moms-life
5 Ciri Kepribadian yang Menunjukkan Kecemasan Seseorang di Tempat Kerja
HaiBunda
Minggu, 16 Aug 2026 14:25 WIB
Daftar Isi
Tanpa disadari, perasaan cemas dan juga tegang sering kali menyerang ketika jam kerja. Jika Bunda merasakannya, ternyata ada juga banyak orang yang merasakan hal serupa di luar sana. Agar lebih memahami diri dan karakternya, simak 5 ciri kepribadian yang menunjukkan kecemasan seseorang di tempat kerja, Bun.
Entah karena beban kerja yang menumpuk atau merasa lelah dengan lingkungan kerja yang toxic, perasaan tegang, cemas, atau seperti terasa ada yang mengganjal di perut kerap dialami para pekerja. Nah, hal ini ternyata juga banyak dialami para pekerja lainnya lho, Bunda.Â
Meskipun tak mengetahui apa penyebabnya dan apa nama kondisi yang dirasakan tersebut, sering kali perasaan yang muncul tersebut memang berakar dari kecemasan yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang psikolog klinis yang berbasis di Nevada, Tanisha Ranger, mengatakan bahwa inti dari setiap kecemasan ialah ketakutan. "Kecemasan adalah fokus pada masa depan, yakni ketakutan akan bencana yang mengintai. Kamu tidak bisa menyebutkan secara spesifik apa itu, kamu juga tidak yakin apa sebenarnya masalahnya, dan kamu hanya tahu bahwa situasi akan segera menjadi kacau balau," terangnya.
Ya, rata-rata dari para pekerja yang mengalami hal tersebut memang tak mengerti apa nama situasi yang mereka alami. Untuk itu, mengidentifikasi sumbernya menjadi langkah pertama yang bisa mengatasi kekhawatiran tersebut lebih lanjut.Â
5 Ciri kepribadian yang menunjukkan kecemasan seseorang di tempat kerja
Mengutip dari laman Huffpost, berikut ini ciri kepribadian yang berakar pada kecemasan. Kira-kira, Bunda lebih sesuai dengan yang mana ya? Simak beberapa cirinya berikut ini, Bun:
1. Perfeksionis
Menjadi perfeksionis merupakan jawaban umum yang diberikan kandidat saat ditanya mengenai kelemahan terbesar mereka dalam wawancara kerja. Karena, memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain umumnya dianggap sebagai sifat yang dapat diterima.
Namun, menjadi perfeksionis sebenarnya merupakan salah satu bentuk kecemasan. Nikki Lacherza-Drew, seorang psikolog berlisensi, mengatakan bahwa ini adalah sifat yang paling sering dikaitkan orang dengan kecemasan. "Ini soal kendali. Memiliki sifat ini bisa menentukan siapa yang memegangnya jika kamu tidak menginginkannya," ujarnya.Â
Bahkan dalam praktiknya, proyek kerja besar yang seharusnya dikerjakan tim bisa berubah menjadi pekerjaan individu bagi orang dengan sifat ini, karena segalanya harus berjalan sesuai keinginan mereka dan mereka yakin cara merekalah yang terbaik, tambahnya.
Selain itu, individu dengan sifat ini memiliki harga diri yang rendah atau ketakutan akan kegagalan sebagai akar masalahnya. "Mereka berusaha keras untuk tidak gagal, dan mereka yakin caranya adalah dengan menjadi sempurna. Hal ini sebenarnya ironis karena kesempurnaan itu mustahil dicapai, dan mereka justru akan gagal dalam upaya tersebut."
Jika kamu merasa sesuai dengan tipe ini, cobalah berlatih mengasihi diri sendiri dan mempertimbangkan untuk mengubah standar yang mustahil itu menjadi sekadar cukup baik.
2. People pleasing
Menjadi sosok yang selalu bersedia membantu memang bisa membuat seseorang disukai di kantor, namun ada titik di mana sikap kooperatif tersebut justru bisa lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat.
Jika kamu mendapati diri terus berkata "ya" padahal tidak memiliki waktu atau energi yang cukup, artinya kamu menjadi tipe orang yang terlalu ingin menyenangkan orang lain hingga mengorbankan diri sendiri demi pekerjaan.
"Sikap selalu ingin menyenangkan orang lain merupakan salah satu bentuk kecemasan karena hal itu muncul dari kekhawatiran akan apa yang dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan orang lain,"ujar Shannon Garcia, seorang psikoterapis di States of Wellness Counseling di Illinois dan Wisconsin.
Untuk mengurangi kebiasaan ini, tetapkan batasan waktu dan pertimbangkan apakah keinginan untuk berkata "ya" benar-benar didasari niat tulus membantu rekan kerja. Cobalah mengucapkan kalimat seperti, "Saya perlu memeriksa jadwal dulu" atau "Saya akan kabari lagi nanti" daripada langsung menyetujui permintaan rekan kerja secara impulsif.
3. Procrastination atau menunda-nunda pekerjaan
Jika sebuah tugas membuat kamu merasa cemas atau takut, kamu mungkin cenderung menundanya demi menghindari hal tersebut. Namun, ada baiknya mengenali dari mana asal dorongan untuk menghindari tugas-tugas yang sulit tersebut.
Jika kamu mendapati diri sendiri menghindari orang, tempat, atau tugas tertentu di tempat kerja, bisa jadi itu sebenarnya ialah kecemasan yang sedang menguasai kamu.
"Satu hal yang selalu saya sampaikan kepada klien saya adalah bahwa kecemasan itu tumbuh subur karena sikap menghindar. Menghindar adalah solusi sementara yang, dalam jangka panjang, justru memperparah kecemasan pada orang tersebut," ujar Garcia.
Untuk itu, jika merasa proyek yang didapatkan dirasa terlalu berat, cobalah memecahnya menjadi tugas-tugas kecil. Jika kamu memecahnya menjadi bagian-bagian kecil, kamu jadi sadar bahwa kamu mampu mengerjakan setiap bagian tersebut. Permasalahannya hanyalah kamu tidak bisa mengerjakannya secara sekaligus.
4. Micromanagement  (pengawasan yang terlalu detail)
Jika seseorang sedang mengalami kecemasan, hal itu bisa saja muncul dalam bentuk perilaku micromanagement atau mengontrol sesuatu dengan sangat rinci. Sama halnya dengan tipe perfeksionis, pelaku micromanagement mungkin memiliki dorongan kuat untuk mengendalikan detail terkecil dari setiap tugas, meskipun hal itu membuat mereka tidak disukai rekan kerja yang merasa mereka terlalu mendikte atau menekan.
Langkah yang bisa diambil ialah mencoba mengendalikan lingkungan dan memastikan diri sendiri memantau, memimpin, dan terlibat langsung dalam setiap hal yang akan dikerjakan.Â
Ranger mengatakan bahwa ketakutan yang memicu perilaku micromanagement ini terkadang berakar pada masa kecil di mana seseorang diperlakukan layaknya manajer tingkat menengah oleh orang tua atau pengasuh mereka. Artinya, mereka memikul banyak tanggung jawab namun tak memiliki wewenang.Â
Saat ada hal yang tidak beres, rasanya seolah-olah, kamu yang harus disalahkan atas kegagalan tersebut. Permasalahannya, ketika kamu tumbuh besar dengan kondisi seperti itu, setiap kali kamu merasa sedikit cemas, atau melihat ada sesuatu yang berpotensi kacau, kamu akan berusaha mengendalikan lingkungan karena secara batin kamu sedang panik luar biasa. Kamu mungkin tidak menyadarinya saat sudah dewasa, namun hal itu tetap terjadi.
5. Busyness
Jika kamu selalu merasa harus merencanakan acara kumpul kumpul (happy hour) dan mengikuti kehidupan sosial setiap rekan kerja demi menjadi karyawan terbaik, cobalah merenungkan dari mana asal dorongan kamu untuk selalu terlibat dalam urusan orang lain.
Ranger mengatakan bahwa keinginan untuk terus melibatkan diri bisa jadi berakar pada ketakutan akan penolakan yakni takut tidak disukai atau tidak diterima jika kamu tidak berpartisipasi dalam interaksi sosial semacam itu.
Dikatakan Ranger bahwa orang yang gemar mencampuri urusan orang lain sering kali meyakini prinsip "Jika kamu baik-baik saja, maka aku juga baik-baik saja."Â
Kemungkinan lainnya juga ialah karena mereka tumbuh dalam lingkungan keluarga mereka merasa harus 'berusaha keras' untuk mendapatkan kasih sayang. Orang yang merasa harus selalu sibuk ini mungkin memiliki keyakinan bahwa orang hanya menginginkan kehadiranmu sejauh kamu memberikan manfaat bagi mereka, ujar Ranger.
Hal yang perlu disadari tipe karakter ini ialah bahwa meskipun mereka tidak melakukan segalanya, orang lain akan tetap menyukai dan menghormati mereka, kata Ranger.Â
Nah, di antara kelima ciri kepribadian tersebut, kira-kira Bunda terasa mirip yang mana ya? Apakah ada yang benar-benar mencerminkan diri sendiri? Jangan panik dulu ya, Bun.
Menurut Lacherza Drew bahwa hal yang perlu dipahami mengenai ciri kepribadian ini ialah sifat-sifat tersebut berada dalam sebuah spektrum. "Memiliki ciri kepribadian atau kecenderungan tertentu tidak serta-merta berarti sifat tersebut akan selalu muncul dalam tindakan nyata,"katanya.
Selama dalam batasan normal, kecemasan yang dirasakan mungkin akan baik-baik saja. Tetapi, jika Bunda merasa kecemasan semakin berlebihan dan mengganggu kualitas hidup dan pekerjaan serta kegiatan sehari-hari, ada baiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental bisa menjadi solusi ya, Bun.
Semoga informasinya membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Â
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Simak 5 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Orang Tak Kompeten
Mom's Life
11 Macam Kepribadian dari Cara Duduk, Gambarkan Sifat Periang hingga Perfeksionis
Mom's Life
7 Hal yang Bikin Bunda Memesona Selain Menggunakan Riasan Wajah
Mom's Life
Tanda Orang yang Diam-diam Benci pada Kita, Salah Satunya Kontak Mata
Mom's Life
8 Pintu Ini akan Tunjukkan Kekuatan dan Kemampuan Bunda Hadapi Masa Depan
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Zhao Lusi Bintang Hidden Love Sebelum Jatuh Sakit hingga Pakai Kursi Roda dan Akui Alami Depresi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Orang yang Matang Secara Mental & Emosional Sering Ucapkan 10 Kalimat Ini
Ciri Kepribadian Orang EQ Tinggi yang Terlihat dari Reaksi Emosional
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi