moms-life
3 Peralatan Dapur Ini Diam-diam Mengancam Kesehatan, Bisa Jadi Racun!
HaiBunda
Selasa, 30 Jun 2026 20:40 WIB
Daftar Isi
Tahukah Bunda kalau ada beberapa peralatan dapur yang bisa mengancam kesehatan jika salah penggunaannya? Banyak peralatan dapur dipilih karena praktis, awet, mudah dibersihkan, dan harganya terjangkau.
Namun sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa perlengkapan yang sering digunakan sehari-hari ternyata berpotensi melepaskan zat berbahaya ke dalam makanan. Mulai dari spatula plastik hitam, talenan plastik, hingga wajan antilengket, semuanya disebut memiliki risiko tertentu ketika digunakan dalam kondisi tertentu atau sudah mengalami kerusakan.
Para ahli pun menyarankan Bunda untuk lebih cermat memilih peralatan dapur demi meminimalkan paparan zat kimia maupun mikroplastik yang berpotensi mengganggu kesehatan dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peralatan dapur yang mengancam kesehatan
Mengutip Science Focus, berikut deretan peralatan dapur yang bisa mengancam kesehatan Bunda dan keluarga.
1. Peralatan masak plastik hitam
Sendok sayur, spatula, maupun centong berbahan plastik hitam menjadi perlengkapan dapur yang sangat umum ditemukan. Penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian produk tersebut berpotensi melepaskan senyawa penghambat api (flame retardants) beracun, seperti decabromodiphenyl ether (decaBDE), ke dalam makanan.
Menurut para peneliti, bahan kimia tersebut awalnya digunakan pada perangkat elektronik untuk mengurangi risiko kebakaran. Masalah muncul ketika limbah elektronik didaur ulang menjadi bahan baku pembuatan peralatan dapur berbahan plastik hitam.
Studi lain bahkan menemukan sekitar 85 persen produk rumah tangga berbahan plastik hitam yang diuji, termasuk nampan makanan cepat saji, mainan anak, dan peralatan dapur, mengandung zat penghambat api beracun. Di antara seluruh sampel tersebut, peralatan dapur memiliki konsentrasi yang tergolong tinggi.
Paparan decaBDE telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti peningkatan risiko kanker, gangguan hormon dan tiroid. Risiko lainnya bisa menyebabkan gangguan perkembangan pada anak, masalah saraf dan perilaku, hingga gangguan pada sistem reproduksi serta kekebalan tubuh.
Melihat risikonya, penggunaan decaBDE telah dilarang di Inggris sejak 2018 melalui Konvensi Stockholm PBB mengenai Polutan Organik Persisten dan dihentikan penggunaannya di Amerika Serikat oleh Environmental Protection Agency (EPA) pada 2021.
Para ilmuwan yang melakukan penelitian itu memperkirakan seseorang dapat terpapar rata-rata 34,7 bagian per sejuta (ppm) decaBDE setiap hari dari penggunaan peralatan dapur plastik hitam hasil daur ulang. Yang mengkhawatirkan, kini belum ada batas paparan yang benar-benar dianggap aman karena zat tersebut dapat menumpuk di dalam tubuh melalui proses bioakumulasi.
Sebagai alternatif lebih aman, para ahli menyarankan penggunaan peralatan memasak berbahan stainless steel atau food-grade silicone. Stainless steel dinilai tahan terhadap suhu tinggi sehingga tidak mudah melepaskan zat kimia serta gampang dibersihkan.
2. Talenan plastik
Selain peralatan memasak, talenan plastik juga menjadi perhatian para peneliti. Setiap kali permukaan talenan dipotong menggunakan pisau, partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil atau mikroplastik dapat terlepas dan bercampur dengan makanan.
Dalam penelitian yang dilakukan ilmuwan dari University of North Dakota, Amerika Serikat, diketahui bahwa memotong sayuran di atas talenan berbahan polipropilena dan polietilena dapat menghasilkan hingga 1.114 partikel mikroplastik hanya dari satu kali proses pemotongan atau setara sekitar 15 mg material plastik.
Jika terakumulasi selama satu tahun, diperkirakan Bunda dapat mengonsumsi sekitar 50 gram mikroplastik. Berbagai penelitian pun mulai menunjukkan bahwa mikroplastik berpotensi membahayakan kesehatan.
Partikel tersebut ditemukan dapat masuk ke pembuluh darah arteri sehingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Selain itu, mikroplastik juga dikaitkan dengan kerusakan DNA, stres oksidatif, peningkatan peradangan, hingga risiko penyakit seperti kanker dan gangguan autoimun.
Tak hanya itu, banyak mikroplastik mengandung bahan kimia pengganggu hormon (endocrine-disrupting chemicals) yang dapat memicu gangguan reproduksi, kelainan metabolisme, asma, hingga gangguan perkembangan sistem saraf. Ini sifatnya sangat sulit terurai sehingga mikroplastik berpotensi menumpuk di dalam tubuh, namun dampak jangka panjangnya masih terus diteliti.
Sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan mengganti talenan plastik dengan talenan berbahan kayu atau bambu. Selain lebih ramah lingkungan, kedua material tersebut dinilai lebih tahan lama dan secara alami memiliki sifat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
3. Wajan antilengket
Wajan antilengket menjadi favorit banyak orang karena membuat proses memasak lebih mudah dan tidak memerlukan banyak minyak. Namun lapisan antilengket ini mengandung kelompok bahan kimia PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances) yang dikenal sebagai forever chemicals karena sangat sulit terurai di lingkungan.
PFAS telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan hati, penyakit tiroid, obesitas, gangguan kesuburan, hingga peningkatan risiko kanker.
Sejumlah wajan modern menggunakan lapisan PTFE (polytetrafluoroethylene). Kini PTFE masih dianggap aman jika digunakan sesuai petunjuk, tapi para ilmuwan menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak paparan jangka panjang, terutama bila wajan digunakan pada suhu sangat tinggi atau telah mengalami kerusakan.
Sebelumnya, kekhawatiran utama tertuju pada PFOA (perfluorooctanoic acid) yang dahulu digunakan dalam proses produksi. Paparan PFOA dikaitkan dengan kerusakan ginjal, penyakit hati, gangguan tiroid, kolesterol tinggi, hingga beberapa jenis kanker.
Kabar baiknya, EPA telah mewajibkan perusahaan-perusahaan besar menghentikan penggunaan PFOA sejak 2015 sehingga bahan tersebut tidak lagi digunakan dalam produksi wajan antilengket baru. Meski demikian, masyarakat tetap disarankan berhati-hati menggunakan wajan lama yang kemungkinan masih diproduksi sebelum aturan tersebut berlaku.
Para pakar menilai Bunda tetap perlu menggunakan peralatan dapur sesuai petunjuk, menghindari pemanasan berlebihan, serta segera mengganti peralatan yang sudah rusak atau tergores untuk mengurangi potensi paparan zat kimia maupun mikroplastik.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
8 Tips Desain Rumah Minimalis di Lahan Sempit Tak Kuras Bujet
Mom's Life
Tips Miliki Rumah Asri dan Nyaman Meski Lahan Kecil
Mom's Life
7 Jenis Peralatan Dapur yang Berbahaya bagi Imunitas Tubuh, Jangan Disepelekan
Mom's Life
Ini Peralatan Dapur yang Berbahaya Penyebab 13 Penyakit Mematikan Menurut Pakar
Mom's Life
10 Peralatan Dapur yang Bisa jadi Pemicu Kanker, Waspada Bun!
7 Foto
Mom's Life
Rumah Widi Mulia & Dwi Sasono Ramah Lingkungan, Ini Potretnya Banyak Manfaatkan Barang Bekas
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Alat Pel Lantai yang Bagus dari Putar, Tanpa Bilas & Otomatis
5 Panci Deep Fryer Kecil Multifungsi Stainless Steel Anti Lengket dan Tahan karat
10 Matcha Bubuk yang Enak, Berkualitas hingga Terjangkau