moms-life
Kebiasaan Orang yang Hidup Bahagia Menurut Psikologi, Sederhana tapi Jarang Disadari
HaiBunda
Minggu, 06 Sep 2026 16:35 WIB
Daftar Isi
-
Kebiasaan orang yang hidup bahagia menurut psikologi
- 1. Menjaga hubungan dengan orang yang membuat nyaman
- 2. Tidak menunggu hidup sempurna untuk menikmati hal baik
- 3. Berbicara kepada diri sendiri dengan lebih baik
- 4. Punya aktivitas yang benar-benar disukai
- 5. Tetap belajar dan mencoba hal baru
- 6. Memiliki tujuan yang terasa bermakna
- 7. Lebih sering mengutamakan pengalaman daripada sekadar memiliki barang
- 8. Melakukan aktivitas fisik secara rutin
- 9. Menikmati hal-hal kecil tanpa merasa harus selalu produktif
- 10. Tidak memaksakan diri untuk selalu bahagia
Orang sering bilang hidup bahagia itu ketika punya banyak uang, pekerjaan sesuai yang diinginkan, keluarga harmonis, atau kehidupannya berjalan sesuai rencana.
Padahal menurut psikologi, kebahagiaan itu jauh lebih kompleks. Menariknya, sesuatu yang dapat mendukung kebahagiaan justru bisa ditemukan dalam kebiasaan sehari-hari yang sering kita anggap sederhana atau sepele.
Bahagia tidak hanya soal seberapa sering Bunda merasa senang. Kebahagiaan juga berkaitan dengan kepuasan terhadap kehidupan, hubungan dengan orang lain, kondisi emosional, serta perasaan bahwa hidup yang dijalani punya makna dan tujuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, orang yang hidup bahagia bukan berarti selalu terlihat ceria. Mereka tetap bisa merasa sedih, kecewa, marah, atau menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan.
Beberapa penelitian menemukan bahwa kesejahteraan psikologis juga dapat didukung oleh kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, ini bukan berarti satu kebiasaan tertentu otomatis membuat seseorang bahagia.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Nature Human Behaviour menelaah bukti ilmiah di balik berbagai cara yang sering disebut dapat meningkatkan kebahagiaan, seperti bersyukur, bersosialisasi, berolahraga, melakukan mindfulness atau meditasi, dan menghabiskan waktu di alam. Peneliti menemukan bahwa kekuatan bukti untuk masing-masing cara tersebut ternyata berbeda-beda.
Penelitian yang lebih baru juga terus melihat berbagai aktivitas yang dapat membantu meningkatkan well-being. Lantas, kebiasaan sederhana apa saja yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik?
Kebiasaan orang yang hidup bahagia menurut psikologi
Sepertinya hampir semua orang ingin menjalani hidup yang bahagia, dan masing-masing memiliki cara berbeda untuk mencapainya. Sebenarnya, sejumlah kebiasaan sederhana yang dilakukan sehari-hari dapat mendukung kesejahteraan tersebut.
Bahkan, beberapa di antaranya mungkin terlihat sepele dan jarang disadari sebagai bagian dari hidup yang lebih bahagia.
Psikoterapis dan penulis Barton Goldsmith, Ph.D., dalam artikelnya di Psychology Today, menyebut sejumlah kebiasaan dapat membantu seseorang meningkatkan kebahagiaan.
Di antaranya menghabiskan waktu bersama orang yang membuat tersenyum, berpegang pada nilai hidup, menikmati hal-hal baik, melakukan aktivitas yang disukai, menemukan tujuan hidup, serta terbuka terhadap perubahan.
Berikut beberapa kebiasaan sederhana untuk hidup bahagia menurut psikologi:
1. Menjaga hubungan dengan orang yang membuat nyaman
Orang yang hidup bahagia bukan berarti harus selalu ramai dan punya banyak teman. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan yang terasa dekat, aman, dan bermakna.
Goldsmith menyarankan untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang membuat kita tersenyum dan merasa nyaman.
Hal ini sejalan dengan penelitian Nicholas Epley, Ph.D., profesor ilmu perilaku di University of Chicago Booth School of Business. Penelitiannya menunjukkan bahwa orang sering kali meremehkan seberapa menyenangkan interaksi sosial yang sebenarnya dapat mereka nikmati.
Jadi, kebiasaan sederhana seperti menelepon teman, ngobrol dengan pasangan, makan bersama keluarga, atau sekadar menyapa orang lain bisa mempunyai arti lebih besar daripada yang kita kira.
2. Tidak menunggu hidup sempurna untuk menikmati hal baik
Ada orang yang sulit menikmati sesuatu karena merasa hidupnya belum cukup baik. Misalnya saja, baru merasa boleh bahagia setelah punya rumah sendiri, pekerjaan lebih mapan, berat badan ideal, atau target tertentu tercapai.
Padahal, Goldsmith menyarankan untuk belajar menerima dan menikmati hal-hal baik yang sudah terjadi, termasuk hal kecil.
Penelitian mengenai rasa syukur juga mendukung pentingnya kebiasaan ini. Sebuah meta-analisis terbaru yang mencakup 145 artikel penelitian, 163 sampel, dan lebih dari 24 ribu partisipan dari 28 negara menemukan bahwa latihan rasa syukur dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan, meski efeknya tergolong kecil.
Ini artinya, menghargai secangkir kopi yang enak, waktu bersama anak, udara pagi yang nyaman, atau kabar baik yang datang hari ini bukan sekadar "bersyukur saja".
3. Berbicara kepada diri sendiri dengan lebih baik
Kesalahan kecil bisa membuat seseorang langsung melabeli dirinya bodoh, gagal, atau tidak becus. Padahal, cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri berkaitan dengan self-compassion atau welas asih kepada diri sendiri.
Daripada terus menyalahkan diri sendiri ketika melakukan kesalahan, seseorang dapat belajar mengatakan, "Aku memang salah, tapi aku bisa memperbaikinya."
Meta-analisis terhadap 79 sampel dengan total 16.416 partisipan menemukan hubungan positif yang cukup kuat antara self-compassion dan well-being. Hubungan tersebut juga terlihat pada berbagai aspek kesejahteraan, termasuk kesejahteraan psikologis dan kognitif.
Penelitian lain yang lebih baru juga menunjukkan bahwa komponen positif dari self-compassion, seperti memperlakukan diri dengan baik dan menyadari bahwa manusia bisa mengalami kesulitan, berkaitan dengan mental well-being.
Cobalah untuk berbicara kepada diri sendiri dengan lebih lembut. Ini bukan berarti Bunda sedang memanjakan diri atau selalu membenarkan kesalahan. Justru dengan cara tersebut, seseorang tetap bisa mengakui kesalahan tanpa harus merendahkan dirinya sendiri.
4. Punya aktivitas yang benar-benar disukai
Kebahagiaan tidak harus datang dari sesuatu yang besar. Memasak, membaca, berkebun, membuat kue, melukis, berjalan-jalan, bermain musik, olahraga, atau melakukan hobi lain bisa menjadi bagian dari keseharian yang memberi rasa senang.
Dalam artikel terbarunya, Alexandra Potora menyarankan untuk meluangkan waktu melakukan hal-hal yang disukai dan membuat diri merasa nyaman. Menurutnya, kebiasaan sederhana ini bisa membantu menghadirkan lebih banyak keceriaan dalam keseharian.
Penelitian tentang mencoba aktivitas baru juga menarik. Dalam sebuah eksperimen, orang yang melakukan kebaikan atau mencoba sesuatu yang baru selama 10 hari mengalami peningkatan kepuasan hidup dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.
Artinya, rutinitas memang bisa terasa nyaman, tetapi sesekali mencoba sesuatu yang berbeda juga enggak ada salahnya. Siapa tahu justru menemukan hal baru yang ternyata menyenangkan.
5. Tetap belajar dan mencoba hal baru
Orang bahagia tidak harus terus-menerus mencari pengalaman besar. Mencoba resep baru, mempelajari keterampilan baru, membaca topik yang belum pernah dipelajari, atau melakukan aktivitas yang berbeda dari biasanya juga dapat memberikan rasa pencapaian.
Penelitian mengenai kebaruan (novelty) menunjukkan bahwa pengalaman baru dapat berhubungan dengan kepuasan hidup. Dalam studi eksperimental, melakukan tindakan baru maupun tindakan kebaikan selama beberapa hari meningkatkan life satisfaction.
Oleh karena itu, belajar sesuatu yang baru bukan hanya soal menambah kemampuan. Ada kemungkinan rasa penasaran, tantangan, dan pengalaman menguasai sesuatu yang sebelumnya belum dikuasai ikut memberikan kepuasan psikologis.
6. Memiliki tujuan yang terasa bermakna
Bahagia bukan hanya soal merasa senang sepanjang waktu. Seseorang juga bisa merasa hidupnya lebih berarti ketika mengetahui untuk apa ia menjalani sesuatu.
Tujuan tersebut tidak harus spektakuler. Ini bisa berupa membesarkan anak, membantu keluarga, menjalani pekerjaan yang dianggap bermakna, berkarya, membantu orang lain, atau berkontribusi pada lingkungan sekitar.
Goldsmith juga memasukkan menemukan tujuan hidup sebagai salah satu kebiasaan orang yang bahagia.
Penelitian menunjukkan hubungan yang konsisten antara purpose in life dan kesehatan mental. Meta-analisis terhadap lebih dari 531 ribu orang dari 72 sampel menemukan bahwa tujuan hidup yang lebih kuat berkaitan dengan lebih rendahnya gejala depresi.
Penelitian lain terhadap 108.391 partisipan juga menemukan bahwa orang dengan tujuan hidup yang lebih kuat cenderung melaporkan tingkat stres subjektif yang lebih rendah.
Bahkan, meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 terhadap 25 sampel dengan total 488.765 partisipan menemukan bahwa purpose in life memiliki hubungan dengan risiko kematian dini yang lebih rendah.
Namun, hasil ini menunjukkan hubungan, bukan berarti memiliki tujuan hidup secara langsung mencegah kematian.
7. Lebih sering mengutamakan pengalaman daripada sekadar memiliki barang
Membeli barang baru memang bisa menyenangkan, Bunda. Namun, kebahagiaan setelah memiliki benda tidak selalu bertahan lama.
Sejumlah penelitian psikologi konsumen menemukan bahwa pengalaman, seperti bepergian, makan bersama orang lain, mengikuti kegiatan, atau melakukan aktivitas yang berkesan, sering kali memberikan kepuasan yang lebih bertahan dibandingkan pembelian barang material.
Penelitian lain menunjukkan pengalaman juga lebih mudah menjadi bahan cerita dan dibagikan kepada orang lain, sehingga memberikan manfaat sosial tambahan.
Namun, bukan berarti membeli barang pasti membuat seseorang tidak bahagia. Penelitian menunjukkan efeknya juga dapat dipengaruhi kondisi sosial dan ekonomi seseorang.Â
Untuk orang dengan sumber daya terbatas, pembelian barang yang memang dibutuhkan dapat memberikan manfaat yang berbeda. Jadi, bukan soal "jangan beli barang", melainkan memberi ruang untuk pengalaman dan hubungan sosial. Bukan hanya mengejar kepemilikan.
8. Melakukan aktivitas fisik secara rutin
Olahraga sering dikaitkan dengan kesehatan fisik, tetapi manfaatnya tidak berhenti di sana.
Meta-analisis yang meneliti hubungan aktivitas fisik dengan subjective well-being pada individu sehat menemukan hubungan positif dengan ukuran efek kecil hingga sedang. Hubungan tersebut juga terlihat pada berbagai kelompok usia dan jenis aktivitas fisik.
Bukan berarti seseorang harus berolahraga berat setiap hari. Berjalan kaki, bersepeda, menari, berenang, atau aktivitas fisik lain yang sesuai kemampuan juga bisa menjadi pilihan.
Yang lebih penting adalah menemukan bentuk aktivitas yang realistis sehingga dapat dilakukan secara konsisten.
9. Menikmati hal-hal kecil tanpa merasa harus selalu produktif
Ada anggapan bahwa waktu yang tidak digunakan untuk bekerja atau mencapai sesuatu adalah waktu yang terbuang. Padahal, menikmati hal sederhana juga punya tempat dalam kehidupan yang sehat secara psikologis.
Goldsmith memasukkan menikmati kenangan indah, lelucon, orang-orang yang disayangi, hari yang menyenangkan, dan berbagai kesenangan sederhana sebagai salah satu kebiasaan orang bahagia.
Hal serupa juga terlihat dalam pendekatan psikologi positif yang melihat well-being bukan hanya dari ada atau tidaknya gangguan mental, tetapi juga dari emosi positif, hubungan sosial, makna hidup, kesehatan, karakter, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Dengan kata lain, hidup yang baik tidak harus selalu terasa produktif.
Terkadang, cukup dengan duduk menikmati teh hangat, bercanda bersama anak, mendengarkan lagu kesukaan, atau menikmati sore tanpa melakukan sesuatu yang "penting" justru menjadi bagian dari hidup yang ingin kita ingat.
10. Tidak memaksakan diri untuk selalu bahagia
Ini mungkin justru kebiasaan yang paling jarang disadari. Â Keinginan untuk bahagia bisa berubah menjadi tekanan ketika seseorang merasa dirinya harus selalu positif.
Padahal, hidup bahagia bukan berarti tidak pernah sedih, kecewa, marah, takut, atau lelah. Psikologi memandang well-being secara lebih luas daripada sekadar sering merasa senang.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menggunakan konsep flourishing yang mencakup kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik dan mental, makna dan tujuan, karakter, serta hubungan sosial yang dekat.
Bahkan, penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa mengejar kebahagiaan secara langsung tidak selalu otomatis meningkatkan kesejahteraan. Cara seseorang mendefinisikan kebahagiaan dan apakah kebahagiaan itu berkaitan dengan hubungan sosial juga berperan.
Jadi, tidak apa-apa jika hari ini Bunda sedang tidak bahagia. Yang penting bukan memaksa diri untuk selalu tersenyum, melainkan memiliki kebiasaan dan hubungan yang membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
12 Tanda Seseorang Terlahir Egois Menurut Psikologi
Mom's Life
Simak 5 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Orang Tak Kompeten
Mom's Life
11 Macam Kepribadian dari Cara Duduk, Gambarkan Sifat Periang hingga Perfeksionis
Mom's Life
7 Hal yang Bikin Bunda Memesona Selain Menggunakan Riasan Wajah
Mom's Life
Tanda Orang yang Diam-diam Benci pada Kita, Salah Satunya Kontak Mata
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Wisuda S2 Psikologi Tsania Marwa, Anggun Berbalut Kebaya Merah
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Zodiak Paling Cocok Jadi Pemimpin, Punya Jiwa Leadership yang Kuat
Ciri Orang yang Punya Energi Positif, Terlihat dari Sikap dan Cara Berinteraksi
8 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang "Aku Baik-baik Saja" Padahal Tidak Menurut Psikolog