Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Perjalanan dr. Margareta Jadi Dokter Anak, Berawal dari Keinginan Merawat Orang Tercinta

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 24 Jun 2026 16:51 WIB

dr. Margareta Komalasari, Sp.A
dr. Margareta Komalasari, Sp.A / Foto: HaiBunda / Fauzan
Daftar Isi
Jakarta -

Menjadi dokter anak bukan sekadar profesi bagi sebagian orang. Ada kisah panjang, pengalaman pribadi, dan kepedulian yang tumbuh hingga akhirnya mengantarkan seseorang memilih jalan hidup tersebut. Hal itu yang juga dirasakan oleh dr. Margareta Komalasari, Sp.A, dalam perjalanan kariernya.

Sejak kecil, dr. Margareta tumbuh dengan melihat orang-orang terdekatnya berjuang melawan penyakit. Sang Bunda diketahui mengidap kanker, sementara sang Ayah mengalami penyakit jantung. Tak hanya itu, salah seorang tantenya juga berjuang melawan kanker.

"Saya berpikir apa yang bisa saya kerjakan untuk support keluarga saya yang sakit jantung dan kanker," kata dr. Margareta dalam wawancara eksklusif bersama HaiBunda baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pengalaman tersebut membuatnya sering berada di lingkungan rumah sakit dan bertemu tenaga kesehatan. Di saat yang sama, dr. Margareta juga termasuk anak yang cukup sering sakit sehingga kerap berkunjung ke dokter.

Dari situlah muncul kesan mendalam yang terus ia ingat hingga sekarang. Ia mengaku pernah bertemu dokter yang ramah dan edukatif, sehingga membuatnya kagum pada profesi tersebut.

"Dari situ saya berpikir, enak juga ya jadi dokter. Kita bisa menolong orang, baik keluarga maupun orang lain," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, cita-cita tersebut akhirnya terwujud. Setelah menjadi dokter, dr. Margareta dihadapkan pada banyak pilihan spesialisasi. Namun, hatinya justru tertambat pada dunia kesehatan anak. Menurutnya, keputusan tersebut tidak lepas dari perannya sebagai seorang Bunda.

"Paling tidak kalau anak saya sakit, saya bisa mengurusnya sebelum ditangani orang lain," tutur dr. Margareta sambil mengungkapkan bahwa kedua anaknya juga kini masuk Fakultas Kedokteran.

Lebih dari itu, ia percaya bahwa anak-anak merupakan investasi masa depan yang perlu dijaga kesehatannya sejak dini.

"Saya juga berpikir bahwa anak-anak adalah masa depan kita. Kalau lingkungan anak baik, mereka akan tumbuh dengan baik juga. Karena itu, saya merasa menjadi dokter anak adalah pilihan yang tepat," lanjutnya.

Pandangan tersebut kemudian menjadi fondasi dalam praktiknya sebagai dokter anak hingga saat ini. Tak hanya menangani pasien, ia juga aktif memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Di balik jas dokter, ada peran sebagai istri dan Bunda

Menjalani profesi sebagai dokter spesialis anak membuat dr. Margareta akrab dengan kesibukan yang padat setiap harinya. Namun, di tengah jadwal praktik yang penuh, ia tetap berusaha menjalankan perannya sebagai istri dan Bunda bagi anak-anaknya.

Baginya, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga memang tidak selalu mudah. Sebab, selain bekerja penuh waktu sebagai dokter, ia juga masih menjalani praktik di tempat lain pada sore hari.
Meski begitu, dr. Margareta memiliki satu prinsip yang selalu ia pegang. Saat sudah berada di rumah, waktunya didedikasikan untuk keluarga.

"Begitu sampai di rumah, sebisa mungkin saya sudah tidak mengurus pekerjaan lain. Jadi memang fokus untuk anak-anak," tuturnya.

Beruntung, sang suami yang juga berprofesi sebagai dokter memahami ritme pekerjaan yang mereka jalani. Oleh karena itu, keduanya berusaha menyempatkan waktu khusus untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga.

"Dalam satu minggu biasanya ada waktu khusus untuk keluarga. Kami suka jalan-jalan, makan, nonton. Ya senang-senang saja bersama anak-anak," kata dr. Margareta.

Dokter juga bisa panik saat anak sendiri sakit

Meski sehari-hari menangani pasien anak, dr. Margareta mengaku tetap merasakan kekhawatiran yang sama seperti orang tua lainnya ketika anaknya sakit. Menurutnya, saat yang sakit adalah anggota keluarga sendiri, terkadang justru lebih sulit untuk bersikap objektif.

Namun, pengalaman sebagai dokter membuatnya memahami bahwa tidak semua kondisi sakit pada anak harus langsung ditangani di rumah sakit. Selama kondisi anak masih baik dan tidak menunjukkan tanda bahaya, orang tua bisa melakukan perawatan sederhana di rumah terlebih dahulu.

"Kalau anak saya sakit, jadi saya dan suami sama-sama melakukan penanganan seperti memperbanyak minum dan memberikan obat penurun panas sebagai pertolongan pertama," ujar dr. Margareta.

Tak hanya mengobati anak, dr. Margareta juga aktif mengedukasi orang tua

Dari pengalamannya bertahun-tahun sebagai dokter anak dan memberi edukasi selama ini, dr. Margareta juga menilai, banyak orang tua sebenarnya sudah memiliki kesadaran yang semakin baik tentang pentingnya menjaga kesehatan anak sejak dini. Hal ini terlihat dari semakin banyak keluarga yang mulai memperhatikan pola makan, waktu tidur, hingga kelengkapan imunisasi anak.

"Kadang-kadang saya melihat kalau anak dibesarkan dengan pola hidup yang baik, seperti makan sehat, tidak sering mengonsumsi junk food, tidur cukup, dan imunisasi lengkap, hasilnya anak-anak jadi lebih sehat dan jarang sakit," ungkapnya.

Saat berkonsultasi dengan orang tua pasien, dr. Margareta tidak hanya berfokus pada pengobatan. Ia juga berusaha mengedukasi pentingnya pola hidup sehat yang konsisten sejak dini.

"Kalau anak dirawat dengan baik, makan sehat, divaksin, dan penggunaan obatnya seperlunya atau rational use of medicine, hasilnya memang bisa terlihat," tuturnya.

dr. Margareta pun memuji perubahan positif pada para orang tua saat ini. Menurutnya, banyak Bunda yang kini lebih aktif mencari informasi dan memahami bahwa tidak semua kondisi anak membutuhkan obat.

"Sekarang Bunda-Bunda juga sudah semakin pintar. Kalau memang tidak perlu obat, biasanya mereka memilih untuk tidak langsung memberikan obat-obatan dahulu. Nah, itu bisa diterapkan sebelum anak benar-benar membutuhkan obat," ujarnya.

Pesan dr. Margareta untuk orang tua di tengah kekhawatiran soal virus

Belakangan ini, banyak orang tua merasa khawatir dengan munculnya berbagai virus dan bakteri baru yang dapat menyerang kesehatan anak. Kondisi tersebut membuat Bunda semakin waspada ketika Si Kecil mulai menunjukkan gejala sakit, seperti batuk, pilek, atau demam.

Menurut dr. Margareta, kekhawatiran tersebut sebenarnya wajar dirasakan oleh para orang tua. Namun, ia mengingatkan bahwa ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kesehatan anak, salah satunya kondisi lingkungan tempat mereka tumbuh.

Sebagai dokter yang tinggal dan berpraktik di Jakarta, dr. Margareta melihat bahwa tingginya tingkat polusi turut berpengaruh terhadap meningkatnya risiko infeksi pada anak-anak.

"Sistem imun mereka kan belum sesempurna orang dewasa," ungkapnya.

Oleh karena itu, anak-anak lebih rentan mengalami berbagai keluhan kesehatan dibanding orang dewasa. Mulai dari batuk pilek hingga infeksi tertentu masih cukup sering ditemukan.

Meski begitu, dr. Margareta mengingatkan para orang tua untuk tidak hanya fokus pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan, seperti polusi atau cuaca. Sebaliknya, ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu menjaga kesehatan Si Kecil.

Menurutnya, membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi, melengkapi imunisasi, serta mengajak mereka aktif bergerak setiap hari merupakan investasi penting untuk kesehatan jangka panjang. Selain itu, dr. Margareta juga mengingatkan agar anak tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan lebih sering melakukan aktivitas fisik yang sesuai usianya.

"Jangan hanya di dalam rumah terus main gim atau gadget. Menurut saya, dari sudut pandang dokter anak, itu kurang ideal untuk tumbuh kembang mereka," katanya.

Di era digital seperti sekarang, orang tua juga semakin mudah mengakses berbagai informasi tentang kesehatan anak. Namun di sisi lain, banyaknya informasi yang beredar di media sosial juga sering kali membuat Bunda bingung, bahkan tidak jarang justru memicu kekhawatiran berlebih.

Menurut dr. Margareta, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memastikan sumber informasi yang digunakan benar-benar terpercaya.

"Jadi kalau saya menyarankan orang tua untuk searching, biasanya saya juga kasih link yang terpercaya," ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan dokter saat berkonsultasi. Dengan begitu, informasi yang diterima bisa lebih jelas dan sesuai kebutuhan anak. Tak hanya itu, dr. Margareta juga menyarankan agar orang tua mencatat pertanyaan sebelum konsultasi agar tidak ada hal penting yang terlewat.

dr. Margareta: kapan orang tua perlu tenang saat Si Kecil sakit

dr. Margareta juga mengungkapkan bahwa tidak semua kondisi anak yang sakit harus langsung dibawa ke rumah sakit. Selama kondisi anak tidak menunjukkan tanda bahaya, perawatan di rumah masih bisa dilakukan.

"Selama anak masih terlihat aktif, pipisnya masih banyak, bibirnya masih basah, mulutnya tidak kering, serta masih mau makan dan minum, itu bisa dilakukan perawatan di rumah," ucapnya.

Namun, ada kondisi tertentu yang tidak boleh diabaikan dan membutuhkan penanganan medis segera.

"Tapi kalau sudah muncul tanda-tanda darurat, seperti kejang, demam yang tidak turun, muntah terus-menerus, tidak buang air kecil dalam waktu lama, atau mengalami kesulitan bernapas, itu tidak bisa ditangani di rumah saja," ucapnya.

Saat anak sakit, terutama batuk, pilek, atau demam, salah satu kekhawatiran terbesar orang tua adalah anak menjadi tidak mau makan dan minum. Menurut dr. Margareta, kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat berisiko menyebabkan dehidrasi. Ia menekankan pentingnya menjaga asupan cairan anak agar tetap terpenuhi selama sakit.

"Jangan lupa berikan banyak minum dan pastikan cairannya cukup. Apa pun jenis cairan yang tersedia di rumah bisa diberikan," ujarnya.

Selain itu, dalam memberikan obat atau produk kesehatan, dr. Margareta juga mengingatkan bahwa orang tua perlu memperhatikan usia dan kebutuhan anak. Misalnya ada beberapa obat pilek yang baru boleh diberikan pada usia tertentu, seperti di atas 2 tahun.

"Kita harus menggunakan obat secara bijak dan rasional," katanya.

Namun untuk gejala batuk dan pilek ringan, tidak selalu harus langsung diberikan obat. Orang tua bisa mencoba cara cara non-obat yang bisa dilakukan di rumah. Seperti banyak minum, memakai pakaian tipis, mandi air hangat, dan membersihkan hidung dengan air garam untuk membantu mengurangi sumbatan.

Saat pijatan lembut jadi bentuk kasih sayang untuk Si Kecil

Selain menyarankan berbagai cara non-obat tadi, dr. Margareta menilai bahwa hal yang paling penting saat anak sakit adalah memastikan Si Kecil tetap merasa nyaman.

"Rasa nyaman itu penting, baik untuk orang tua maupun anaknya," tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa proses penyembuhan membutuhkan waktu, sehingga orang tua perlu lebih tenang dan tidak terburu-buru. Untuk bayi, ia lebih menyarankan penggunaan perawatan dari luar tubuh atau yang bersifat topikal, dibandingkan langsung memberikan obat oral.

"Berbicara tentang rasa nyaman, saya lebih menyarankan obat-obatan yang sifatnya topikal atau digunakan dari luar. Jadi cukup dioleskan," ujarnya.

Vicks Baby Balm

Salah satu pilihan balsam yang dapat dioleskan untuk bayi adalah Vicks Baby Balm yang diformulasikan khusus untuk bayi dengan kandungan yang lembut dan aroma menenangkan. Vicks Baby Balm hadir di Indonesia sebagai bagian dari keluarga Vicks yang telah dipercaya selama beberapa generasi.

Pijat bayi dengan penggunaan balsam dapat menjadi salah satu cara untuk membantu Si Kecil merasa lebih nyaman saat tidak enak badan. Menurut dr. Margareta, pijat bayi memberikan banyak manfaat karena termasuk stimulasi multisensori. Pijatan lembut dari orang tua, terutama Bunda, juga dapat membantu bayi menjadi lebih relaks.

"Biasanya anak jadi merasa lebih nyaman. Kalau anak tidur lebih nyenyak, otomatis proses pemulihannya juga bisa lebih cepat," tuturnya.

Sejalan dengan manfaat pijat bayi yang dijelaskan dr. Margareta, Vicks Baby Balm hadir melalui konsep "Oles, Pijat, LOVE" yang mengajak orang tua menjadikan momen perawatan sebagai bentuk ekspresi kasih sayang. Ritual sederhana berupa mengoleskan balsam sambil memberikan pijatan lembut tidak hanya membantu memberikan rasa nyaman saat Si Kecil sedang kurang fit, tetapi juga menjadi kesempatan berharga untuk mempererat kedekatan antara orang tua dan anak.

"Saat memijat, kita juga melihat bayi dan mengajaknya berbicara. Itu sudah menjadi stimulasi auditori. Selain itu, bayi juga melihat wajah dan gerakan kita, sehingga mendapat stimulasi visual, " ujar dr. Margareta.

Ritual sederhana seperti mengoleskan balsam lalu memijat bayi juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan Si Kecil, terutama saat mengalami batuk pilek ringan.

Menurut dr. Margareta, penggunaan produk perawatan yang tepat juga perlu menjadi perhatian orang tua, terutama karena kulit bayi masih sangat sensitif. Oleh karena itu, memilih produk dengan kandungan yang lembut dan alami menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Seperti diketahui, produk Vicks Baby Balm yang diformulasikan khusus untuk bayi memiliki tekstur lembut untuk mengurangi gesekan saat pijat, kandungan bahan alami seperti rosemary, minyak kelapa, ekstrak aloe vera, aroma eucalyptus dan lavender yang menenangkan.

dr. Margareta menjelaskan bahwa produk dengan bahan alami dan aroma yang menenangkan dapat membantu mendukung kenyamanan bayi selama masa pemulihan. Ketika bayi merasa lebih relaks dan nyaman, mereka cenderung bisa beristirahat lebih baik, yang pada akhirnya dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih optimal.

"Penting sekali untuk memperhatikan komposisi dari balm atau balsam yang digunakan, sehingga selain memberikan efek menenangkan dan melegakan, tapi sekaligus aman di kulit bayi," ucapnya.

Jangan panik, batuk pilek pada anak merupakan kondisi yang umum terjadi

Di akhir wawancara, dr. Margareta menyampaikan satu pesan penting bagi para orang tua yang kerap merasa cemas saat anak mengalami batuk atau pilek. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami anak usia balita dan masih tergolong normal.

"Kita bilang normal kalau dalam satu tahun anak bisa mengalami 6-12 kali episode batuk pilek," ungkapnya.

Meski demikian, ia memahami bahwa melihat anak sakit tetap menjadi situasi yang tidak mudah bagi orang tua. Namun, kepanikan berlebihan justru dapat memengaruhi kenyamanan anak selama masa pemulihan.

"Kalau masih memungkinkan, bisa dibantu dengan pemberian balm atau cuci hidung. Itu juga sudah cukup membantu. Jangan lupa makan yang bergizi dan imunisasi, itu sudah cukup membantu bisa meningkatkan sistem imun Si Kecil," katanya.

Pada akhirnya, kunci utama menghadapi anak yang sedang sakit adalah tetap tenang, memberikan perawatan yang tepat, serta memahami kapan harus mencari bantuan medis. Dengan begitu, orang tua dapat menjadi pendamping terbaik bagi Si Kecil selama proses pemulihan berlangsung.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda