Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

5 Tanda Seseorang Mengalami Toxic Positivity, Terlalu Memaksakan Diri untuk Selalu Positif

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Rabu, 02 Sep 2026 20:40 WIB

Ilustrasi Perempuan Asia Karier
Ilustrasi tanda seseorang mengalami toxic positivity / Foto: Getty Images/iStockphoto/Perawit Boonchu
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda, tidak semua sikap positif selalu membawa dampak baik. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan memaksakan pikiran positif justru dapat membuat seseorang mengabaikan emosi yang sedang dirasakan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai toxic positivity, yaitu kecenderungan menolak, menekan, atau mengesampingkan perasaan negatif demi terlihat baik-baik saja.

Seseorang bahkan bisa merasa harus selalu bahagia meski sedang menghadapi masalah, kehilangan, atau situasi yang berat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Toxic positivity bukan istilah atau diagnosis resmi dalam psikologi, melainkan pola perilaku yang dapat muncul dalam diri sendiri maupun dari tekanan orang lain.

Mengenali tandanya penting agar seseorang tetap bisa menerima emosi yang kurang menyenangkan tanpa merasa bersalah karena tidak selalu berpikir positif.

Apa itu toxic positivity?

Dilansir Medical News Today, toxic positivity terjadi ketika seseorang menganggap berpikir positif sebagai satu-satunya cara untuk menghadapi masalah.

Kondisi ini membuat seseorang dituntut untuk menghindari pikiran negatif atau tidak menunjukkan emosi yang kurang menyenangkan.

Penelitian tentang berpikir positif umumnya membahas manfaat memiliki pandangan optimistis saat menghadapi masalah.

Berbeda dengan itu, toxic positivity menuntut seseorang untuk tetap positif apa pun situasi yang sedang dihadapi. Akibatnya, emosi yang sebenarnya bisa terabaikan dan seseorang menjadi enggan mencari dukungan dari orang lain.

Adapun beberapa contoh orang tersebut mengalami toxic postiivity. Berikut di antaranya:

  • Mengatakan kepada orang tua yang kehilangan anak agar tetap bahagia karena masih bisa memiliki anak lagi.
  • Mengatakan setelah terjadi bencana bahwa semua terjadi karena ada alasannya.
  • Meminta seseorang hanya melihat sisi positif dari kehilangan yang sangat menyakitkan.
  • Menyuruh seseorang segera melupakan kesedihan atau penderitaannya dan lebih fokus pada hal-hal baik dalam hidup.
  • Menganggap orang yang selalu terlihat positif atau jarang menunjukkan emosinya sebagai pribadi yang lebih kuat atau disukai.
  • Mengabaikan kekhawatiran seseorang dengan mengatakan, “Masih ada yang lebih buruk”.

5 Tanda orang mengalami toxic postivity

Sikap yang umumnya positif sebenarnya tidak bahaya. Namun, orang yang merasa harus selalu berpikir positif bisa saja mengabaikan masalah serius atau tidak menyadari adanya masalah kesehatan mental yang perlu ditangani.

Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa tanda peringatan yang sebaiknya segera dikenali, sebagai berikut:

1. Mengabaikan masalah yang sebenarnya

Tinjauan terhadap 29 penelitian tentang kekerasan dalam rumah tangga pada 2020 menemukan bahwa pandangan yang terlalu positif dapat membuat korban meremehkan tingkat keparahan kekerasan yang dialami dan tetap bertahan dalam hubungan tersebut.

Sikap terlalu optimistis, berharap semuanya akan membaik, atau mudah memaafkan dapat meningkatkan kemungkinan seseorang tetap bersama pelaku meski kekerasan semakin parah.

2. Meremehkan rasa kehilangan

Kesedihan merupakan hal yang wajar ketika seseorang mengalami kehilangan. Jika terus-menerus diminta untuk move on atau kembali bahagia, seseorang bisa merasa orang lain tidak peduli dengan dukanya.

3. Merasa terasing dan malu

Orang yang merasa harus selalu tersenyum meski sedang menghadapi masalah mungkin menjadi enggan mencari dukungan.

Mereka bisa merasa sendirian atau malu dengan emosinya sendiri sehingga memilih tidak meminta bantuan. Stigma terhadap masalah kesehatan mental juga dapat membuat seseorang enggan mencari pertolongan.

4. Mengganggu komunikasi

Setiap hubungan pasti memiliki masalah. Toxic positivity dapat membuat seseorang memilih mengabaikan persoalan dan hanya berfokus pada sisi positif.

Jika terus dilakukan, cara ini dapat menghambat komunikasi serta menyulitkan pasangan atau orang terdekat dalam mencari solusi bersama.

5. Menurunkan rasa percaya diri

Emosi negatif merupakan bagian alami dari kehidupan. Toxic positivity mendorong seseorang untuk menekan perasaan tersebut, padahal emosi yang terus dipendam justru bisa terasa semakin kuat. Ketika tidak mampu merasa positif, seseorang bahkan dapat menganggap dirinya gagal.

Cara menghindari toxic positivity

Dilansir Psychology Today, untuk menghindari toxic positivity, cobalah untuk mengakui, menerima, dan mengubah sudut pandang emosi negatif,

Misalnya, alih-alih mengatakan “Berpikir positif”, katakan sesuatu seperti, “Perasaanmu itu wajar. Bagaimana saya bisa membantu?” pendekatan yang sama dapat diterapkan pada pikiran Bunda sendiri.

Jika secara konsisten mengalami kesulitan dalam hal ini, ada baiknya membahas topik ini dengan seorang terapis.

Nah, itulah beberapa hal yang dapat Bunda kenali tentang toxic positivity. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda