Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

5 Kebiasaan yang Dilakukan Orang Bahagia Menurut Psikolog

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 17 Jun 2026 16:00 WIB

Ilustrasi Perempuan Asia
Ilustrasi Kebiasaan yang Dilakukan Orang Bahagia Menurut Psikolog / Foto: Getty Images/iStockphoto/yuki-ramen1025
Daftar Isi
Jakarta -

Kebahagiaan dapat tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, Bunda. Ya, menjadi bahagia bukan hanya soal keberuntungan, tetapi juga tentang kebiasaan yang dibangun secara konsisten.

Orang yang bahagia cenderung memiliki pola pikir positif. Mereka mampu mensyukuri hal-hal kecil, serta menjaga hubungan sosial dengan orang di sekitarnya.

Memahami kebiasaan yang dilakukan orang bahagia penting, Bunda. Kita dapat mempelajari bagaimana membangun kebahagiaan dari kebiasaan dan melakukannya secara konsisten setiap hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan yang dilakukan orang bahagia

Melansir dari beberapa sumber, berikut 5 kebiasaan yang biasanya dilakukan orang bahagia menurut psikolog:

1. Suka menginvestasikan waktu pada hubungan sosial

Menjaga kualitas hubungan dekat dengan orang di sekitar merupakan prediktor terkuat tentang seberapa bahagia dan seberapa sehat hidup seseorang.

"Manusia pada umumnya dianggap sebagai makhluk sosial, dan secara umum diyakini bahwa memiliki hubungan sosial dapat membuat kita bahagia," kata terapis keluarga Jennifer Litner, PhD, LMFT, CST, dilansir Healthline.

"Di usia dewasa, rasanya hampir mustahil untuk mendapatkan teman baru. Tetapi ini bukan tentang berapa banyak teman yang kita miliki. Tetapi, ini tentang memiliki hubungan yang bermakna, bahkan jika hanya dengan satu atau dua orang saja," sambungnya.

2. Lebih mementingkan waktu daripada uang

Sebuah penelitian yang dilakukan Ashley Whillans dari Harvard Business School melaporkan, orang yang kekurangan waktu secara konsisten mendapatkan skor lebih rendah pada pengukuran kepuasan hidup, pengaruh positif, dan kesehatan mental.

Sebaliknya, menggunakan uang untuk membeli kembali waktu, seperti membayar untuk kenyamanan, dikaitkan dengan kesejahteraan yang lebih besar daripada menghabiskan uang yang sama untuk barang-barang material.

Penelitian serupa pernah diterbitkan di jurnal PNAS pada tahun 2017. Menurut penelitian, orang yang memprioritaskan membeli waktu daripada membeli barang melaporkan kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi. Namun pada kenyataannya, hanya sedikit orang yang benar-benar melakukan pertukaran ini.

3. Suka mencari pengalaman menantang

Model standar kehidupan yang baik menekankan kebahagiaan dan makna, Bunda. Namun, penelitian inovatif tahun 2022 yang diterbitkan di Psychological Review memperkenalkan dimensi ketiga yang mengubah gambaran tersebut secara signifikan, yakni kekayaan psikologis.

Kehidupan yang kaya secara psikologis tidak selalu mudah atau menyenangkan. Pasalnya, seseorang yang memiliki kekayaan psikologis suka mencari pengalaman menantang.

Kebiasaan untuk memupuk kekayaan psikologis sebenarnya dapat dilakukan siapa saja. Caranya cukup mudah. Bunda hanya perlu menyisipkan satu pengalaman menantang yang tidak familiar setiap bulan.

4. Membelanjakan uang untuk orang lain, tak hanya untuk diri sendiri

Dalam studi yang diterbitkan di Scandinavian Journal of Psychology tahun 2023 menyimpulkan bahwa pengeluaran untuk orang lain secara konsisten menghasilkan efek positif pada kesejahteraan subjektif. Efek ini berlaku di berbagai tingkat pendapatan, budaya, dan jenis pemberian, baik itu donasi langsung, membeli sesuatu untuk teman, atau menyumbangkan waktu secara sukarela.

Mengeluarkan uang untuk orang lain bukan berarti mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Ini berarti kita menyadari bahwa mengejar kebahagiaan melalui akumulasi hanya akan menemui berdampak negatif pada diri sendiri, Bunda.

5. Meluangkan waktu 120 menit seminggu di alam

Orang yang bahagia sering meluangkan waktu sekitar 120 menit dalam seminggu untuk menikmati waktu di alam. Sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan di Scientific Reports, menganalisis data dari hampir 20.000 orang dan menemukan bahwa orang yang menghabiskan setidaknya 120 menit per minggu di lingkungan alam melaporkan kesehatan dan kesejahteraan psikologis yang jauh lebih baik daripada mereka yang tidak menghabiskan waktu di alam.

Efek 'kebahagiaan' ini muncul pada ambang batas 120 menit. Menurut peneliti, waktu yang lebih singkat menunjukkan hasil yang lebih lemah.

Hasil studi tersebut tampaknya membuktikan bahwa mengambil jeda dengan menghabiskan waktu di alam bisa mengurangi respons stres fisiologis dan pemulihan perhatian yang terarah. Paparan alam sepertinya dibutuhkan oleh sistem saraf untuk memberikan respons positif dibandingkan lingkungan perkotaan.

Demikian 5 kebiasaan yang dilakukan orang bahagia menurut psikolog. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda