Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Hindari Ucap "Semua Akan Baik-baik Saja" saat Ingin Menghibur, Ini Kata Psikolog

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Minggu, 12 Apr 2026 13:50 WIB

Professional Asian businesswomen supporting stressed colleague working late on laptop in dimly lit corporate workspace
Ilustrasi menghibur teman / Foto: Getty Images/Perawit Boonchu

Banyak sekali orang, termasuk Bunda, yang mungkin spontan berkata "Semua akan baik-baik saja" saat melihat orang terdekat sedang sedih. Niatnya tentu ingin menenangkan, tetapi menurut psikolog, kalimat ini tidak selalu memberi dampak yang diharapkan.

Bagi seseorang yang sedang terluka secara emosional, ungkapan berupa "Semua akan baik-baik saja" kadang justru terasa terlalu sederhana. Perasaan mereka bisa terasa kurang dipahami, meskipun orang yang mengucapkannya sebenarnya peduli.

Oleh karena itu, para psikolog menyarankan cara lain yang lebih empatik untuk menghibur seseorang. Lalu, mengapa kalimat "Semua akan baik-baik saja" sebaiknya dihindari? Dan apa ungkapan yang lebih menenangkan untuk didengar dan dijadikan sebagai respons? 

Simak selengkapnya di bawah ini, Bunda.

Kalimat pengganti ungkapan "Saya akan baik-baik saja"

Bunda, sering kali orang mengatakan “Semua akan baik-baik saja” karena tidak tahu harus merespons apa saat melihat orang lain sedang kesulitan. Kalimat tersebut terasa mudah diucapkan, tetapi sebenarnya tidak selalu membantu orang yang sedang mencari dukungan.

Dikutip dari laman Today, seorang psikolog klinis berlisensi dan pendiri Ascension Behavioral Health, Ayanna Abrams, Psy.D., mengatakan bahwa ungkapan "Semua akan baik-baik saja" cenderung meremehkan apa yang dialami orang tersebut. Dengan mengatakan hal itu, Bunda akan dirasa kurang empati dan gagal membangun hubungan emosional antara Bunda dan lawan bicara.

Sebagian orang bahkan mengira kalimat seperti itu cukup menenangkan dan bisa membantu orang lain untuk bangkit kembali. Padahal, kemungkinan besar orang yang sedang berjuang sudah berusaha melewati masalahnya, tetapi memang belum mampu melakukannya dengan mudah.

Oleh karena itu, daripada mengatakan “Semua akan baik-baik saja”, lebih baik Bunda memilih kalimat yang menunjukkan rasa empati. Respons sederhana yang mengakui perasaan mereka sering kali jauh lebih berarti daripada sekadar memberi harapan tanpa memahami situasinya.

Abrams mengatakan bahwa seseorang harus melatih emosi dirinya sendiri dalam merespons lawan bicara saat berkomunikasi. Hal ini tentu saja untuk meningkatkan rasa empati dan memahami kondisi lawan bicara. 

Alih-alih mengatakan “Semua akan baik-baik saja” Bunda bisa merespons dengan ungkapan seperti ini: 

  1. “Aku bisa merasakan rasa frustrasi dalam dirimu.”
  2. “Bagaimana aku bisa membantumu?”
  3. “Apakah kamu butuh saran atau sesuatu yang lain?”
  4. “Apakah kamu hanya butuh seseorang untuk mendengarkan?”

Abrams menjelaskan bahwa sikap seperti ini dapat membuat seseorang merasa emosinya dihargai dan dianggap penting. Dengan respons yang penuh empati, orang tersebut juga diingatkan bahwa mereka tidak sendirian dan memiliki seseorang yang bisa diandalkan untuk benar-benar mendengarkan serta menanggapi perasaannya dengan serius.

Selain merespons melalui kata-kata, Bunda juga bisa menawarkan untuk memberi kenyamanan fisik agar lawan bicara menjadi lebih tenang. Tak hanya sisi emosional, fisik pun juga perlu diperhatikan untuk ketenangan seseorang, Bun. 

Bunda bisa menunjukkan kepedulian lewat gestur tubuh yang hangat. Misalnya dengan terlebih dahulu meminta izin secara sopan, seperti menanyakan “Apakah kamu ingin dipeluk?” atau “Apakah kamu butuh pelukan?”

Dengan cara tersebut, orang yang sedang berjuang dengan perasaannya dapat merasakan dukungan tanpa merasa ditekan untuk selalu terlihat kuat. Sikap sederhana seperti meminta izin sebelum memberikan sentuhan juga menunjukkan rasa empati terhadap batasan dan kenyamanan mereka.

Bunda, itulah alasan mengapa sebaiknya kita menghindari mengucapkan “Semua akan baik-baik saja” saat ingin menghibur, dan mulai menggantinya dengan kalimat yang lebih empatik agar orang yang sedang berjuang merasa benar-benar dipahami. Semoga dengan memilih kata yang lebih penuh empati, kita bisa menjadi pendengar yang lebih baik bagi orang-orang di sekitar kita, ya Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda