Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Peneliti Temukan Pola Diet yang Bisa Bantu Tubuh Bakar Lemak Tanpa Olahraga

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Sabtu, 04 Apr 2026 13:50 WIB

Ilustrasi Diet
Ilustrasi diet / Foto: Getty Images/iStockphoto/Panupong Piewkleng
Daftar Isi

Bisakah membakar lemak tanpa olahraga? Penelitian terbaru telah menemukannya.

Para ilmuwan kembali menghadirkan temuan menarik dalam dunia kesehatan dan nutrisi. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa pola makan tertentu berpotensi membantu tubuh membakar lemak lebih efektif, bahkan tanpa perlu aktivitas olahraga tambahan.

Temuan tersebut membuka peluang baru untuk Bunda yang sedang berusaha menurunkan berat badan, khususnya jika kesulitan menjalani rutinitas fisik secara konsisten. Selama ini, pembakaran kalori sering dikaitkan dengan aktivitas fisik atau paparan suhu dingin.

Riset terbaru menunjukkan bahwa tubuh ternyata bisa 'dipicu' untuk membakar energi lebih banyak hanya melalui pengaturan pola makan. Mekanisme ini berkaitan dengan proses biologis bernama thermogenesis, yaitu produksi panas tubuh yang secara alami mengonsumsi kalori.

Mari bahas mengenai cara diet yang bisa membakar lemak tanpa olahraga.

Pola diet yang bisa bantu tubuh bakar lemak tanpa olahraga

Paparan suhu dingin, seperti saat tubuh menggigil, diketahui dapat meningkatkan pembakaran kalori karena tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil. Fenomena ini telah lama diamati dalam berbagai studi pada manusia maupun hewan.

Dibandingkan mengandalkan suhu ekstrem, tim peneliti dari University of Southern, Denmark, mencoba pendekatan berbeda. Mereka meneliti apakah perubahan pola makan dapat mengaktifkan proses thermogenesis tanpa harus terpapar dingin?

Penelitian yang dipimpin oleh ahli obesitas Philip Ruppert dan Jan-Wilhelm Kornfeld dari Department of Biochemistry and Molecular Biology (BMB) berfokus pada pengurangan dua jenis asam amino dalam makanan, yaitu methionine dan cysteine.

Hasil eksperimen: berat badan turun tanpa olahraga

Dalam percobaan yang dilakukan pada tikus, peneliti mengatur kadar methionine dan cysteine dalam makanan selama tujuh hari. Hasilnya cukup mengejutkan.

Tikus yang mengonsumsi diet rendah kedua asam amino tersebut terbukti membakar lebih banyak kalori dibandingkan kelompok dengan diet normal. Bahkan efek penurunan berat badan yang dihasilkan hampir setara dengan kondisi paparan suhu dingin ekstrem sekitar 5 derajat Celsius secara terus-menerus.

“Kelompok tikus yang membakar energi paling tinggi ternyata makan dalam jumlah yang sama dan tidak lebih aktif bergerak dibandingkan yang lain. Kami melihat peningkatan thermogenesis hingga 20 persen. Penurunan berat badan terjadi bukan karena makan lebih sedikit atau bergerak lebih banyak, melainkan karena tubuh mereka menghasilkan panas lebih besar,” ujar Jan-Wilhelm Kornfeld, mengutip Science Daily.

Peran lemak 'beige' dalam pembakaran energi

Penelitian ini juga mengungkap bahwa pembakaran kalori tersebut terjadi pada jaringan lemak yang disebut beige fat. Jenis lemak ini berada di bawah kulit dan dikenal aktif saat tubuh terpapar suhu dingin.

Menariknya, lemak beige ternyata merespon tidak hanya terhadap suhu dingin, tetapi juga terhadap perubahan pola makan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa lemak beige tidak peduli apakah pembakaran dipicu oleh dingin atau oleh diet,” ujar Philip Ruppert, tim peneliti lainnya.

Hubungan dengan pola makan nabati

Methionine dan cysteine umumnya ditemukan dalam jumlah tinggi pada protein hewani, seperti daging, telur, dan produk susu. Sebaliknya, kandungan kedua asam amino ini relatif rendah dalam makanan nabati seperti sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Hal ini membuat pola makan vegetarian atau vegan secara alami cenderung rendah methionine dan cysteine. Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kelompok dengan pola makan nabati sering kali memiliki kesehatan metabolik yang lebih baik.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih terbatas pada hewan.

“Kami belum menguji diet rendah methionine dan cysteine pada manusia, jadi belum bisa memastikan efek yang sama akan terjadi. Namun ini adalah kemungkinan yang sangat menarik,” kata Ruppert.

Potensi terapi baru untuk obesitas

Temuan ini membuka peluang pengembangan metode baru dalam penanganan obesitas. Para ilmuwan kini mempertimbangkan kemungkinan menciptakan terapi atau makanan fungsional yang dapat meningkatkan pembakaran energi tanpa perubahan gaya hidup drastis.

Selain itu, Kornfeld juga menyinggung potensi kombinasi diet ini dengan obat penurun berat badan.

“Akan sangat menarik untuk melihat apakah pasien yang menggunakan obat seperti Wegovy bisa mendapatkan tambahan penurunan berat badan jika mereka juga menjalani diet tanpa methionine dan cysteine, dengan kata lain menghindari protein hewani,” ujarnya.

Meski hasilnya menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa penelitian lanjutan pada manusia sangat diperlukan sebelum diet ini direkomendasikan secara luas. Faktor keamanan, keseimbangan nutrisi, serta dampak jangka panjang tetap menjadi perhatian utama.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda