Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Ciri Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban dari Kalimat yang Diucapkan

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Senin, 14 Sep 2026 22:00 WIB

fatigued asian business woman feeling tired exhausted and listless while she is using laptop at office
Ilustrasi ciri orang yang selalu merasa jadi korban dari kalimat yang diucapkan / Foto: Getty Images/PonyWang
Daftar Isi

Dalam menjalani kehidupan, terkadang ada masanya hari-hari terasa terlalu berat untuk dijalani. Namun, selalu merasa kehidupan ini kejam seperti cobaan yang tidak berujung juga patut dicermati, karena ini bisa jadi ciri orang yang merasa jadi korban atau dikenal dengan victim mentality

Pasalnya, meskipun memang terkadang terasa berat, tetapi pola pikir negatif terhadap suatu perkara bisa mempengaruhi cara seseorang memandang sebuah masalah.

Mengutip dari laman Your Tango, memutuskan untuk mulai menjalani hidup tanpa mentalitas korban (victim mentality) dapat menjadi pemicu datangnya kelimpahan dan rasa syukur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meskipun tidak selalu mudah dijalani, ada beberapa ciri orang yang merasa jadi korban yang sebaiknya dihindari. Ciri tersebut dapat dilihat dari kalimat yang diucapkan.

1. Kalimat “Ini bukan salahku”

Ciri orang yang selalu merasa dirinya korban adalah sering mengucapkan “Ini bukan salahku.” Dalam menjalani kehidupan, seseorang harus mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Karena, ini dapat berdampak pada hasil di masa mendatang.

Meskipun tidak semua masalah berasal dari diri sendiri dan faktor eksternal bisa berpengaruh, tetapi merenungkan tindakan-tindakan yang mungkin berkontribusi pada hasil di kemudian hari merupakan bagian dari kedewasaan. Ini juga sekaligus bagian dari tanggung jawab.

Dr. Charles Chaffin menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan mereka yang menerima tanggung jawab cenderung mengalami kepuasan kerja yang lebih besar dan tujuan hidup yang lebih jelas.

"Rasa otonomi yang terkait dengan akuntabilitas adalah motivator yang ampuh, memungkinkan individu untuk merasa bahwa mereka mengendalikan takdir mereka sendiri daripada hanya bereaksi terhadap keadaan," kata Dr. Chaffin.

2. Kalimat “Semua orang menentangku”

Pemikiran bahwa semua orang menentang atau tidak paham perasaan kita dapat menjadi ciri orang yang selalu merasa jadi korban. Padahal, tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita inginkan dan orang lain lebih peduli pada diri sendiri.

Ahli neuropsikologi dan Direktur Comprehend the Mind di Amerika Serikat, Dr. Sanam Hafeez, menyampaikan bahwa "Seringkali, kekhawatiran Anda dapat mengalahkan logika, dan itu dapat membuat Anda kewalahan dan menyebabkan penderitaan yang nyata," ujar Dr. Hafeez.

Beliau juga menambahkan "Stres dapat menyebabkan orang menyesuaikan pemikiran mereka dengan cara yang berguna untuk apa yang mereka yakini sebagai kelangsungan hidup mereka saat ini, tetapi cara berpikir ini tidak rasional atau sehat,” sambungnya.

3. Kalimat “Mengapa ini selalu terjadi padaku”

Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang ada perasaan bahwa hidup seringkali menempatkan seseorang lebih sulit dibanding orang lain. Namun, ini perlu diwaspadai karena bisa mengarah ke mentalitas korban (victim mentality).

Terlalu percaya bahwa hidup seseorang lebih berat karena memang jalan hidupnya seperti itu bisa mencegah ia berpikir bahwa bisa jadi dirinya sendiri telah membuat hidup menjadi lebih sulit.

Ketika hidup terasa sulit, akan lebih baik jika seseorang merefleksi apa yang telah dilakukan sehingga hidupnya terasa berat. Introspeksi diri membantu memperbaiki keadaan hidup menjadi lebih baik.

4. Kalimat “Ini terlalu sulit bagi saya”

Sering merasa bahwa diri sendiri tidak mampu mengatasi permasalahan akan jadi sia-sia apabila tidak dibarengi dengan usaha.

Seseorang yang berkata demikian tanpa berusaha keluar dari cobaan, bisa saja tidak tahu bahwa dirinya memiliki kemampuan yang lebih besar dari yang ia kira. Ini dapat menghambat kemajuan dan penyelesaian masalah.

Selain itu, mengeluh sulit tanpa mencoba menghadapi masalah dapat menambah beban pada pikiran. Sebaliknya, mempertimbangkan cara-cara untuk menyelesaikan masalah, dapat mengurai beban pikiran.

Pelatih transisi karier eksekutif, Susan Peppercorn, berpendapat bahwa, “Dengan membingkai situasi yang Anda takuti secara berbeda sebelum Anda mencobanya, Anda mungkin dapat menghindari beberapa stres dan kecemasan.”

5. Kalimat “Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang itu”

Perasaan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi  permasalahan hanya akan membuat masalah hidup tidak terselesaikan. Meskipun tidak semua bisa sepenuhnya terselesaikan, fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan akan membuat masalah itu lebih terurai.

Berdasarkan laporan State of the Global Workplace 2026, 85 persen orang merasa tidak terlibat. Hal ini mungkin disebabkan oleh hubungan yang rusak dalam hidup mereka atau keadaan dunia.

Merasa bahwa memperbaiki hidup adalah hal yang di luar kendali merupakan upaya menghindar dari ketidaknyamanan untuk memulai perubahan.

6. Kalimat “Aku tidak bisa berubah”

Kalimat “Aku tidak bisa berubah” adalah salah satu ciri orang yang merasa dirinya selalu jadi korban. Memiliki pemikiran seperti itu telah menghilangkan kesempatan bagi diri sendiri untuk mengubah keadaan.

Dikutip dari laman Your Tango, satu cara untuk mengubah mentalitas korban adalah dengan mengembangkan welas asih terhadap diri sendiri. Ini berkaitan dengan menerima realitas kehidupan yang ada dengan kehangatan dan kelembutan, bukan mengabaikan rasa sakit.

Alih-alih menarik diri karena malu akan kekurangan atau kesalahan, perlakukan hal itu sebagai bagian dari pengalaman.

7. Kalimat “Segalanya tidak pernah berjalan sesuai rencana untukku”

Ketika telah mengupayakan segala hal secara berkali-kali namun gagal ini dapat menyebabkan putus asa. Meskipun ada kalanya kehilangan semangat untuk mencoba lagi, alih-alih berpikir bahwa  “Segalanya tidak pernah berjalan sesuai rencana untukku”, ada baiknya percaya bahwa kegagalan bukanlah penghalang permanen.

Percaya bahwa segala hal tidak pernah berjalan sesuai rencana hanya akan menghambat diri untuk terus bertumbuh lebih baik. Ini juga merupakan ciri orang yang selalu merasa jadi korban.

8. Kalimat “Aku hanya kurang beruntung”

Ciri orang yang selalu merasa jadi korban selanjutnya adalah sering merasa dirinya kurang beruntung. Ciri ini berkaitan dengan orang yang menganggap bahwa pencapaian dan prestasi didapat dari keberuntungan, tetapi melupakan aspek dedikasi dan kerja keras.

Terlalu berserah pada keberuntungan dan tidak berusaha meningkatkan kemampuan dan kerja keras, dapat membuat kesempatan baik untuk masa depan jadi terlewatkan.

9. Kalimat “Orang selalu memanfaatkan saya”

Ketika seseorang merasa bahwa dirinya sering dimanfaatkan orang lain, penting untuk berpikir kembali apakah ia telah memberi batasan yang tegas kepada orang lain.

Pasalnya, terkadang seseorang sulit untuk berkata “tidak” atau menolak permintaan orang lain, sehingga orang lain menjadi merasa leluasa untuk meminta bantuan, bahkan secara berlebihan.

Dengan memberi batasan yang tegas, seseorang dapat terhindar dari dimanfaatkan orang lain, serta terhindar dari victim mentality.

10. Kalimat “Aku tidak meminta ini”

Ada kalanya hal-hal yang tidak kita suka mengacaukan hidup yang dijalani. Banyak hal tidak diinginkan yang datang di luar kendali. Namun, menanamkan pemikiran “Aku tidak meminta ini” secara terus-menerus juga sebaiknya dihindari.

Alih-alih menaruh energi yang banyak untuk menyangkal keadaan, akan lebih baik jika kita menggunakan kesempatan ini untuk benar-benar memahami situasi sehingga hal itu tidak perlu terjadi lagi. 

Terkadang, melalui hal-hal yang mungkin tidak kita rencanakan, kita dapat menemukan betapa kuatnya kita sebenarnya.

Itulah beberapa ciri orang yang merasa jadi korban menurut pakar berdasarkan dari kalimat yang diucapkan. Melalui ciri tersebut, dapat diketahui bahwa meskipun banyak peristiwa yang kehadirannya tidak diinginkan, ada peran diri sendiri untuk menentukan cara menyikapinya. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda