moms-life
Thames Town, Kota Unik di Asia yang Semua Bangunannya Dibuat Mirip Inggris
HaiBunda
Sabtu, 28 Mar 2026 18:00 WIB
Kota Thames Town menjadi salah satu tempat wisata favorit wisatawan Asia yang datang ke China. Kota yang terletak di pinggiran Shanghai ini dikenal sebagai kota tiruan Inggris, Bunda.
Dilansir The Sun, Thames Town memiliki banyak bangunan replika kota tua Inggris yang lengkap dengan jalanan berbatu, kotak telepon merah yang jadi ikon London, dan tanaman rambat yang tumbuh di bangunan-bangunan bergaya Dinasti Tudor. Kota ini terlihat seperti kota Cotswolds yang terkenal di Inggris.
Thames Town di distrik Songjiang hanya berjarak 19 mil dari pusat kota Shanghai. Kota yang dibangun dengan biaya 530 juta pound sterling atau sekitar Rp11,9 triliun ini menempati area kurang dari satu mil persegi dan dirancang untuk populasi 10.000 jiwa.
Thames Town awalnya dibangun untuk dihuni oleh penduduk lokal yang mencintai negara Inggris. Kota ini juga diharapkan menjadi tujuan destinasi wisata bagi orang-orang yang ingin terlihat seolah-olah berada di Inggris, Bunda.
Arsitektur di Thames Town
Sebagian besar arsitektur Thames Town disalin langsung dari bangunan-bangunan yang ada di Inggris. Misalnya, sebuah gereja yang dibangun mirip dengan Christ Church di Clifton Down di Bristol. Selain itu, ada juga patung Winston Churchill dan aula pertemuan abad pertengahan yang mengiklankan makanan dalam aksara Cina.
"Tempat ini memiliki kualitas yang hampir seperti mimpi, layaknya sesuatu yang berasal dari Eropa," kata arsitek Inggris, dan perencana utama untuk proyek perumahan Thames Town dan distrik Songjiang di sekitarnya, Tony Mackay, dilansir BBC.
Saat pejabat setempat mempekerjakan Mackay pada tahun 2001, ia menemukan lahan pertanian dan bebek di lahan yang akan dibangun Thames Town. Kini, tempat tersebut telah disulap menjadi replika negara Inggris dengan detail yang begitu mirip.
Mackay mengatakan bahwa para arsitek yang mengerjakan desain bangunan di Thames Town menciptakan sebuah pastiche, yakni karya seni yang menggabungkan berbagai gaya berbeda dan mengabaikan keasliannya. Contohnya, beberapa rumah berbingkai kayu memiliki jendela-jendela yang terlihat tidak sesuai.
"Proporsinya salah. Penggunaan berbagai jenis batu juga salah. Hal seperti itu tidak akan pernah digunakan di gereja Inggris yang asli," ujarnya.
Thames Town/ Foto: Getty Images/iStockphoto |
China memiliki lebih dari satu 'kota' replika
Rumah-rumah di Thames Town sebagian besar dibeli sebagai properti investasi, sehingga kota ini selalu tenang. Bagi Mackay, Thames Town tampak seperti lokasi syuting film. Seorang blogger dari wilayah Barat bahkan mengatakan tempat ini mengingatkannya pada film The Truman Show.
Thames Town sebenarnya dibangun sebagai bagian dari skema 'One City, Nine Towns' Shanghai, yang melibatkan pembangunan sejumlah kota satelit di sekitar kota, di mana masing-masing dibangun dengan gaya internasional yang berbeda. Di tempat lain di China, terdapat replika Menara Eiffel, tiruan Jembatan Tower Bridge, dan bahkan ada replika Stonehenge.
Hampir setiap kota besar di China memiliki daerah pinggiran perumahan tempat orang-orang tinggal di rumah-rumah mewah replika. Sebanyak dua pertiga properti yang dijual oleh beberapa agen real estat ini bergaya Barat.
Penulis buku Original Copies: Architectural Mimicry in Contemporary China, Bianca Bosker, mengatakan bahwa hal itu sebagian disebabkan oleh sikap China yang berbeda terhadap 'peniruan'. Di China, meniru dipandang sebagai 'bentuk penguasaan'. Meniru tidak dipandang negatif, melainkan sesuatu yang dapat 'didorong'.
"Budaya meniru di Tiongkok (China) sangat berbeda dari yang kita temukan di Barat, di mana ada anggapan bahwa meniru adalah sesuatu yang sangat tabu, dan harus dihindari dengan segala cara," kata Bosker.
Budaya meniru ini memiliki akar sejarah yang cukup dalam, Bunda. Ketika kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang menaklukkan kerajaan-kerajaan saingan pada abad ke-3 SM, ia membangun replika setiap istana di dalam ibu kota kerajaannya sendiri. Jika kita melihat kondisi saat ini, pemerintah China sering kali mendanai proyek-proyek tiruan besar-besaran di negaranya.
"Ini adalah cara untuk memamerkan kekuatannya. China, secara simbolis, menunjukkan kemampuannya untuk mengatur ulang kosmos, untuk seolah-olah memiliki karya-karya terbaik Barat," ungkap Bosker.
Thames Town pernah menjadi destinasi favorit bagi wisatawan dan pasangan pengantin. Namun, setelah sekitar 25 tahun sejak pertama kali diresmikan, kota ini gagal memancarkan pesonanya dan menarik banyak orang. Kota ini disebut telah berubah menjadi 'kota hantu' yang terbengkalai.
Demikian berita terkait Thames Town, kota replika Inggris yang ada di China.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
6 Tips Atur Keuangan ala Orang China, Sederhana tapi Bikin Dompet Tebal
Mom's Life
COVID-19 JN.1 Melonjak di China, Ini Kharateristiknya Menurut Ahli
Mom's Life
Kisah Dokter Indonesia Tembus Final Ajang Pencarian Bakat di China, Kini Trainee Siap Debut
Mom's Life
Pimpin Huwaei, Ini 5 Fakta Meng Wanzhou yang Pernah Dipenjara 3 Tahun
Mom's Life
Kabar Terbaru Wanita Sasak Ikut Suami WN China, Tinggal di Rumah Tua di Desa Terpencil
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Fanny Fabriana Liburan di Chongqing, Destinasi Wisata di China yang Tengah Viral
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Thames Town/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Rumah Berhantu Paling Angker Berusia 140 Th Dijual Rp27 M, Banyak Sisakan Misteri
Rumah Mewah Putri Kerajaan Arab di Amerika Serikat Curi Perhatian, Harganya Capai Rp120 Miliar
House of Tugu Jakarta Jadi Salah Satu Tempat Terbaik Dunia 2026, Intip Isi di Dalamnya