Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Studi Ungkap Generasi Boomer Pilih Pensiun Dini karena Lelah Bekerja dengan Gen Z

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Jumat, 31 Jul 2026 20:40 WIB

Ilustrasi gen Z
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Keeproll
Daftar Isi
Jakarta -

Banyak generasi Baby Boomer lebih memilih pensiun dini karena malas bersinggungan dengan generasi Z. Mengapa demikian? Mari bahas di sini, Bunda. 

Perbedaan cara pandang antargenerasi di tempat kerja kembali menjadi sorotan. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa sebagian pekerja dari generasi Baby Boomer memilih mempercepat masa pensiun karena merasa lelah menghadapi dinamika bekerja bersama rekan kerja dari Generasi Z (Gen Z).

Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan di dunia kerja modern bukan hanya soal perkembangan teknologi atau target bisnis, melainkan juga terkait kesenjangan nilai, gaya komunikasi, hingga cara memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bagi Bunda yang masih aktif bekerja atau memiliki anak yang segera memasuki dunia profesional, hasil studi ini menjadi gambaran bahwa membangun hubungan kerja lintas generasi kini semakin penting.

Simak penemuan studi mengenai hubungan generasi Baby Boomer dan Gen Z di tempat kerja.

Studi: Generasi Boomer pilih pensiun dini karena Gen Z

Survei yang dilakukan Clari + Salesloft bersama lembaga riset independen Workplace Intelligence melibatkan 2 ribu tenaga penjualan dan pemimpin tim penjualan di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa 19 persen Baby Boomer berencana pensiun lebih awal karena merasa lelah bekerja dengan Gen Z.

Menariknya, keinginan menjaga jarak ternyata tidak hanya datang dari generasi yang lebih tua. Sekitar 28 persen Gen Z juga mengaku mencari pekerjaan yang memungkinkan mereka berinteraksi seminimal mungkin dengan Baby Boomer.

Laporan tersebut memperkirakan konflik antargenerasi menyebabkan perusahaan kehilangan produktivitas hingga US$56 miliar per tahun.

AI disebut menjadi salah satu pemicunya

Perkembangan teknologi AI menjadi salah satu faktor yang memperlebar kesenjangan di tempat kerja. Gen Z dinilai lebih cepat mengadopsi teknologi baru sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien, sementara sebagian pekerja senior masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

"Saat ini AI bisa menjadi pemecah, bukan pengganda kemampuan. Ada tenaga penjual yang bergerak lebih cepat, menutup lebih banyak transaksi, dan mencapai target dengan bantuan AI. Namun ada juga yang menolak atau hampir tidak menggunakannya," papar Steve Cox, CEO Clari + Salesloft, dilansir dari Newsweek.

"Kesenjangan inilah yang menciptakan gesekan di dalam tim dan menurunkan kinerja. Jika diterapkan dengan tepat, AI dapat menyelaraskan cara bekerja dan meningkatkan kemampuan seluruh anggota tim, bukan hanya mereka yang lebih dulu mengadopsinya," lanjutnya.

Sebagian Gen Z lebih memilih dipimpin AI

Survei tersebut juga menemukan adanya perubahan preferensi dalam pola kerja. Sebanyak 39 persen tenaga penjualan Gen Z mengaku lebih memilih dipimpin oleh AI dibandingkan oleh atasan dari generasi Baby Boomer.

Di sisi lain, 25 persen Baby Boomer mengatakan mereka lebih memilih bekerja bersama AI daripada harus berkolaborasi dengan rekan kerja dari Gen Z. Temuan ini menggambarkan bahwa teknologi kini tidak hanya mengubah cara bekerja, tapi juga memengaruhi hubungan antarkaryawan.

Perbedaan pandangan soal work-life balance

Selain AI, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi sumber perbedaan lain. Sebanyak 71 persen Gen Z menilai Baby Boomer lebih menghargai lamanya jam kerja dibandingkan hasil yang dicapai.

Tak hanya itu, 56 persen Gen Z bahkan menyebut generasi yang lebih tua turut berkontribusi terhadap budaya kerja yang dianggap toksik saat ini. Sebaliknya, 64 persen Baby Boomer berpendapat bahwa Gen Z terlalu mengutamakan work-life balance dibanding kebutuhan bisnis.

Perbedaan sudut pandang tersebut membuat kolaborasi lintas generasi kerap menjadi tantangan bagi banyak perusahaan.

Konflik antargenerasi dinilai berdampak pada bisnis

Zodiak yang suka mengatur lainnya adalah Aries.Ilustrasi/Foto: Getty Images/Koh Sze Kiat

Menurut Cox, kerugian produktivitas akibat konflik lintas generasi sebenarnya jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.

"Kerugian produktivitas sebesar 56 miliar dolar AS hanyalah biaya yang tampak. Ketika adopsi AI berjalan tidak merata, dampaknya akan semakin besar, mulai dari melesetnya proyeksi bisnis, eksekusi yang lebih lambat, hingga meningkatnya angka karyawan yang keluar dari perusahaan. Pada titik itu, konflik antargenerasi bukan lagi sekadar persoalan budaya kerja, melainkan persoalan yang memengaruhi kondisi keuangan perusahaan," ujarnya.

Pakar keuangan, Michael Ryan, pun menilai keputusan Baby Boomer untuk pensiun dini tidak sepenuhnya dipicu oleh kehadiran Gen Z. Menurutnya, perubahan besar dalam dunia kerja membuat banyak pekerja senior merasa sistem yang mereka kenal selama puluhan tahun sudah berubah total.

"Baby Boomer membangun karier berdasarkan loyalitas dan stabilitas. Namun kini dana pensiun semakin berkurang, harga rumah melonjak, dan jalur karier tidak lagi berjalan lurus. Mereka kini memimpin Gen Z di dunia yang reputasinya bisa berubah hanya karena satu pesan di aplikasi kerja. Pensiun dini bukan semata soal Gen Z, melainkan karena mereka menyadari bahwa aturan permainan yang selama ini dipelajari sudah tidak berlaku lagi," ujar Ryan.

Ia menambahkan bahwa Gen Z memiliki cara pandang berbeda karena tumbuh dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.

"Gen Z datang dengan perhitungan bertahan hidup yang berbeda. Mereka melihat loyalitas orangtua dibalas dengan pemutusan hubungan kerja. Mereka juga memasuki dunia kerja yang penuh ketidakpastian akibat AI dan beban utang. Untuk itu mereka bertanya, 'Apa keuntungannya jika harus mengorbankan diri?' Baby Boomer mendengarnya sebagai kemalasan, sedangkan Gen Z melihatnya sebagai bentuk perlindungan diri dari eksploitasi. Pekerjaannya sama, tapi cara mereka memandang risikonya sangat berbeda," tambahnya.

Perbedaan karakter antargenerasi sebenarnya hal yang wajar. Dibanding saling menyalahkan, perusahaan dan keluarga dapat berperan dalam membangun komunikasi yang lebih terbuka, menghargai pengalaman generasi senior sekaligus mendorong inovasi dari generasi muda.

Dengan saling memahami perbedaan nilai, cara bekerja, dan ekspektasi terhadap karier, kolaborasi lintas generasi berpeluang menjadi kekuatan yang mendorong produktivitas, bukan justru menjadi sumber konflik di lingkungan kerja.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda