Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Cara Mengenali Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI di Masa Depan, Cek Daftarnya!

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Selasa, 04 Aug 2026 20:40 WIB

close up of Asian woman presenting futuristic AI Agent Network technology on tablet in modern conference room
Ilustrasi AI / Foto: Getty Images/PonyWang
Daftar Isi

Khawatir AI mengganti pekerjaan Bunda? Kenali pekerjaan yang sulit digantikan AI di masa depan.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara banyak industri bekerja. Berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan manusia kini mulai dibantu bahkan digantikan oleh teknologi yang mampu bekerja lebih cepat dan efisien.

Kondisi ini membuat banyak orang, termasuk para lulusan baru dan orang tua yang sedang membantu anak memilih karier, bertanya-tanya pekerjaan seperti apa yang akan tetap dibutuhkan di masa depan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meski AI terus berkembang, para ahli menilai tidak semua profesi akan mudah tergantikan. Pekerjaan yang mengandalkan empati, kreativitas, keterampilan praktis, hingga kemampuan mengambil keputusan kompleks masih membutuhkan sentuhan manusia.

Untuk itu, memahami karakteristik pekerjaan yang lebih tahan terhadap disrupsi AI menjadi bekal penting dalam merencanakan karier jangka panjang. 

Cara mengenali pekerjaan yang sulit digantikan AI

Berikut daftar bidang pekerjaan yang dinilai lebih sulit digantikan AI menurut para pakar.

1. Tenaga kesehatan

AI memang mulai dimanfaatkan di dunia kesehatan, terutama untuk membantu pekerjaan administratif seperti memproses resep, memeriksa formulir pasien, hingga menjawab pertanyaan umum. Menurut Hira Malik, apoteker sekaligus salah satu pendiri Oushk Pharmacy, pekerjaan yang bersifat rutin dan berbasis data memiliki peluang lebih besar untuk diotomatisasi.

Profesi seperti dokter, perawat, apoteker, dan tenaga medis yang memiliki kewenangan menentukan diagnosis maupun pengobatan masih akan sangat dibutuhkan.

"AI dapat membantu mengatur informasi dan menandai potensi risiko, tapi AI tidak dapat memutuskan apakah suatu pengobatan aman atau tepat untuk diberikan kepada pasien," ujar Malik dilansir dari The Guardian.

Di sisi lain, dokter bedah plastik dan rekonstruksi Dr. Riaz Agha mengatakan beberapa spesialisasi medis juga lebih tahan terhadap AI karena setiap pasien memiliki kondisi yang unik. Menurutnya, AI dapat menjadi alat pendukung dalam menganalisis kasus-kasus sebelumnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan dokter.

"Bedah plastik terlalu spesifik dan sangat individual. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda," kata Agha.

2. Guru dan pengasuh anak

Di dunia pendidikan, AI diperkirakan lebih banyak membantu pekerjaan administratif serta tugas pendukung pembelajaran dibanding menggantikan guru sepenuhnya. Hubungan antara guru dan murid dinilai tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Pendiri Generational Success Lab di Universitas Oxford, Sharath Jeevan, mengatakan profesi guru tetap menjadi pilihan karier yang menjanjikan. Menurutnya, siswa akan selalu membutuhkan sosok orang dewasa yang dipercaya untuk membimbing proses belajar, memberi motivasi, sekaligus membangun karakter.

Hal serupa berlaku pada profesi pengasuh anak. Pendiri sekaligus CEO agensi penitipan anak Tiney, Brett Wigdortz, mengatakan orangtua tetap menginginkan manusia untuk merawat anak-anak mereka.

AI memang dapat membantu komunikasi dan pengelolaan administrasi, tetapi tidak bisa menggantikan kehangatan dan perhatian seorang pengasuh. Selain menjadi pengasuh anak, peluang karier lain di bidang ini juga mencakup pengelola tempat penitipan anak, guru pendidikan usia dini, tutor privat, hingga pengasuh profesional dengan layanan premium.

3. Pengacara

Di bidang hukum, pekerjaan yang bersifat rutin seperti meninjau dokumen, menyusun draft awal, mengisi formulir, dan mengumpulkan informasi menjadi bagian yang paling mudah dibantu AI. CEO Lawhive, Pierre Proner, menjelaskan bahwa posisi paralegal maupun pengacara junior kemungkinan akan mengalami perubahan terbesar karena sebagian tugas administratif dapat diselesaikan AI dengan cepat. Meski demikian, ia menegaskan profesi tersebut tidak akan hilang.

"Peran itu akan tetap ada, hanya saja bentuk pekerjaannya akan berubah," kata Proner.

Menurut Proner, pengacara masa depan justru akan lebih banyak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memberikan pertimbangan hukum, membangun hubungan dengan klien, sekaligus mengawasi hasil kerja AI. Ia menilai kemampuan menggunakan AI kini mulai menjadi keterampilan penting, sebagaimana penggunaan Microsoft Word atau Excel pada era sebelumnya.

Wakil Presiden Law Society of England and Wales, Brett Dixon, juga menilai otomatisasi pekerjaan rutin justru memberi kesempatan lebih besar bagi pengacara muda untuk mempelajari persoalan hukum yang lebih kompleks dan meningkatkan kualitas analisis mereka.

4. Pekerja perhotelan

Industri perhotelan juga diprediksi mengalami perubahan akibat AI. Namun pekerjaan yang mengutamakan pelayanan langsung kepada pelanggan dinilai tetap membutuhkan manusia.

Direktur akademik Westmont Institute of Tourism and Hospitality di Nova School of Business and Economics, Prof. Graham Miller, mengatakan AI sebaiknya digunakan untuk menangani pekerjaan rutin, seperti membalas e-mail atau administrasi. Dengan begitu, staf hotel memiliki lebih banyak waktu membangun hubungan hangat dengan tamu.

"Saya baru saja menginap di sebuah hotel di Barcelona dan stafnya luar biasa hangat, ramah, dan manusiawi. Mereka bahkan duduk bersama saya sambil membuatkan secangkir kopi. Tidak mungkin AI melakukan pekerjaan seperti itu," ujarnya.

Ia juga menilai profesi kreatif seperti koki memiliki peluang bertahan lebih besar dibanding pekerjaan operasional yang sifatnya berulang. AI masih belum mampu menciptakan inovasi kuliner yang benar-benar orisinal, meski beberapa proses memasak sederhana berpotensi diotomatisasi di masa depan.

5. Pekerja terampil

Profesi yang mengandalkan kemampuan fisik dan keterampilan langsung, seperti tukang batu, tukang kayu, hingga tukang plester, termasuk pekerjaan yang diperkirakan tetap memiliki prospek cerah.

Chief Executive Federation of Master Builders, Brian Berry, mengatakan AI memang mulai memengaruhi sektor konstruksi. Namun dampaknya belum merata, terutama pada pekerjaan lapangan yang membutuhkan keahlian praktis.

Berry menilai peluang kerja di perusahaan konstruksi lokal masih sangat menjanjikan karena pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian, pengalaman, serta kemampuan menyesuaikan kondisi di lapangan yang sulit dilakukan AI.

Ia juga menyoroti masih rendahnya minat orangtua mendorong anak bekerja di sektor konstruksi. Padahal kebutuhan tenaga kerja terampil terus meningkat dan profesi ini termasuk yang relatif tangguh menghadapi perkembangan AI.

6. Spesialis data dan teknologi di sektor keuangan

Sektor perbankan menjadi salah satu industri yang paling aktif memanfaatkan AI. Posisi seperti layanan pelanggan, pusat panggilan, pegawai operasional, hingga dukungan teknologi informasi diperkirakan akan semakin banyak dibantu sistem otomatis.

Meski begitu, analis senior perbankan Bloomberg Intelligence, Tomasz Noetzel, mengatakan permintaan terhadap profesi yang berkaitan dengan data dan teknologi justru akan meningkat. Contohnya ilmuwan data (data scientist), insinyur AI, serta pengembang perangkat lunak.

Selain itu, pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan profesional, seperti analis risiko, auditor internal, analis kepatuhan, peneliti investasi, hingga spesialis pemodelan risiko dinilai lebih tahan terhadap AI karena tetap memerlukan pengawasan dan penilaian manusia.

"Hanya sedikit pekerjaan di sektor perbankan yang benar-benar tidak akan terdampak AI, tetapi posisi yang membutuhkan pertimbangan profesional dan keahlian khusus tampak lebih tangguh menghadapi perubahan," ucapnya.

Dari berbagai pendapat para pakar di atas terlihat bahwa AI bukan sepenuhnya menggantikan manusia, melainkan mengubah cara seseorang bekerja. Profesi yang hanya berisi tugas-tugas berulang memang lebih rentan diotomatisasi.

Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan empati, kreativitas, komunikasi, keterampilan fisik, dan pengambilan keputusan kompleks masih memiliki prospek yang kuat. Untuk itu, selain menguasai bidang keahlian masing-masing, calon pekerja juga disarankan mulai memahami cara memanfaatkan AI sebagai alat pendukung.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda