tetapi dapat dicampurkan dengan tanah. Selanjutnya, kondisi tanah perlu diperiksa, antara lain melalui pengukuran pH dan daya hantar listrik (DHL).

Air hujan bantu melepaskan unsur yang bermanfaat

Menurut Prof Iskandar, sebaran abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu proses alami yang berpotensi membantu menyuburkan kembali tanah yang telah mengalami degradasi.

"Begitu abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K) dan lain-lain," ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap hujan abu vulkanik tidak berlangsung dalam waktu lama sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan lahan pertanian dapat segera dipulihkan.

"Jadi semoga saja 'hujan' abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur," harap Prof Iskandar.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda