Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

7 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Pujian dan Haus Validasi

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Rabu, 25 Mar 2026 22:00 WIB

Ilustrasi perempuan main hp
Ilustrasi ilustrasi ciri kepribadian orang yang suka pujian /Foto: Getty Images/AntonioGuillem
Daftar Isi
Jakarta -

Kebutuhan akan pengakuan dan persetujuan bisa diam-diam menyelinap ke dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang suka pujian kerap menjadikan penilaian orang lain sebagai tolok ukur harga diri. Perilaku ini dapat berkembang menjadi kecanduan pujian.

Kecanduan pujian mungkin tidak selalu terlihat jelas. Terkadang, hal itu seperti memikirkan unggahan yang tidak mendapatkan cukup like, atau meragukan diri sendiri karena tidak ada yang memberikan komentar.

Ini adalah lingkaran toksik yang perlahan mengikis rasa percaya diri. Adapun sejumlah ciri kepribadian orang suka pujian yang dapat Bunda kenali.

7 Ciri kepribadian orang yang suka pujian

Berikut cara mengenali ciri-ciri orang yang punya kebiasaan mencari pujian dalam kehidupannya:

1. Selalu memeriksa handphone untuk melihat like dan komentar

Bunda, bukan rahasia lagi bahwa media sosial dapat memicu rasa haus akan pengakuan. Jika mendapati diri yang terus-menerus memeriksa notifikasi di handphone untuk melihat like dan komentar, mungkin Bunda termasuk orang yang suka pujian.

Dilansir dari laman Bolde, setiap like, share, atau komentar dapat memicu sedikit dopamin, memperkuat kebutuhan untuk terus kembali demi mendapatkan lebih banyak.

Pengecekan terus-menerus ini dapat mengganggu fokus, produktivitas, dan bahkan suasana hati sepanjang hari. Seolah-olah validasi yang diterima secara digital telah menjadi sumber penting stabilitas emosional.

Siklus ini menciptakan ketergantungan di mana rasa harga diri terikat pada pengakuan virtual. Alih-alih merayakan pencapaian secara internal, Bunda bergantung pada sinyal eksternal untuk merasa sukses atau diterima.

2. Kepercayaan diri bergantung pada validasi

Ketika pujian berhenti, suasana hati pun ikut menurun. Seolah-olah bahan bakar yang menjaga mesin kepercayaan diri tetap berjalan tiba-tiba habis, membuat Bunda merasa hampa dan gelisah.

Ketergantungan emosional ini menunjukkan bahwa harga diri ditopang secara eksternal, dibangun bukan berdasarkan kualitas intrinsik, tetapi penegasan dari orang lain.

Tidak ada pujian mungkin dapat memicu perasaan sedih, cemas, atau bahkan merasa tidak berharga yang terasa tidak proporsional dengan situasi tersebut.

3. Berusaha keras untuk membuat orang lain terkesan

Orang yang gemar pujian mungkin akan melakukan berbagai hal hanya untuk diperhatikan atau dipuji.

Baik itu menerima terlalu banyak bantuan, berdandan berlebihan, atau terus-menerus memamerkan prestasi, perilaku ini kurang tentang kemurahan hati atau ekspresi diri yang tulus dan lebih tentang memenuhi kebutuhan mendalam akan pengakuan.

Perilaku berlebihan ini dapat menguras energi dan membuat Bunda merasa lelah secara emosional. Alih-alih bertindak dari keinginan yang autentik, Bunda malah berakting untuk penonton yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memuaskan dahaga akan persetujuan.

4. Sulit menerima kritik

Ketika sangat bergantung pada pujian, umpan balik negatif atau kritik mungkin dianggap mengancam identitas yang telah dibangun dengan hati-hati.

Ini bukan hanya tentang kritik itu sendiri, tetapi juga hilangnya jaminan eksternal yang menjaga kepercayaan diri Bunda tentang tinggi. Rasa percaya diri yang rapuh ini membuat pertumbuhan dan pembelajaran menjadi sulit karena rasa takut akan ketidaksetujuan lebih besar daripada kemauan untuk memperbaiki diri.

Kerapuhan ini sering kali menyebabkan seseorang menutup diri atau bereaksi berlebihan ketika dihadapkan dengan umpan balik yang jujur, yang hanya semakin mengisolasi diri.

Psikologi di baliknya cukup sederhana, yakni rasa percaya diri begitu terikat dengan pujian sehingga kritik terasa seperti serangan pribadi daripada sebuah peluang.

5. Sering mencari pujian

Kebiasaan mencari pujian adalah tanda klasik bahwa Bunda mendambakan validasi eksternal, sering kali tanpa disadari.

Bunda mungkin melontarkan komentar yang merendahkan diri sendiri yang sebenarnya adalah umpan untuk mendapatkan kepastian, atau berulang kali menyebutkan prestasi, berharap seseorang akan ikut memuji.

Perilaku ini dapat terlihat tidak percaya diri atau melelahkan bagi orang lain, tetapi sebenarnya berasal dari kebutuhan mendalam untuk merasa diperhatikan dan dihargai.

6. Harga diri terikat dengan kinerja

Baik di tempat kerja, dalam lingkungan sosial, atau kegiatan rekreasi, rasa harga diri Bunda berfluktuasi seiring dengan seberapa baik dipuji.

Tanpa sorotan itu, Bunda merasa kurang utuh, seolah-olah jati diri yang sebenarnya hilang. Hal ini menciptakan ketergantungan yang toxic pada pencapaian dan persetujuan, mengikis kemampuan untuk menikmati momen-momen sederhana atau sekadar “menjadi”.

Ketika harga diri berbasis kinerja, setiap keberhasilan atau kegagalan membawa beban emosional yang tidak proporsional.

7. Menghindari risiko karena takut mengecewakan orang lain

Mengambil risiko membutuhkan kompas internal yang kuat, tetapi mereka yang sangat bergantung pada pujian eksternal sering kali ragu dalam setiap keputusan untuk menghindari kehilangan persetujuan atau mengecewakan orang lain.

Rasa takut akan kegagalan terasa seperti ancaman bukan hanya terhadap persetujuan mereka, tetapi juga identitasnya, yang dapat melumpuhkan kreativitas dan pertumbuhan.

Hal ini menyebabkan mereka menjalani kehidupan dengan penuh kehati-hatian, memprioritaskan pilihan yang aman dan terpuji daripada otentisitas.

Nah, itulah beberapa ciri kepribadian orang yang suka pujian dan dapat memicu perilaku toxic. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda