Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Ini Dia 10 Kalimat yang Biasa Diucapkan Orang Pemalas

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 25 Jul 2026 22:00 WIB

Ilustrasi Perempuan Malas
Ini Dia 10 Kalimat yang Biasa Diucapkan Orang Pemalas/Foto: Getty Images/iStockphoto/PonyWang
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda pernah mendengar seseorang berkata, "Nanti saja", "Aku terlalu lelah", atau "Aku bekerja lebih baik di bawah tekanan?" Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa dalam percakapan sehari-hari.

Namun, jika sering diucapkan berulang kali, sebagian ahli menilai ungkapan tersebut dapat mencerminkan kebiasaan menunda pekerjaan (prokrastinasi) atau kecenderungan menghindari tanggung jawab.

Penting untuk memahami bahwa tidak semua orang yang  mengucapkannya benar-benar pemalas. Kurangnya motivasi juga bisa dipengaruhi oleh stres, burnout, gangguan tidur, atau kondisi kesehatan mental tertentu. Karena itu, kalimat-kalimat ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai seseorang. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Menunda-nunda dapat berdampak buruk bagi kesehatan Anda. Dan kita tahu bahwa hal itu dikaitkan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi, dan tentu saja tingkat stres yang lebih tinggi," kata psikolog Fuschia Sirois, PhD, dilansir dari YourTango. 

Sebenarnya, apa saja kalimat yang sering dikaitkan dengan kebiasaan tersebut?

Benarkah orang malas memiliki kalimat khas?

Tidak ada penelitian yang menyatakan bahwa seseorang bisa didiagnosis malas hanya dari kata-kata yang diucapkannya. Namun, psikolog menilai bahasa yang digunakan seseorang dapat mencerminkan pola pikir, motivasi, dan kebiasaan sehari-hari.

Psikolog Fuschia Sirois dan Timothy Pychyl menjelaskan dalam ulasan yang dipublikasikan di Social and Personality Psychology Compass bahwa prokrastinasi lebih berkaitan dengan kesulitan mengatur diri (self-regulation) dan mengelola emosi dibanding sekadar rasa malas.

Karena itu, kebiasaan menunda sering kali dapat tercermin dari alasan atau ungkapan yang diucapkan seseorang secara berulang. Namun, kondisi tersebut tetap perlu dilihat secara menyeluruh dan tidak bisa dijadikan dasar untuk memberi label pada seseorang.

10 Kalimat yang biasa diucapkan orang pemalas

Kalimat-kalimat berikut sering dikaitkan dengan kebiasaan menunda pekerjaan atau menghindari tanggung jawab. Tapi, perlu diingat bahwa mengucapkan salah satu kalimat ini bukan berarti seseorang pasti pemalas.

1. "Nanti saja, aku kerjakan belakangan"

Kalimat ini merupakan salah satu yang paling sering ditemui. Menurut Sirois, orang yang menunda pekerjaan sebenarnya tidak selalu malas. Mereka sering menghindari tugas karena merasa tidak nyaman, cemas, atau kewalahan saat harus mengerjakannya.

Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan menunda dapat membuat pekerjaan menumpuk dan meningkatkan tingkat stres menjelang tenggat waktu.

2. "Aku hanya tidak ingin melakukannya"

Setiap orang tentu pernah merasa tidak bersemangat untuk melakukan tugas. Saat seseorang sedang tidak termotivasi, ia mungkin sadar bahwa menolak akan mengecewakan orang lain. Namun, daripada berpura-pura bersedia, ia memilih mengatakan bahwa dirinya memang tidak ingin melakukannya.

Jika alasan tersebut terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab maka bisa memengaruhi produktivitas maupun komitmen terhadap orang lain. 

3. "Itu terlalu banyak pekerjaan"

Orang sering dicap malas hanya karena menghindari tugas. Apalagi kalau tugasnya terasa banyak, ini dapat membuat seseorang kehilangan motivasi. Salah satu cara mengatasinya adalah membagi pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil agar terasa lebih mudah dimulai. 

Jika alasan ini terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab, orang lain bisa kehilangan kepercayaan karena merasa tidak dapat mengandalkannya.

4. "Orang lain saja yang mengerjakannya"

Orang yang mengatakannya mungkin tidak bermaksud bersikap kasar. Tapi kalimat ini dapat menunjukkan kecenderungan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan dalam hubungan maupun lingkungan kerja.

5. "Aku memang tidak pandai melakukan itu"

Tidak semua orang yang mengucapkan kalimat ini benar-benar tidak mampu atau malas. Pada beberapa situasi, ungkapan tersebut bisa menjadi alasan untuk menghindari tugas yang dianggap sulit atau membutuhkan usaha lebih.

6. "Buat apa repot-repot?"

Seseorang yang merasa usahanya tidak pernah membuahkan hasil mungkin kehilangan motivasi dan mulai mempertanyakan manfaat melakukan suatu pekerjaan.

Jika dibiarkan, pola pikir ini dapat membuat seseorang semakin enggan mencoba.

7. "Aku kerjakan nanti"

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang dapat menjadi tanda kebiasaan menunda pekerjaan. Akibatnya, tugas dapat menumpuk dan harus diselesaikan dalam waktu yang sempit.

8. "Memang begitulah aku"

Ungkapan ini dapat menunjukkan sikap menerima kebiasaan yang kurang baik tanpa berusaha mengubahnya. Padahal, kebiasaan dan perilaku dapat berubah secara bertahap jika seseorang mau melatihnya secara konsisten.

9. "Aku terlalu lelah sekarang"

Rasa lelah memang nyata dan tidak boleh diabaikan. Tapi, jika keluhan ini muncul terus-menerus, penyebabnya bisa beragam. Mulai dari kurang tidur, stres, burnout, hingga kondisi medis tertentu. Karena itu, kalimat ini tidak selalu berarti seseorang malas.

10. "Aku bekerja lebih baik di bawah tekanan"

Sebagian orang merasa lebih fokus ketika tenggat waktu sudah dekat. Namun, kebiasaan menunda hingga menit-menit terakhir juga dapat meningkatkan stres dan membuat kualitas pekerjaan menjadi kurang optimal.

Tidak semua kebiasaan menunda berarti seseorang pemalas

Meski beberapa kalimat di atas sering dikaitkan dengan kebiasaan menunda pekerjaan, bukan berarti orang yang mengucapkannya pasti pemalas. Menurut psikolog Fuschia Sirois, prokrastinasi lebih berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi saat menghadapi tugas yang terasa sulit atau tidak menyenangkan daripada sekadar kemalasan.

Selain itu, kebiasaan menunda juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti stres, burnout, kurang tidur, hingga kondisi kesehatan mental tertentu. Karena itu, penting untuk memahami penyebab yang mendasarinya sebelum memberi penilaian terhadap seseorang.

Jika kebiasaan menunda mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu menemukan penyebab sekaligus strategi penanganan yang sesuai.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda