Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Cara Mengenali Orang dari Kebiasannya Santap Makanan Paling Enak di Suapan Terakhir

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Minggu, 12 Jul 2026 22:00 WIB

Ilustrasi Makan dan Diet
Cara mengenali orang dari kebiasannya santap makanan paling enak di suapan terakhir / Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Setiap orang memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Ada yang langsung menyantap bagian paling lezat dari sebuah hidangan sejak suapan pertama, tetapi tidak sedikit juga yang sengaja menyisakan makanan favoritnya hingga suapan terakhir.

Kebiasaan sederhana ini mungkin tampak sepele. Padahal, para psikolog telah lama menaruh perhatian pada berbagai rutinitas kecil sehari-hari karena dinilai dapat memberikan gambaran tentang cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, hingga menikmati sebuah pengalaman.

Meski urutan menyantap makanan bukan alat untuk menentukan kepribadian, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut bisa berkaitan dengan pola pikir tertentu, Bunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Cara mengenali orang yang menyantap makanan favorit di suapan terakhir

Mengutip dari Times of India, jika termasuk orang yang selalu menyimpan suapan terbaik di suapan terakhir, berikut beberapa cara kepribadian yang mungkin Bunda miliki:

1. Cenderung selalu berpikir ke depan

Menyimpan bagian terbaik dari makanan membutuhkan perencanaan yang cukup matang. Tanpa disadari, orang-orang ini sering mengatur makanan mereka sedemikian rupa sehingga bagian yang paling nikmat dan lezat tetap utuh hingga akhir.

Kebiasaan kecil itu mencerminkan kecenderungan untuk melihat melampaui momen saat ini. Mereka sering berpikir satu atau dua langkah ke depan, mempertimbangkan bagaimana pilihan hari ini akan membentuk pengalaman esok hari.

Bukan berarti terlalu berhati-hati, mereka sering lebih suka membuat keputusan dengan mempertimbangkan gambaran yang lebih besar daripada bertindak secara impulsif.

2. Memiliki pengendalian diri yang baik

Ketika sepotong kue favorit berada tepat di depan Bunda, memakannya segera memang menggoda.

Memilih untuk tidak memakannya membutuhkan sedikit pengendalian diri, meskipun keputusan itu terjadi hampir secara otomatis.

Menilik dari studi A Review of the Peak-end Rule in Mental Health Contexts yang dipublikasikan pada PMC PubMed Central, pengendalian diri secara konsisten mengaitkan penundaan kepuasan dengan kemampuan untuk mengatur impuls di berbagai bidang kehidupan.

Tentu saja, menyimpan makanan penutup hingga akhir tidak secara otomatis membuat seseorang sangat disiplin. Namun, orang yang secara alami menunda imbalan kecil sering kali merasa lebih mudah untuk tetap berkomitmen pada tujuan jangka panjang juga.

3. Menikmati menantikan imbalan

Alih-alih langsung menyantap suapan favorit, mereka menikmati sensasi mengetahui bahwa suapan itu masih menunggu.

Antisipasi menjadi bagian dari pengalaman, membuat suapan terakhir terasa lebih memuaskan. Psikolog menyebut ini sebagai kemampuan untuk menunda kepuasan.

Daripada mencari kesenangan instan, individu ini sering menemukan kenikmatan dalam membangun sesuatu secara bertahap.

Pola pikir yang sama dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari, baik itu merencanakan liburan berbulan-bulan sebelumnya atau menantikan akhir pekan setelah minggu yang sibuk.

4. Lebih suka membuat pengalaman menjadi berkesan

Tidak semua orang ingin momen-momen menyenangkan berakhir dengan cepat. Orang yang menyimpan bagian terbaik dari suatu pengalaman sering kali memperpanjang kenikmatan tersebut daripada terburu-buru menyelesaikannya.

Alih-alih menghabiskan makanan dengan apa pun yang tersisa, mereka sengaja menciptakan akhir yang akan mereka nikmati.

Sikap yang sama dapat terlihat di tempat lain. Mereka mungkin berlama-lama dalam percakapan, menikmati liburan hingga hari terakhir, atau meluangkan waktu untuk menyelesaikan buku favorit karena mereka tidak ingin pengalaman itu berakhir terlalu cepat.

5. Menemukan kenyamanan dalam kebiasaan kecil

Setiap orang mengembangkan kebiasaan kecil yang membuat kehidupan sehari-hari terasa akrab. Bagi sebagian orang, makan terasa tidak lengkap kecuali diakhiri dengan suapan favorit.

Ini bukan hanya tentang makanan itu sendiri, tetapi lebih mengikuti rutinitas yang terasa memuaskan. Psikolog sering mencatat bahwa ritual pribadi, sekecil apa pun, dapat menciptakan rasa kenyamanan.

Ritual tersebut memberikan momen-momen kecil kendali dalam kehidupan yang sibuk, mengubah pengalaman biasa menjadi sesuatu yang bermakna.

6. Menghargai detail yang diabaikan orang lain

Orang-orang ini sering memperhatikan tekstur, rasa, dan perbedaan kecil sepanjang menyantap hidangan.

Perhatian itu terkadang meluas di luar makanan. Mereka mungkin juga memperhatikan perubahan halus dalam suasana hati orang lain, mengingat detail kecil dari percakapan, atau menghargai isyarat kecil yang sama sekali dilewatkan orang lain.

7. Sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu instan

Di dunia yang dibangun di sekitar kepuasan instan, memilih untuk menunggu bahkan beberapa menit untuk sesuatu yang menyenangkan adalah hal yang sangat jarang terjadi.

Orang yang menyimpan suapan terbaik sering memahami bahwa kesenangan tidak selalu kehilangan nilainya ketika ditunda. Terkadang, menunggu justru membuatnya menjadi lebih manis.

Mereka mungkin juga sadar saat bekerja menuju tujuan pribadi, lebih bersedia menginvestasikan waktu dalam hubungan yang bermakna, dan cenderung tidak mengharapkan semuanya terjadi secara instan.

Nah, itulah beberapa kepribadian yang dapat Bunda kenali dari orang dengan kebiasaan santap makanan paling enak di suapan terakhir. Bunda juga termasuk?

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda