Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Sering Dibilang Sensitif? Begini Cara Menjawabnya Menurut Psikolog

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Jumat, 31 Jul 2026 19:10 WIB

Women have mental symptoms illnesses and depression. meet psychiatrist to treat his illness. Patient female therapy treatment. Psychologist writing note problem anxiety session patient.
Ilustrasi perempuan sensitif / Foto: Getty Images/eakgrunge
Daftar Isi
Jakarta -

Tak sedikit orang pernah mendengar komentar seperti, “Kamu terlalu sensitif,” saat mengungkapkan perasaan atau menyampaikan pendapat.

Padahal, menjadi pribadi yang peka terhadap emosi bukan selalu berarti berlebihan. Sebagian orang memang memiliki kepekaan yang lebih tinggi sehingga lebih mudah merasakan, memahami, dan memproses emosi, baik milik diri sendiri maupun orang lain.

Namun, tidak semua orang dapat memahami hal tersebut. Alih-alih mendapat dukungan, orang yang dianggap sensitif justru kerap menerima respons yang meremehkan atau membuat perasaannya seolah tidak valid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Komentar seperti itu bisa datang dari pasangan, anggota keluarga, teman, hingga rekan kerja yang kurang memahami sudut pandang mereka.

Jika Bunda sering berada dalam situasi tersebut, tidak perlu terburu-buru menganggap diri terlalu berlebihan. Psikolog sekaligus penulis Dr. Alexandra Solomon membagikan beberapa cara yang bisa digunakan untuk merespons ketika seseorang mengatakan Bunda “terlalu sensitif.”

Cara menjawab ketika Bunda dibilang terlalu sensitif

Dilansir Parade, respons ini dapat membantu membuka percakapan yang lebih sehat atau mengakhiri pembicaraan dengan tetap menghargai diri sendiri.

Berikut beberapa kalimat yang dapat Bunda sampaikan untuk menjawab ketika dibilang terlalu sensitif:

1. “Hmm..Menarik. Aku penasaran ingin mendengar lebih banyak tentang perspektif kamu”

Kalimat ini bisa digunakan jika Bunda ingin membuka ruang untuk berdiskusi dan memahami alasan orang tersebut mengatakan Bunda “terlalu sensitif.”

Namun, menurut Solomon, respons ini sebaiknya hanya digunakan jika Bunda benar-benar mempercayai bahwa lawan bicara memiliki niat baik.

“Respons ini membuka peluang untuk umpan balik lebih lanjut, jadi sebaiknya hanya digunakan jika kamu benar-benar percaya bahwa orang lain memiliki kepentingan terbaik kamu di hati mereka dan bahwa mereka benar-benar tertarik untuk melakukan percakapan yang ingin tahu tentang mengapa kamu mungkin memiliki respons emosional seperti itu terhadap situasi yang sedang dihadapi,” ujar Salomon.

2. “Kamu benar. Aku memang orang yang sensitif. Dan apa yang kamu lakukan memang menyakiti perasaanku”

Menurut Solomon, daripada langsung membela diri atau menyangkal, cobalah menerima bahwa menjadi sensitif bukanlah hal yang buruk. Dengan mengakui bahwa diri memang sensitif, lawan bicara biasanya tidak lagi memiliki alasan untuk memperdebatkannya.

Selain itu, mampu merasakan dan mengekspresikan emosi justru merupakan tanda kesehatan mental yang baik. Jadi, tidak ada yang salah dengan menjadi pribadi yang peka terhadap perasaan.

3. “Aku paham kalau menurutmu aku terlalu sensitif. Tapi, aku tidak setuju”

Respons ini menunjukkan bahwa Bunda mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicara tanpa langsung terpancing emosi. Setelah itu, Bunda menyampaikan pendapat dengan tenang bahwa Bunda tidak sependapat.

Cara ini membantu menghindari perdebatan yang tidak perlu karena Bunda tidak berusaha memaksa orang lain mengubah pendapatnya. Meski percakapan mungkin tidak berlanjut jauh, setidaknya situasi tidak semakin memanas.

4. “Aku paham kalau menurutmu aku terlalu sensitif. Tapi, bisa jadi cara penyampaianmu juga terlalu kasar”

Respons ini juga dimulai dengan menunjukkan bahwa Bunda mendengarkan pendapat lawan bicara.

Bunda mengajak mereka melihat situasi dari sudut pandang lain, yaitu kemungkinan bahwa masalahnya bukan hanya pada perasaan Bunda, tetapi juga pada cara mereka berkomunikasi.

5. “Kalau posisinya dibalik, mungkin kamu memang tidak akan merasakan hal yang sama denganku. Tapi, itu bukan berarti perasaanku berlebihan atau tidak valid”

Menurut Solomon, setiap orang memiliki pengalaman hidup dan cara merasakan sesuatu yang berbeda. Oleh karena itu, wajar jika dua orang memberikan respons yang berbeda terhadap situasi yang sama.

Daripada memperdebatkan siapa yang paling benar, lebih baik saling menghargai bahwa setiap orang memiliki sudut pandang dan perasaannya sendiri. Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu pihak berlebihan atau keliru.

6. “Kalau aku bersedia mencari tahu kenapa emosiku begitu kuat, apakah kamu juga bersedia mencari tahu kenapa kamu merasa perlu mengkritik reaksiku?”

Solomon menjelaskan bahwa emosi sebenarnya bisa menjadi petunjuk untuk memahami diri sendiri.

Saat emosi tiba-tiba muncul dengan sangat kuat, cobalah bertanya pada diri sendiri apakah ada pengalaman masa lalu yang membuat situasi tersebut terasa lebih menyakitkan.

7. “Menurutmu aku terlalu sensitif. Aku jadi bertanya-tanya, apakah melihatku menunjukkan rasa sakit membuatmu tidak nyaman karena selama ini kamu selalu berusaha menahan emosimu sendiri?”

Solomon mengatakan respons ini mengajak lawan bicara melihat kemungkinan bahwa penilaiannya muncul karena ia sedang memproyeksikan perasaannya sendiri.

Bisa jadi, ia terbiasa menekan emosi dan merasa harus selalu terlihat kuat, sehingga merasa tidak nyaman saat melihat orang lain berani menunjukkan perasaannya.

Dengan kata lain, ia mungkin menghakimi karena Bunda melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia izinkan untuk dirinya sendiri, yaitu mengekspresikan emosi secara terbuka.

Nah, itulah beberapa cara menjawab yang dapat Bunda ikuti ketika dibilang terlalu sensitif. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda