Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Tanda-tanda Burnout Kerja: Saat Tubuh dan Pikiran Mulai Kelelahan

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Selasa, 07 Jul 2026 20:40 WIB

Stress headache, burnout and woman in office overwhelmed with workload at desk with laptop. Frustrated, overworked and tired woman with computer at startup, anxiety from deadline time pressure crisis
Ilustrasi tanda-tanda burnout kerja / Foto: Getty Images/PeopleImages
Daftar Isi

Bunda mulai merasa pekerjaan belakangan sangat melelahkan? Mungkin ini menjadi tanda-tanda burnout. Kenali tanda-tanda burnout kerja yang membuat tubuh dan pikiran kelelahan.

Rutinitas pekerjaan yang padat, target terus bertambah, hingga tekanan untuk selalu produktif bisa membuat Bunda merasa lelah. Namun bila rasa lelah itu tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat, mungkin bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan tanda burnout.

Burnout merupakan kondisi stres kronis yang berkaitan dengan pekerjaan dan ditandai oleh kelelahan fisik, emosional, serta mental. Kondisi ini juga dapat memengaruhi aspek kehidupan lain, termasuk hubungan dengan keluarga, kemampuan mengasuh anak, hingga kesehatan secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengenali tanda-tanda burnout kerja sejak dini penting dilakukan agar Bunda bisa segera mengambil langkah untuk mengelola stres sebelum kondisinya semakin memburuk. Mengutip Verywell Mind, berikut informasi selengkapnya mengenai burnout kerja.

Apa itu burnout?

Burnout adalah keadaan ketika seseorang mengalami kelelahan berkepanjangan akibat tekanan yang terus-menerus, terutama di lingkungan kerja. Kondisi ini bisa membuat seseorang kehilangan semangat kerja, tidak peduli terhadap pekerjaannya, hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Meski paling sering dikaitkan dengan pekerjaan, burnout juga bisa terjadi pada orang yang menghadapi tekanan berat dalam kehidupan, seperti merawat anggota keluarga yang sakit, menjalani peran sebagai orang tua, menghadapi masalah hubungan, hingga kesulitan keuangan.

Jika tidak ditangani, burnout dapat memengaruhi kualitas hidup, kesehatan fisik, hingga kesehatan mental.

Burnout vs depresi

Burnout dan depresi memang memiliki sejumlah gejala yang mirip, seperti kehilangan minat, sulit berkonsentrasi, hingga merasa putus asa. Namun keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

Pada burnout, gejala umum berpusat pada pekerjaan atau sumber tekanan tertentu. Sementara depresi, perasaan sedih, kehilangan harapan, dan pikiran negatif biasanya memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, bukan hanya pekerjaan.

Meski demikian, burnout yang berlangsung lama bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi. Oleh sebab itu, jika gejala semakin berat atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Tanda-tanda burnout kerja yang perlu diwaspadai

Berikut tanda-tanda burnout kerja yang perlu Bunda waspadai.

1. Selalu merasa lelah

Kelelahan menjadi gejala utama burnout. Rasa lelah yang muncul bukan hanya setelah bekerja seharian, melainkan terasa hampir setiap waktu dan tidak kunjung membaik meski sudah tidur atau beristirahat.

Bunda juga mungkin merasa energi benar-benar terkuras sehingga aktivitas sederhana pun terasa berat untuk dilakukan.

2. Kehilangan motivasi dan mulai membenci pekerjaan

Burnout sering membuat Bunda kehilangan semangat untuk bekerja. Aktivitas yang dahulu terasa menyenangkan kini justru memicu rasa malas, cemas, atau enggan untuk memulainya. Tak sedikit pula yang mulai merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna sehingga motivasi dan produktivitas terus menurun.

3. Sulit fokus dan konsentrasi

Ketika mengalami burnout, pikiran cenderung mudah teralihkan. Hal ini membuat seseorang kesulitan menyelesaikan tugas, sering melakukan kesalahan, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk berkonsentrasi. Jika kondisi ini terus berlangsung, performa kerja pun dapat ikut menurun.

4. Mengalami gangguan tidur

Stres berkepanjangan dapat memengaruhi kualitas tidur. Ada yang sulit tidur di malam hari, sering terbangun, atau justru tidur lebih lama tetapi tetap merasa lelah saat bangun. Kurang tidur kemudian memperburuk burnout sehingga terbentuk siklus yang sulit diputus.

5. Nafsu makan berubah

Perubahan pola makan juga dapat menjadi sinyal burnout. Sebagian orang kehilangan selera makan dan sering melewatkan waktu makan, sementara lainnya justru lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak sebagai pelarian emosional.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan sehat yang kaya buah, sayur, produk susu rendah lemak, serta sumber protein tanpa lemak berkaitan dengan tingkat burnout yang lebih rendah.

6. Mudah marah dan berpikir negatif

Orang yang mengalami burnout cenderung menjadi lebih sinis terhadap pekerjaan maupun lingkungan sekitarnya. Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak menjadi masalah kini terasa sangat mengganggu. Akibatnya, emosi menjadi lebih mudah meledak dan hubungan dengan rekan kerja maupun keluarga bisa ikut terdampak.

7. Merasa tidak berguna

Burnout dapat membuat seseorang merasa tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Perasaan gagal atau tidak kompeten muncul meski sebenarnya kemampuan yang dimiliki tidak berubah. Kondisi ini dapat membentuk lingkaran yang membuat rasa percaya diri semakin menurun.

8. Gejala depresi mulai muncul

Pada beberapa orang, burnout dapat disertai gejala yang menyerupai depresi, seperti kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, sulit berkonsentrasi, hingga merasa putus asa.

Jika perasaan tersebut meluas ke berbagai aspek kehidupan dan berlangsung terus-menerus, sebaiknya segera mencari bantuan profesional.

9. Sering sakit kepala

Burnout tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tapi juga kesehatan fisik. Salah satu keluhan yang cukup sering muncul adalah sakit kepala berulang.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami burnout lebih sering mengeluhkan sakit kepala dibandingkan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut.

10. Gangguan pencernaan

Stres kronis juga dapat memengaruhi saluran cerna. Gejala yang mungkin muncul antara lain sakit perut, mual, perut kembung, gangguan pencernaan, sembelit, hingga diare. Keluhan tersebut sering kali muncul bersamaan dengan meningkatnya tekanan emosional.

11. Mulai melakukan kebiasaan yang tidak sehat

Sebagian orang mencoba mengatasi stres dengan cara yang kurang sehat, misalnya mengonsumsi alkohol, menggunakan obat-obatan terlarang, makan berlebihan, atau bahkan berolahraga secara berlebihan. Meski memberikan rasa nyaman sementara, kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk kondisi burnout.

12. Gangguan pada penglihatan

Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi kesehatan mata. Beberapa orang melaporkan mengalami penglihatan kabur, mata kering, mata mudah lelah, mata berkedut, lebih sensitif terhadap cahaya, hingga muncul bintik-bintik pada penglihatan.

Bila keluhan ini muncul terus-menerus, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebabnya.

Cara mengatasi burnout

Burnout bukan kondisi yang bisa hilang hanya dengan tidur lebih lama selama satu atau dua hari. Pemulihan membutuhkan perubahan dalam cara mengelola stres dan menjaga keseimbangan hidup.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menetapkan batasan jam kerja, mengambil waktu istirahat secara teratur, menjaga pola makan bergizi, berolahraga sesuai kemampuan, tidur cukup, serta meluangkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan bersama keluarga.

Jika gejala tidak kunjung membaik atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda