Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Benarkah AI Mengurangi Lapangan Kerja? Fakta Terbaru Justru Sebaliknya

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Jumat, 12 Jun 2026 17:10 WIB

close up of Asian woman presenting futuristic AI Agent Network technology on tablet in modern conference room
Ilustrasi teknologi AI / Foto: Getty Images/PonyWang
Daftar Isi

Banyak orang beranggapan AI membuat orang menjadi sulit mendapat pekerjaan. Benarkah?

Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menghilangkan jutaan pekerjaan terus menjadi perdebatan di berbagai sektor industri. Seiring semakin luasnya penggunaan teknologi AI, banyak pihak khawatir mesin dan sistem otomatis akan menggantikan peran manusia di tempat kerja.

Pandangan tersebut mendapat tantangan dari CEO OpenAI Sam Altman. Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perusahaan yang paling aktif mengadopsi AI justru menjadi perusahaan yang banyak merekrut tenaga kerja baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Temuan ini memberikan gambaran yang lebih kompleks dibanding anggapan bahwa AI secara langsung menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Yuk kita bahas lebih lanjut Bunda.

Perusahaan pengguna AI banyak rekrut karyawan

Dalam wawancara dengan CNBC beberapa waktu lalu, Sam Altman menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang berhasil memanfaatkan AI secara maksimal umumnya tetap melakukan ekspansi tenaga kerja.

"Perusahaan-perusahaan yang saya kenal yang paling banyak mengadopsi AI juga merupakan perusahaan yang paling banyak merekrut karyawan," kata Altman dilansir dari Times of India.

Sebaliknya, ia menilai perusahaan yang sering mengaitkan PHK dengan AI belum tentu merupakan pengguna teknologi tersebut secara intensif.

"Secara umum, perusahaan yang berbicara tentang melakukan PHK karena AI justru merupakan perusahaan yang paling sedikit mengadopsi AI," ujarnya.

Altman bahkan menyebut AI terkadang menjadi alasan yang mudah digunakan perusahaan untuk menjelaskan keputusan pengurangan tenaga kerja kepada publik.

Pernyataan terbaru Altman ini menarik perhatian karena berbeda dengan sejumlah komentarnya terdahulu. Pada 2025, ia pernah memperingatkan bahwa beberapa kategori pekerjaan dapat hilang sepenuhnya akibat perkembangan agen AI yang semakin canggih.

Dalam kesempatan lain, Altman juga sempat menyatakan bahwa sejumlah pekerjaan yang terdampak atau tergantikan oleh AI mungkin pada akhirnya tidak lagi dianggap sebagai bentuk pekerjaan yang relevan di masa depan.

Meski demikian, fakta di lapangan melihat langsung bagaimana perusahaan menggunakan berbagai produk OpenAI membuat pandangannya berkembang. Ia kini melihat bahwa dampak AI terhadap dunia kerja tidak sesederhana menggantikan manusia dengan mesin.

AI masih butuh peran manusia

Menurut Altman, kemampuan AI saat ini memang sangat kuat untuk mengerjakan tugas tertentu, terutama yang bersifat teknis seperti pemrograman. Namun teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan dalam mengelola pekerjaan kompleks yang membutuhkan pengawasan jangka panjang dan pengambilan keputusan berlapis.

"Saya rasa saya meremehkan betapa tidak meratanya kemampuan model-model ini. Mereka melakukan beberapa hal dengan sangat baik, tapi tidak mampu mengawasi tugas kompleks jangka panjang dengan baik," jelasnya.

Sebagai contoh, penggunaan alat bantu pemrograman OpenAI seperti Codex. Berdasarkan pengamatannya, hasil terbaik justru diperoleh ketika AI digunakan sebagai alat pendukung yang dipadukan dengan keahlian manusia, bukan pengganti pekerja.

"Orang-orang yang sangat mahir menggunakan model AI dapat menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah luar biasa dan menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan jika mereka bekerja tanpa model tersebut," kata Altman.

Pakar teknologi lain tetap ingatkan risiko

Meski demikian, kekhawatiran terkait dampak AI terhadap lapangan kerja belum sepenuhnya mereda. Sejumlah tokoh industri teknologi masih memperingatkan bahwa AI berpotensi mengubah struktur pasar tenaga kerja secara signifikan.

CEO Anthropic, Dario Amodei, serta CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman, termasuk di antara para pakar yang menilai AI dapat menggantikan sebagian pekerjaan yang ada saat ini.

Beberapa perusahaan teknologi besar seperti Salesforce, Cisco, Coinbase, Snap, dan Block juga pernah menyinggung pemanfaatan AI ketika membahas restrukturisasi atau pengurangan karyawan.

Manusia tetap menjadi sumber daya ekonomi terbaik

Meski teknologi terus berkembang, Altman meyakini manusia akan tetap menjadi elemen utama dalam aktivitas ekonomi dan sosial. Ia menilai masyarakat pada dasarnya tetap menginginkan interaksi antarmanusia, baik dalam pekerjaan maupun ketika menjadi konsumen.

"Orang menyukai orang lain dan ingin berinteraksi dengan orang lain. Mereka ingin berkolaborasi dan bekerja bersama orang lain," ujar Altman.

Ia juga menilai bahwa banyak orang masih lebih menghargai karya yang dibuat manusia dibandingkan konten yang sepenuhnya dihasilkan AI. Menurutnya, publik tetap ingin mengetahui sosok manusia yang berada di balik sebuah karya atau produk.

"Saya pikir industri kami meremehkan seberapa besar kemampuan kita untuk tetap menempatkan manusia di pusat segala hal dalam ekonomi dan dunia yang semakin didukung oleh AI," ujar Altman.

Jadi, meski AI berpotensi mengubah cara bekerja dan menggeser sejumlah jenis pekerjaan tertentu, pengalaman perusahaan-perusahaan pengguna AI menunjukkan bahwa teknologi ini lebih sering meningkatkan produktivitas manusia daripada menggantikannya sepenuhnya.

Tren terbaru itu mengindikasikan bahwa kombinasi antara AI dan keahlian manusia bisa menjadi kunci penciptaan nilai ekonomi masa depan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda