moms-life
11 Kalimat Khas Si Playing Victim, Kenali Sebelum Terkena Manipulasi
HaiBunda
Senin, 21 Sep 2026 22:00 WIB
Daftar Isi
-
11 Kalimat khas orang yang suka playing victim
- 1. “Aku tidak mengatakan apa pun ketika kamu melakukan hal yang sama”
- 2. “Kamu hanya marah pada dia dan melampiaskannya padaku”
- 3. “Aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak melakukan hal lain ini”
- 4. “Aku sudah minta maaf, apa lagi yang kamu mau?”
- 5. “Menurutmu aku buruk? Orang lain jauh lebih buruk”
- 6. “Jika kamu tidak menyukainya, mengapa kamu masih di sini?”
- 7. “Baiklah, akulah masalahnya. Apakah itu yang ingin kamu dengar?”
- 8. “Tidak bisakah kamu melupakan saja?”
- 9. “Kamu bereaksi berlebihan”
- 10. “Aku sudah banyak berbuat untukmu, kenapa kamu malah fokus pada hal kecil ini?”
- 11. “Kamu persis seperti ibuku, dia bilang aku juga tidak bisa melakukan apa pun dengan benar”
Bunda, pernah menyampaikan perasaan yang mengganggu, tetapi justru dibuat merasa bersalah? Situasi seperti ini dapat terjadi ketika berhadapan dengan orang yang gemar playing victim.
Alih-alih mengakui kesalahan, mereka cenderung bersikap defensif, mengalihkan kesalahan kepada orang lain, atau membuat diri sendiri terlihat sebagai pihak yang paling dirugikan. Respons tersebut terkadang muncul karena rasa takut disalahpahami, dihakimi, atau menghadapi konflik.
Meski begitu, kebiasaan defensif dapat menghambat komunikasi yang sehat dan membuat masalah sulit diselesaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu cara yang dapat Bunda lakukan untuk mengenali mereka adalah memperhatikan setiap kalimat yang menjadi ciri khasnya ketika mulai merasa terpojok.
11 Kalimat khas orang yang suka playing victim
Dilansir Your Tango, orang yang menyalahkan orang lain atas masalah mereka sering mengatakan beberapa hal defensif berikut ini:
1. “Aku tidak mengatakan apa pun ketika kamu melakukan hal yang sama”
Ungkapan ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya. Orang playing victim menyalahkan orang lain atas masalahnya dan membawa percakapan masa lalu yang penuh kesalahpahaman.
Psikolog Tyler G. Okimoto, Ph.D., mengatakan untuk menyelesaikan konflik, lebih efektif untuk melihat ke masa depan daripada mengungkit masa lalu. Itu berarti mengatakan sesuatu seperti, “Mari kita lanjutkan percakapan ini di sini dan sekarang”.
2. “Kamu hanya marah pada dia dan melampiaskannya padaku”
Ketika seseorang menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri, mereka akan mencari sasaran di mana saja untuk mengalihkan perhatian. Alih-alih bertanggung jawab, mereka malah bersikap defensif.
3. “Aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak melakukan hal lain ini”
Mereka mencoba menghindari tanggung jawab dengan membalikkan kesalahan. Alih-alih mengakui tindakannya, mereka malah menyoroti perilaku Bunda, seolah-olah reaksinya adalah reaksi berantai yang tak terhindarkan yang dipicu oleh sesuatu yang Bunda lakukan.
Ini seperti bermain permainan, ‘Siapa yang memulai?’ tetapi tidak ada yang benar-benar membahas masalah sebenarnya.
4. “Aku sudah minta maaf, apa lagi yang kamu mau?”
Permintaan maaf hanyalah langkah pertama, bukan garis finish. Ini bukan tentang menumpuk lebih banyak permintaan maaf, tetapi tentang merasa benar-benar dipahami dan mengetahui bahwa kedua pihak berkomitmen untuk berbuat lebih baik di lain waktu.
“Permintaan maaf yang efektif menggunakan validasi dan rasa ingin tahu untuk membangun kembali kepercayaan dan rasa aman dalam hubungan,” ujar Tasha Seiter MS, PhD, LMFT.
5. “Menurutmu aku buruk? Orang lain jauh lebih buruk”
Terlepas dari siapa yang mengatakannya, penting untuk tidak membiarkan mereka mengalihkan perhatian Bunda dari masalah utama yang diangkat.
Bukan soal menyalahkan, ini tentang kita saling memahami dengan lebih baik. Ini membantu menggeser narasi dari sikap defensif dan saling bermusuhan menjadi percakapan yang tulus, mengingatkan kalian berdua bahwa tujuan sebenarnya adalah koneksi, bukan konflik.
6. “Jika kamu tidak menyukainya, mengapa kamu masih di sini?”
Orang ini sedang membangun tembok penghalang, mengubah percakapan dari kesempatan untuk memperbaiki keadaan menjadi sebuah tuduhan. Seolah-olah mereka mempertanyakan komitmen Bunda, alih-alih mengakui perasaan.
Pernyataan ini dapat membuat Bunda merasa terpojok, seolah-olah Bunda disalahkan karena tetap berada dalam situasi yang mengganggu.
7. “Baiklah, akulah masalahnya. Apakah itu yang ingin kamu dengar?”
Sekali lagi, ini adalah respons defensif yang dirancang untuk membuat Bunda merasa telah melakukan kesalahan, membuat Bunda merasa bertanggung jawab atas frustrasi seseorang, alih-alih mengatasi masalah yang sebenarnya.
Kata-kata ini dapat membuat Bunda seolah-olah memojokkan mereka, padahal yang Bunda inginkan hanya agar mereka mendengarkan dan memahami perasaan Bunda.
8. “Tidak bisakah kamu melupakan saja?”
Mengatakan hal ini seperti menekan tombol jeda pada emosi, mengharapkan semuanya akan lenyap begitu saja dengan lambaian tangan hanya karena mereka ingin Bunda melupakannya.
Rasanya seperti seseorang mencoba menyembunyikan masalah, berharap Bunda melupakannya dan melanjutkan hidup tanpa mendapatkan pemahaman atau solusi yang dibutuhkan.
9. “Kamu bereaksi berlebihan”
Kata-kata ini bisa terasa seperti penolakan langsung sambil menghindari masalah sebenarnya. Namun kenyataannya, emosi tidak selalu rasional, emosi itu nyata, dan perlu ruang untuk diakui.
Ketika seseorang mengatakan Bunda bereaksi berlebihan, itu lebih buruk daripada disuruh tetap tenang.
10. “Aku sudah banyak berbuat untukmu, kenapa kamu malah fokus pada hal kecil ini?”
Mereka mungkin mencoba membuat Bunda terlihat seperti orang jahat, seolah-olah menyadari satu hal yang mengganggu Bunda akan menghapus semua kebaikan yang telah Bunda lakukan.
Ini adalah upaya yang dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang ada saat ini dengan menyoroti hal-hal positif yang telah ia lakukan di masa lalu.
11. “Kamu persis seperti ibuku, dia bilang aku juga tidak bisa melakukan apa pun dengan benar”
Alasan ini memiliki tiga fungsi sekaligus. Pertama, mengalihkan kesalahan kepada orang lain dan membuat Bunda merasa kasihan.
Kedua, mengalihkan kesalahan kepada Bunda karena dianggap mirip orang yang mereka sebut jahat Ketiga, orang ini mungkin sedang memutarbalikkan kata-kata Bunda.
Nah, itulah beberapa kalimat khas yang sebaiknya Bunda perhatikan dari orang yang gemar playing victim. Hati-hati, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Kata-kata Bijak dalam Bahasa Inggris untuk Memotivasi Bunda
Mom's Life
10 Kalimat yang Biasa Diucapkan Orang yang Suka Playing Victim, Jangan Terkecoh
Mom's Life
45 Kata-kata Bijak Bahasa Inggris dari Orang Terkenal, Bunda Relate?
Mom's Life
50 Kata-Kata Bahasa Inggris Menyentuh Hati, Cocok untuk Caption Instagram
Mom's Life
35 Kata-Kata Bijak Kecewa pada Pasangan, Semangat Move On Bun
Mom's Life
50 Kata-Kata Bijak Tentang Hubungan Kakak Adik, Ungkapan Rasa Sayang
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Mengenal Victim Mentality, Seseorang yang Selalu Melihat Dirinya Paling Susah
10 Tanda Seseorang Terlihat Baik tapi Sebenarnya Tidak di Balik Senyumannya
Ciri Kepribadian Orang yang Suka Playing Victim, Selalu Merasa Paling Tersakiti