Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Bukan cuma Soal Uang, Ini 7 Hal yang Dimiliki Orang dengan Hidup Bahagia

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 01 Aug 2026 14:25 WIB

Asian beautiful woman enjoying the sun.
Bukan cuma Soal Uang, Ini 7 Hal yang Dimiliki Orang dengan Hidup Bahagia/Foto: Getty Images/iStockphoto/LaraBelova
Daftar Isi
Jakarta -

Banyak orang berpikir hidup akan lebih bahagia setelah memiliki penghasilan tinggi, rumah impian, atau karier yang mapan. Namun, mengapa masih ada orang yang merasa kurang puas meski sudah memiliki semua itu?

Menurut sejumlah penelitian psikologi, kebahagiaan ternyata tidak hanya ditentukan kondisi finansial. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, ada berbagai faktor lain yang justru berperan lebih besar terhadap kesejahteraan dan kepuasan hidup seseorang.

Para ahli menilai, kebahagiaan jangka panjang lebih banyak dipengaruhi oleh cara seseorang menjalani hidup sehari-hari, kualitas hubungan dengan orang lain, serta kemampuan menemukan makna dalam hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Melansir Hack Spirit, psikolog positif Tal Ben-Shahar memperkenalkan istilah arrival fallacy, yaitu keyakinan bahwa seseorang baru akan merasa bahagia setelah mencapai tujuan tertentu.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepuasan setelah mencapai suatu target sering kali hanya bersifat sementara karena manusia cenderung beradaptasi dengan kondisi baru (hedonic adaptation).

7 Hal yang dimiliki orang dengan hidup bahagia

Berikut beberapa karakteristik yang sering ditemukan pada orang yang memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi menurut penelitian psikologi.

1. Mampu menikmati hal-hal kecil

Orang yang bahagia tidak selalu memiliki hidup yang sempurna. Mereka cenderung mampu menikmati pengalaman sederhana, seperti secangkir kopi di pagi hari, makan bersama keluarga, atau mengobrol dengan teman.

Menurut Neuropsikolog Rick Hanson, meluangkan waktu untuk benar-benar menikmati pengalaman positif dapat membantu pengalaman tersebut lebih mudah tersimpan dalam memori. Kebiasaan ini dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang.

2. Memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain

Salah satu temuan paling konsisten berasal dari Harvard Study of Adult Development, penelitian yang telah mengikuti kehidupan para peserta selama lebih dari 80 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan yang hangat dan saling mendukung merupakan salah satu prediktor terkuat kebahagiaan dan kesehatan pada usia lanjut.

"Temuan yang mengejutkan adalah bahwa hubungan kita dan seberapa bahagia kita dalam hubungan tersebut berpengaruh kuat terhadap kesehatan kita," kata Robert Waldinger, direktur Harvard Study of Adult Development, psikiater di Massachusetts General Hospital, sekaligus profesor psikiatri di Harvard Medical School, seperti dikutip dari Harvard Gazette.

Artinya, bukan banyaknya teman yang menentukan kebahagiaan, melainkan kualitas hubungan yang dimiliki.

3. Memiliki tujuan hidup

Psikolog Martin Seligman menjelaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya berasal dari kesenangan sesaat, tetapi juga dipengaruhi oleh meaning atau makna hidup sebagai salah satu unsur penting dalam teori PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, and Accomplishment).

Seseorang yang memiliki tujuan hidup dan merasa dirinya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.

4. Tidak menggantungkan kebahagiaan pada pencapaian

Sebagian orang percaya mereka akan merasa bahagia setelah mendapatkan pekerjaan impian, menikah, atau memiliki rumah sendiri. Namun, menurut APA Dictionary of Psychology, terdapat konsep hedonic treadmill, yaitu kecenderungan seseorang untuk kembali ke tingkat kebahagiaan dasar (baseline) setelah mengalami peristiwa positif maupun negatif. 

Ini artinya, rasa bahagia setelah mencapai suatu tujuan sering kali hanya berlangsung sementara karena manusia akan beradaptasi dengan kondisi barunya.

Karena itu, orang yang memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi umumnya tidak menunda kebahagiaan hingga semua target hidup tercapai. Mereka juga tetap mampu menemukan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat berhasil mencapai suatu pencapaian.

5. Mampu bersyukur atas apa yang dimiliki

Rasa syukur menjadi salah satu karakteristik yang sering ditemukan pada orang dengan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih baik.

Dalam tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Clinical Psychology Review, para peneliti menjelaskan bahwa rasa syukur berhubungan kuat dengan berbagai aspek kesejahteraan (well-being), termasuk kepuasan hidup, emosi positif, hubungan sosial yang lebih baik, hingga kesehatan mental. 

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa berbagai latihan sederhana untuk meningkatkan rasa syukur menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis.

6. Mau membangun hubungan yang tulus

Orang yang bahagia umumnya tidak hanya memiliki hubungan yang dekat, tetapi juga berusaha merawat hubungan tersebut melalui komunikasi yang hangat, saling mendukung, dan saling percaya.

Menurut Robert Waldinger, merawat hubungan sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik. Hubungan yang baik bukan hanya membuat seseorang merasa lebih bahagia, tetapi juga berkontribusi terhadap kesehatan dan kesejahteraan dalam jangka panjang.

"Merawat tubuh itu penting, tetapi merawat hubungan juga merupakan bentuk perawatan diri," ujar Waldinger.

7. Menerima bahwa hidup tidak selalu sempurna

Dalam tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di Clinical Psychology Review, psikolog Todd B. Kashdan dan Jonathan Rottenberg menjelaskan bahwa fleksibilitas psikologis (psychological flexibility) merupakan salah satu aspek penting kesehatan psikologis. 

Fleksibilitas psikologis merupakan kemampuan untuk beradaptasi dalam berbagai situasi, menerima berbagai emosi yang muncul, serta tetap mengambil tindakan yang sejalan dengan nilai-nilai yang diyakini.

Kemampuan ini dinilai sebagai salah satu aspek penting kesehatan psikologis.

Mengapa uang bukan satu-satunya penentu kebahagiaan?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa uang memang penting untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan rasa aman. Namun, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, bertambahnya pendapatan tidak selalu membuat seseorang merasa lebih bahagia.

Dalam tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di Review of General Psychology, psikolog Sonja Lyubomirsky bersama Kennon M. Sheldon dan David Schkade menjelaskan bahwa berbagai faktor memengaruhi kebahagiaan.

Meski kondisi hidup (life circumstances), termasuk kondisi ekonomi, turut memengaruhi kebahagiaan, pengaruhnya tidak sebesar yang banyak orang bayangkan selama ini.

Sebaliknya, aktivitas yang dilakukan secara sengaja (intentional activities), seperti membangun hubungan yang baik, melatih rasa syukur, berbuat baik kepada orang lain, serta melakukan aktivitas yang bermakna, dinilai berpeluang lebih besar dalam meningkatkan kebahagiaan untuk jangka panjang.

Karena itu, mengejar kesuksesan finansial tetap penting. Namun, menjaga hubungan yang sehat, merawat kesehatan mental, serta menemukan makna dalam kehidupan juga merupakan bagian penting untuk membangun kebahagiaan yang lebih bertahan lama.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda