Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

12 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Perempuan yang Berjiwa Pemimpin

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 10 Sep 2026 19:10 WIB

Perempuan yang memiliki jiwa kepemimpinan dapat menunjukkan karakter tersebut melalui cara mereka berkomunikasi.
12 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Perempuan yang Berjiwa Pemimpin/Foto: iStock
Daftar Isi
Jakarta -

Pemimpin bukan hanya soal jabatan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang berkomunikasi, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang di sekitarnya. Perempuan yang memiliki jiwa kepemimpinan pun dapat menunjukkan karakter tersebut melalui cara mereka berkomunikasi.

Melansir YourTango, ada sejumlah kalimat yang kerap diucapkan oleh perempuan yang memiliki jiwa kepemimpinan. Meski begitu, penggunaan kalimat-kalimat ini tentu tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang berjiwa pemimpin. 

Gaya kepemimpinan juga dipengaruhi banyak faktor, termasuk perilaku, pengalaman, lingkungan, dan hubungan dengan orang lain. Lantas, apa saja kalimat yang kerap diucapkan oleh perempuan yang berjiwa pemimpin?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


12 Kalimat yang kerap diucapkan perempuan yang berjiwa pemimpin

Berikut beberapa kalimat yang disebut dalam artikel YourTango dan alasan mengapa ungkapan tersebut dapat mencerminkan kualitas kepemimpinan.

1. "Ada kabar apa?"

Kalimat seperti "Ada kabar apa?" terdengar sederhana. Namun, jika diucapkan dengan niat yang tulus, pertanyaan ini dapat menjadi pembuka percakapan yang menunjukkan perhatian kepada orang lain.

Memulai hari dengan sapaan sederhana seperti "Ada kabar apa?" dapat memberikan dampak positif untuk tim Bunda. Kalimat ini menunjukkan bahwa Bunda peduli terhadap kondisi anggota tim sekaligus membuka kesempatan kepada mereka untuk berbagi kabar terbaru atau hal-hal yang sedang menjadi perhatian.

Perempuan yang berjiwa pemimpin tidak hanya fokus pada pekerjaan, tetapi juga memperhatikan kondisi anggota tim. Sapaan sederhana tersebut dapat memberi ruang kepada orang lain untuk bercerita tentang kabar, tantangan, atau hal yang sedang mereka pikirkan.

Pertanyaan sederhana seperti ini juga dapat menjadi awal komunikasi yang lebih terbuka. Namun, tentu saja, dampaknya sangat bergantung pada ketulusan orang yang mengucapkannya.

2. "Boleh saya bicara sebentar dengan Anda?"

Pemimpin perlu memberikan masukan ketika ada hal yang perlu diperbaiki. Namun, cara menyampaikannya juga penting.

Sebelum membahas sesuatu yang mungkin membuat lawan bicara kurang nyaman, perempuan yang berjiwa pemimpin dapat terlebih dahulu meminta izin untuk berbicara. Cara ini dapat membuat lawan bicara lebih siap dan memberikan ruang untuk berdialog.

Alih-alih langsung menyampaikan kritik, seseorang dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mempersiapkan diri menghadapi pembicaraan tersebut.

Tidak semua orang nyaman menerima masukan dengan cara yang sama. Karena itu, bertanya terlebih dahulu dapat menjadi cara yang penuh hormat untuk memastikan lawan bicara siap berdiskusi.

3. "Kerja bagus!"

Memberikan apresiasi juga menjadi salah satu bentuk komunikasi yang penting bagi seorang pemimpin.

Menurut YourTango, perempuan yang berjiwa pemimpin memahami pentingnya mengakui usaha anggota tim. Pujian yang diberikan dengan tulus dapat membuat seseorang merasa kontribusinya diperhatikan dan dihargai.

Ketika karyawan merasa dihargai dan diapresiasi, mereka dapat terdorong untuk memberikan usaha lebih dalam pekerjaan.

Penelitian mengenai kepemimpinan juga menunjukkan bahwa sikap pemimpin yang rendah hati, termasuk menghargai dan mengakui kontribusi anggota tim, dapat berkaitan dengan proses positif dalam tim.

Salah satunya, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology menemukan bahwa leader humility berkaitan dengan berbagi informasi dalam tim pada kondisi tertentu, sementara berbagi informasi dan psychological safety juga berkaitan dengan kreativitas tim.

4. "Ada pertanyaan?"

Pemimpin yang baik tidak hanya berbicara, tetapi juga memastikan orang lain memahami apa yang disampaikan.

Karena itu, pertanyaan sederhana seperti "Ada pertanyaan?" dapat membuka kesempatan bagi anggota tim untuk meminta penjelasan ketika ada hal yang belum dipahami.

YourTango menyebut kebiasaan ini sebagai bagian dari upaya menciptakan komunikasi yang terbuka dan mengurangi kesalahpahaman.

Kalimat tersebut juga dapat memberi pesan bahwa bertanya bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

5. "Apa tujuannya?"

Pemimpin yang berorientasi pada tujuan tidak hanya melihat apakah sebuah pekerjaan bisa dilakukan, tetapi juga memahami alasan di baliknya.

YourTango menyebut pertanyaan "Apa tujuannya?" sebagai salah satu kalimat yang dapat membantu tim tetap fokus pada prioritas. Ungkapan ini mendorong pemikiran kritis, membantu karyawan memprioritaskan tugas, dan berkontribusi pada tujuan organisasi.

Ungkapan ini juga dapat mendorong seseorang mempertimbangkan apakah sebuah ide atau pekerjaan sesuai dengan tujuan bersama. Dengan begitu, anggota tim tidak sekadar sibuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memahami kontribusinya terhadap tujuan yang lebih besar.

6. "Bagaimana saya bisa mendukung Anda?"

Pemimpin tidak selalu harus menjadi orang yang memiliki semua jawaban. Terkadang, peran pemimpin justru membantu anggota tim menemukan apa yang mereka butuhkan.

Menurut YourTango, pertanyaan "Bagaimana saya bisa mendukung Anda?" menunjukkan kesediaan untuk membantu dan membuka pembicaraan mengenai tantangan atau hambatan yang sedang dihadapi anggota tim.

Dukungan aktif terhadap tim dapat membantu membangun kepercayaan, yang kemudian berkaitan dengan kepuasan kerja dan produktivitas.

Penelitian mengenai kepemimpinan juga menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang membuat orang merasa aman untuk menyampaikan pendapat.

Studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa kepemimpinan etis berkaitan dengan perilaku karyawan untuk menyampaikan pendapat (employee voice), dengan psychological safety dan pemberdayaan psikologis sebagai bagian dari hubungan tersebut.

7. "Mari kita rayakan"

Pemimpin tidak hanya hadir ketika ada masalah. Mereka juga memberikan ruang untuk mengapresiasi pencapaian anggota tim.

Menurut YourTango, mengakui keberhasilan, baik besar maupun kecil, dapat membantu menjaga semangat dan motivasi tim. Cara merayakannya pun tidak harus selalu besar. Pemimpin dapat mempertimbangkan bentuk apresiasi yang memang disukai anggota tim.

Hal sederhana seperti mengucapkan selamat atas pekerjaan yang selesai dengan baik pun dapat membuat seseorang merasa kontribusinya diperhatikan dan dihargai

8. "Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini?"

Kesalahan atau kegagalan tidak selalu harus berakhir dengan mencari siapa yang harus disalahkan.

YourTango menyebut pertanyaan "Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini?" sebagai ungkapan yang mendorong pola pikir berkembang (growth mindset). Fokusnya bergeser dari sekadar melihat kesalahan menjadi mencari pelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki keadaan.

Pemimpin yang mampu melakukan hal tersebut dapat membantu menciptakan suasana di mana anggota tim lebih berani bersikap jujur mengenai kesalahan dan tantangan yang mereka hadapi.

9. "Saya percaya pada penilaian Anda"

Memberikan kepercayaan kepada orang lain juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan.

Dengan mengatakan "Saya percaya pada penilaian Anda", itu dapat menunjukkan keyakinan dengan kemampuan anggota tim, sekaligus memberikan ruang kepada mereka untuk mengambil keputusan secara mandiri.

Tentu, kepercayaan bukan berarti pemimpin melepaskan tanggung jawab begitu saja. Kepercayaan tetap perlu disertai arahan, batasan, dan komunikasi yang jelas.

10. "Terima kasih"

Dua kata sederhana ini mungkin terdengar sepele, tetapi apresiasi dapat memiliki arti besar dalam hubungan kerja.

Ucapan "Terima kasih" merupakan salah satu cara pemimpin menunjukkan bahwa mereka menghargai kerja keras dan kontribusi anggota tim. Yang penting, ucapan tersebut disampaikan dengan tulus, bukan sekadar menjadi formalitas.

11. "Bagaimana pendapat Anda?"

Pemimpin yang baik tidak merasa harus menjadi orang yang paling banyak berbicara atau selalu memiliki jawaban.

Pertanyaan "Bagaimana pendapat Anda?" justru memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan ide dan sudut pandangnya. Ungkapan ini dapat mendorong kolaborasi dan membuat anggota tim merasa pendapat mereka dihargai.

Kebiasaan membuka ruang bagi orang lain untuk menyampaikan pendapat juga sejalan dengan temuan penelitian mengenai employee voice. Lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa aman untuk berbicara dapat membantu mereka menyampaikan ide, masukan, maupun kekhawatiran.

Sebuah studi pada 2022 menemukan bahwa psychological safety berperan dalam hubungan antara perilaku rendah hati pemimpin dan kecenderungan karyawan untuk menyampaikan pendapat.

12. "Bagaimana kita bisa menjadi lebih baik?"

Perempuan yang berjiwa pemimpin tidak hanya melihat apakah sebuah pekerjaan sudah selesai. Mereka juga memikirkan bagaimana proses dan hasilnya dapat diperbaiki.

Pertanyaan "Bagaimana kita bisa menjadi lebih baik?" mendorong tim untuk mengevaluasi proses, alur kerja, dan hasil yang sudah dicapai.

Ungkapan tersebut juga menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk melakukan perbaikan tidak selalu dibebankan kepada satu orang. Kata "kita" membuat proses evaluasi terasa sebagai tanggung jawab bersama.

Sikap seperti ini sejalan dengan kepemimpinan yang mendorong anggota tim untuk terlibat, memberikan masukan, dan berkembang bersama. Pemimpin bukan hanya memberikan arahan, tetapi juga mau mendengarkan dan mengajak tim mencari cara untuk menjadi lebih baik.

Apakah sering mengucapkan kalimat ini berarti seseorang adalah pemimpin?

Jawabannya belum tentu, Bunda. Kalimat-kalimat di atas lebih tepat dilihat sebagai contoh perilaku komunikasi yang dapat mendukung kepemimpinan yang baik, bukan tes untuk menentukan apakah seseorang memiliki jiwa pemimpin atau tidak.

Penelitian tentang kepemimpinan menunjukkan bahwa pemimpin yang terbuka dan suportif dapat membantu menciptakan lingkungan yang membuat karyawan merasa aman untuk menyampaikan pendapat.

Salah satu penelitian menemukan adanya hubungan antara keterbukaan pemimpin dan employee voice, yaitu kecenderungan karyawan untuk menyampaikan ide, masukan, atau kekhawatiran di tempat kerja. Hubungan ini juga berkaitan dengan psychological safety.

Penelitian lain menemukan bahwa kepemimpinan etis juga berkaitan dengan employee voice, antara lain melalui psychological safety dan pemberdayaan psikologis.

Namun, temuan tersebut tidak berarti satu kalimat tertentu otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang efektif. Kepemimpinan dipengaruhi banyak faktor, termasuk perilaku, pengalaman, hubungan dengan orang lain, dan lingkungan.

Jadi, kalau Bunda terbiasa bertanya "Bagaimana pendapat Anda?", mengucapkan "Terima kasih", memberikan apresiasi, atau menawarkan bantuan kepada orang lain, kebiasaan tersebut memang bisa menjadi bagian dari gaya komunikasi yang suportif.

Sebab, menjadi pemimpin bukan hanya soal siapa yang berada paling depan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membuat orang lain merasa didengar, dihargai, dan punya ruang untuk berkembang.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda