Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Wabah Parasit Merebak di AS, Sayuran Ini Diduga Jadi Sumber Penularan

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Minggu, 02 Aug 2026 13:10 WIB

Ilustrasi selada
Ilustrasi / Foto: Getty Images/elenaleonova
Daftar Isi
Jakarta -

Wabah diare akibat parasit Cyclospora telah menyebabkan lebih dari 3.000 orang sakit di negara bagian Michigan dan Ohio, Amerika Serikat.

Dilansir CNN, hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa selada atau sayuran hijau untuk salad diduga menjadi sumber penularan. Meski demikian, pejabat kesehatan Michigan menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Mereka belum dapat memastikan jenis selada, petani, maupun pemasok tertentu sebagai penyebab wabah. Makanan lain juga masih berpotensi menjadi sumber penularan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kepala medis Michigan, Dr. Natasha Bagdasarian, mengatakan sejauh ini selada merupakan bahan makanan yang paling sering muncul dalam hasil penyelidikan.

Michigan mencatat 2.640 kasus, termasuk 44 pasien yang dirawat di rumah sakit. Sementara itu, Ohio melaporkan 361 kasus sejak 1 Juni, dengan total sedikitnya 46 orang dirawat di rumah sakit.

Kasus ditemukan di puluhan negara

Hingga 10 Juli, sebanyak 31 negara bagian telah melaporkan kasus Cyclospora kepada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Namun, belum diketahui apakah seluruh kasus tersebut berasal dari wabah yang sama. CDC menyebutkan bahwa dalam dua minggu terakhir terjadi peningkatan kasus dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meski begitu, jumlah kasus versi CDC masih lebih rendah dibandingkan data dari pemerintah daerah karena sebagian kasus masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut.

Sulit menemukan sumber penularan

Dilansir BBC, wakil ketua senior bidang epidemiologi di Rollins School of Public Health, University Emory, Jodie Guest, salah satu alasan mengapa parasit ini sangat sulit dilacak adalah karena dibutuhkan waktu satu hingga dua minggu bagi orang untuk jatuh sakit setelah terinfeksi.

Menurut Guest, pada sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh makanan, orang cenderung mengalami gejala dalam beberapa jam, sehingga lebih mudah untuk menemukan makanan yang menjadi penyebabnya.

Selain itu, pemeriksaan genetik terhadap parasit ini juga jauh lebih rumit dibandingkan bakteri penyebab keracunan makanan lainnya, seperti E.coli atau Salmonella.

Kondisi tersebut semakin diperparah setelah sejumlah program pemantauan penyakit bawaan makanan di Amerika mengalami pengurangan anggaran dan tenaga kerja.

Banyak kasus yang diperkirakan belum terdeteksi

Cyclospora umumnya tidak menular langsung dari orang ke orang. Seseorang biasanya terinfeksi setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi, terutama sayuran segar, buah-buahan, atau air.

Gejala yang muncul antara lain diare berair, kram perut, perut kembung, dan dehidrasi pada kasus yang berat.

Penyakit ini diobati menggunakan antibiotik selama 7-10 hari. Para ahli menduga jumlah kasus sebenarnya lebih tinggi daripada yang tercatat.

Sebagian orang memilih tidak memeriksakan diri ke dokter karena merasa malu atau berharap gejalanya akan sembuh sendiri.

Diagnosis juga tidak selalu mudah karena parasit Cyclospora tidak selalu muncul dalam sampel tinja. Beberapa pasien bahkan memerlukan lebih dari satu kali pemeriksaan, dan tes khusus ini tidak selalu tersedia dalam pemeriksaan laboratorium standar.

Belum ada penarikan produk dari pasaran

Hingga saat ini, penyelidik belum dapat memastikan makanan mana yang menjadi sumber wabah. Meski begitu, beberapa restoran dilaporkan secara sukarela menghentikan sementara penggunaan bahan makanan segar tertentu sebagai langkah pencegahan.

Bagdasarian menegaskan bahwa belum ada penarikan (recall) produk makanan secara nasional karena belum ditemukan bukti yang cukup kuat.

Selama penyelidikan berlangsung, tim kesehatan mewawancarai ribuan pasien untuk mengetahui makanan yang mereka konsumsi sebelum sakit.

Selain wawancara, penyelidik juga memeriksa bukti transaksi, seperti struk belanja, riwayat pembelian di supermarket, hingga pesanan makanan di restoran.

Menurut Bagdasarian, proses tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar karena setiap menu harus ditelusuri satu per satu untuk mencari kemungkinan sumber penularan.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda