Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

7 Kalimat yang Dihindari Orang dengan EQ Tinggi saat Bicara dengan Teman Menurut Psikolog

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Senin, 10 Aug 2026 14:25 WIB

Ilustrasi Perempuan Asia
Ilustrasi Kalimat yang Dihindari Orang dengan EQ Tinggi saat Bicara dengan Teman Menurut Psikolog/ Foto: Getty Images/iStockphoto/nathaphat
Daftar Isi
Jakarta -

Kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) adalah tentang memahami dan mengelola emosi sendiri, serta emosi orang lain. Orang dengan kecerdasan emosional tinggi biasanya lebih berhati-hati dalam memilih kata, terutama saat berbicara dengan teman.

Mereka memahami bahwa satu kalimat yang terdengar sepele bisa membuat orang lain merasa diremehkan atau tidak dihargai. Oleh karena itu, orang-orang ini cenderung memiliki cara berkomunikasi yang khas, terutama dalam mengatasi konflik.

"Salah satu ciri khas EQ tinggi adalah kemauan dan keberanian untuk menghadapi konflik secara langsung," kata terapis Dr. Deborah Vinall, Psy.D., LMFT, dilansir Parade.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Saat kita mengasah kemampuan untuk mengenali, menghadapi, dan mengakui perasaan yang menyakitkan, termasuk rasa bersalah, kita mengembangkan kapasitas untuk melakukan percakapan jujur tentang hal-hal sulit dengan orang-orang dalam hidup kita. Kesadaran diri dan empati memungkinkan perbaikan," sambungnya.

Lantas, apa saja kalimat yang sering dihindari orang dengan EQ tinggi saat bicara dengan teman? Simak penjelasannya berikut ini!

Kalimat yang dihindari orang EQ tinggi saat bicara

Berikut 7 kalimat yang sering dihindari orang dengan EQ tinggi saat bicara dengan teman atau orang lain:

1. "Saya tidak mengerti mengapa itu menyakitkan"

Vinall mengatakan bahwa ungkapan ini sama dengan 'Itu bukan masalah besar'. Orang dengan EQ tinggi tidak mengatakan karena akan membuat orang lain terluka.

"Jika ungkapan 'Itu bukan masalah besar' justru meremehkan, kata-kata seperti 'Saya mengerti mengapa itu menyakitkan' akan menguatkan. Ini tidak berarti kita bermaksud menyakiti, tetapi mengakui bahwa teman sedang terluka. Hal ini menciptakan kelembutan dan koneksi yang penting untuk pemulihan," ungkap Vinall.

2. "Bukan itu yang terjadi"

Vinall tidak menyarankan menggunakan frasa ini dengan seorang teman. Pasalnya, ingatan setiap orang berbeda-beda, Bunda.

"Terburu-buru menyangkal dan membantah pengalaman teman daripada mendengarkan inti permasalahan di balik keluhan tersebut adalah tindakan yang meremehkan dan gagal mengarah pada pemahaman atau perbaikan," kata Vinall.

3. "Itu masalah kamu"

Teman itu seperti rekan satu tim dan, seperti kata pepatah, 'Kerja sama tim mewujudkan dapat impian'. Jadi, tidak heran jika ungkapan ini bisa menjadi mimpi buruk dalam persahabatan.

Vinall mengatakan bahwa ungkapan itu kurang empati. Saat mengatakan hal tersebut ke tema, itu sama saja tidak menunjukkan kemauan untuk mencoba memahami keluhannya.

4. "Kamu membuat aku sangat marah"

Ungkapan ini juga tidak membantu, dan tidak akurat. Menurut Vinall, ungkapan ini dapat mengalihkan tanggung jawab atas perasaan pembicara.

Mengatakan kalimat ini seperti menjelaskan bahwa, 'Hanya kamu yang bertanggung jawab atas reaksi emosionalmu'.

5. "Saya turut menyesal kamu merasa seperti itu"

Orang yang cerdas secara emosional akan meminta maaf. Tetapi, ungkapan tersebut bukanlah permintaan maaf yang sebenarnya. Mengatakan kalimat, 'Saya turut menyesal kamu merasa seperti itu' hanya menjadi kedok di balik bahasa seorang yang tidak tulus.

"Tidak ada pertanggungjawaban atau tanggung jawab yang diambil untuk melakukan perubahan. Kedengarannya mirip dengan empati, tetapi tidak sepenuhnya sampai pada kepedulian," kata Vinall.

6. "Aku cuma bercanda. Kamu terlalu serius menanggapi semuanya"

Vinall mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan dengan EQ rendah seperti ini sama saja meremehkan orang lain. Orang yang mengatakan ini sama saja bersembunyi di balik alasan yang sering kali sulit dibantah.

"Meskipun lelucon yang tulus itu malah menyakitkan, tanggung jawab tetap berada pada orang yang membuat lelucon untuk menilai kesesuaian dan kepekaannya, serta bertanggung jawab jika hal itu mengakibatkan rasa sakit," ungkap Vinall.

7. "Kamu selalu membesar-besarkan segala sesuatu"

Vinall mengatakan bahwa frasa ini membuat pergeseran lain, yang bersifat meremehkan. Mengatakan ini sama saja mengalihkan fokus dari 'mendengarkan kekhawatiran yang sah menjadi menyerang orang yang terluka'.

"Motivasinya adalah untuk membela diri, bukan untuk kepedulian atau komunikasi," ujarnya.

Demikian 7 kalimat yang sering dihindari orang dengan EQ tinggi saat bicara dengan teman. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda