Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

7 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Empati Tinggi dan Berpikir Logis

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Senin, 21 Sep 2026 14:25 WIB

three happy beautiful young asian women sitting at table chatting talking relaxing in coffee shop or tea house.
Ilustrasi 7 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Empati Tinggi dan Berpikir Logis/Foto: Getty Images/iStockphoto/imtmphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Cara seseorang berbicara dapat menunjukkan bagaimana ia memahami perasaan orang lain sekaligus menyikapi suatu masalah secara logis.

Orang dengan empati tinggi biasanya mampu mempertimbangkan dampak perkataannya terhadap orang lain sebelum mengambil keputusan. Sementara itu, kemampuan berpikir analitis membantu seseorang melihat situasi secara objektif dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Menyeimbangkan keduanya dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih bijak tanpa mengabaikan perasaan orang lain. Hal ini juga sering tercermin dari kalimat-kalimat yang diucapkannya saat berkomunikasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


7 Kalimat yang sering diucapkan orang dengan empati tinggi dan berpikir logis

Dilansir Your Tango, orang dengan empati tinggi dan berpikir logis sering mengucapkan beberapa kalimat berikut ini:

1. “Mari kita cari tahu mengapa ini terus terjadi”

Orang yang sangat analitis akan melihat masalah dari sudut pandang logis. Namun, mereka berusaha menemukan akar penyebabnya sambil mempertimbangkan perasaan orang lain dan membuatnya merasa aman.

Jadi, mereka akan mendengarkan keluhan-keluhan untuk memahami pola sebenarnya. Kemudian, mereka dapat menemukan solusi yang memperbaiki masalah sekaligus membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

2. “Bantu saya memahami apa yang sebenarnya terjadi”

Ungkapan ini mendorong seseorang untuk berbagi masalah tanpa merasa diserang. Ada tiga jenis empati, kognitif, emosional, dan welas asih.

Empati kognitif adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami emosi orang lain. Empati emosional adalah ketika Bunda merasakan apa yang dirasakan orang lain. Terakhir, empati welas asih adalah kemampuan tidak hanya untuk memahami apa yang dialami orang lain, tetapi juga untuk membantu mereka.

Kalimat “Bantu saya memahami” menggunakan ketiga jenis empati, memungkinkan pembicara untuk mengidentifikasi emosi, merasakannya, dan menemukan solusi.

3. “Sepertinya dia menyebabkan masalah bagimu”

Ungkapan ini membuat orang lain merasa diperhatikan. Atau, jika pembicara salah, ungkapan ini memungkinkan orang lain untuk mengoreksinya tanpa ada ikatan emosional. Di tempat kerja, ini adalah keterampilan yang sangat berharga, terutama bagi para atasan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yang Woon Chun, Seunghee Im, dan Jung Eun Kim, mereka menemukan bahwa karyawan dengan kepedulian empatik dapat memperoleh banyak manfaat individu, organisasi, dan masyarakat.

4. “Mari kita pisahkan apa yang terjadi dari bagaimana perasaan kita”

Sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam pikiran sendiri. Terkadang, kita melihat suatu situasi sebagai serangan pribadi, padahal kenyataannya mungkin tidak demikian.

Orang yang empati dan analitis dapat membantu orang lain mengatasi masalah mereka dengan membantu mereka memisahkan perasaan dari fakta.

5. “Kamu boleh merasa seperti itu”

Orang yang empati dan logis memahami bahwa orang lain perlu merasakan emosinya agar akhirnya dapat melihat suatu situasi dengan jelas.

Jika orang tidak diizinkan untuk merasakan emosinya, mereka hanya akan merasakan frustrasi yang menumpuk, yang hanya akan bertambah seiring waktu. Ungkapan ini menyatakan bahwa validitas emosi tidak sama dengan fakta kejadian, tetapi tetap penting.

6. “Apa yang kamu butuhkan saat ini?”

Ini adalah ungkapan yang benar-benar menggunakan pikiran analitis sekaligus memvalidasi orang lain. Membiarkan orang lain mendapatkan sumber daya yang merek butuhkan adalah hal terbaik yang dapat dilakukan dalam situasi krisis.

7. “Bagaimana saya bisa membantu”

Ketika dihadapkan pada suatu masalah, orang-orang dengan pikiran yang logis mencoba untuk mengatasi situasi tersebut. Alih-alih panik, yang pada akhirnya akan menyebabkan lebih banyak masalah, mereka hanya mencoba untuk membantu.

Nah, itulah beberapa kalimat yang sering diucapkan orang dengan empati tinggi dan pemikiran logis. Bunda juga termasuk?

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda