Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Bacaan Niat Puasa Syawal: Arab, Latin, Artinya, dan Hukum Jika Digabung Bayar Utang Puasa

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Senin, 23 Mar 2026 13:40 WIB

Ilustrasi doa
Ilustrasi bacaan niat puasa Syawal / Foto: Getty Images/wombatzaa
Daftar Isi

Setelah Hari Raya Idul Fitri, umat Islam dianjurkan melanjutkan ibadah dengan menjalankan puasa sunnah Syawal selama enam hari. Amalan ini kerap menjadi perhatian karena tidak hanya memiliki keutamaan besar, tetapi juga berkaitan dengan bacaan niat, waktu pelaksanaan, hingga hukum menggabungkannya dengan qadha atau bayar utang puasa Ramadhan.

Mengacu pada penjelasan Kementerian Agama RI dan sejumlah pendapat ulama, puasa Syawal idealnya dikerjakan mulai 2 Syawal dan bisa dilakukan enam hari berturut-turut. Meski begitu, pelaksanaannya tetap memberi kelonggaran karena dapat ditunaikan secara terpisah selama masih berada di bulan Syawal.

Lalu, seperti apa bacaan niat puasa Syawal dalam tulisan Arab, Latin, dan artinya? Bagaimana pula hukum jika puasa Syawal digabung sekaligus untuk membayar utang puasa? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kapan mulai puasa Syawal tahun 2026?

Mengutip dari laman Baznas, puasa Syawal paling utama dikerjakan selama enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri, yaitu mulai 2 hingga 7 Syawal. Meski demikian, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj menjelaskan bahwa puasa ini tidak wajib dilakukan berurutan.

Untuk tahun 2026, pemerintah melalui Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H pada Kami, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1447 H.

Jika merujuk pada rentang kalender Hijriah 1447 H, bulan Syawal diperkirakan berlangsung pada 22 Maret hingga 18 April 2026. Artinya, puasa Syawal 1447 H dapat mulai dikerjakan sejak sehari setelah Idul Fitri, dengan pelaksanaan enam hari yang bisa dipilih secara berurutan maupun terpisah sepanjang bulan Syawal.

Berapa hari puasa Syawal?

Puasa Syawal dikerjakan selama enam hari pada bulan Syawal. Amalan sunah ini sangat dianjurkan setelah umat Islam menuntaskan puasa Ramadhan.

Dikutip dari buku Ternyata Shalat & Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan oleh Ceceng Salamudin, hadits tentang puasa Syawal diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa menjalankan puasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa sunah enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun." (HR. Muslim)

Bolehkah puasa Syawal sekaligus ganti puasa Ramadhan?

Hukum menggabungkan puasa Syawal dengan qadha puasa Ramadhan memang menjadi bahasan di kalangan ulama. Perbedaan pendapat ini muncul karena qadha Ramadhan berstatus wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Karena itu, sebagian ulama memandang ibadah wajib sebaiknya dipisahkan dari ibadah sunnah. 

Pendapat ulama tentang niat puasa syawal sekaligus bayar utang

Sebagian ulama berpendapat bahwa menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa Syawal tidak dianjurkan. Dalam Mughni al-Muhtaj dijelaskan, orang yang berpuasa di bulan Syawal dengan niat qadha akan mendapatkan pahala qadha Ramadhan, tetapi tidak memperoleh pahala puasa sunnah Syawal secara penuh.

Pendapat ini lahir dari anggapan bahwa ibadah wajib dan sunnah semestinya dibedakan. Namun, ada juga ulama yang membolehkan penggabungan niat tersebut.

Di kalangan ulama Syafi’iyah, Ibnu Hajar al-Haitami dan Syekh ar-Ramli termasuk yang berpendapat bahwa qadha Ramadhan yang dilakukan pada bulan Syawal tetap bisa disertai harapan memperoleh pahala puasa Syawal.

Penjelasan serupa juga disebutkan oleh Imam al-Syarqawi dalam Hasyiyah al-Syarqawi, bahwa orang yang berpuasa qadha di bulan Syawal tetap berpeluang mendapatkan pahala puasa Syawal, meski tidak sesempurna orang yang meniatkannya secara khusus hanya untuk puasa Syawal.

Dengan demikian, menggabungkan puasa Syawal dan qadha Ramadhan termasuk perkara khilafiyah atau ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu, umat Islam dapat mengikuti pendapat yang dirasa lebih menenangkan hati dan sesuai dengan bimbingan guru atau ulama yang dipercayai.

Urutan yang dianjurkan: Bayar utang puasa terlebih dahulu, lalu puasa Syawal

Meski ada pendapat yang membolehkan penggabungan niat, banyak ulama tetap menganjurkan agar qadha puasa Ramadhan didahulukan sebelum menjalankan puasa Syawal. Alasannya, kewajiban wajib lebih utama untuk segera ditunaikan daripada amalan sunnah.

Anjuran untuk bersegera dalam kebaikan juga terdapat dalam firman Allah SWT:

اُولٰۤىِٕكَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُوْنَ

Artinya: "Mereka itu bersegera dalam (melakukan) kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya."

Berdasarkan hal tersebut, para ulama menilai bahwa membayar utang puasa Ramadhan lebih baik dilakukan lebih dulu agar kewajiban segera gugur.

Bacaan niat puasa Syawal

Niat puasa Syawal pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan niat puasa sunnah lainnya. Sebelum menjalankan puasa Syawal, umat Islam dianjurkan melafalkan niat. Karena termasuk puasa sunnah, niat puasa Syawal dapat dibaca pada malam hari.

Niat puasa Syawal di malam hari

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatis Syawwâli lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta'ala."

Niat puasa Syawal di siang hari

Karena termasuk puasa sunnah, niat puasa Syawal tetap boleh dibaca pada siang hari apabila sebelumnya terlupa. Berikut bacaan niat puasa Syawal di siang hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta'âlâ

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta'ala."

Tata cara puasa Syawal

Pelaksanaan puasa sunnah Syawal pada dasarnya tidak berbeda dari puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari makan dan minum sejak fajar terbit hingga matahari terbenam. Berikut tata cara puasa Syawal:

  1. Berniat
  2. Sahur
  3. Berpuasa
  4. Menyegerakan berbuka

Ketentuan pelaksanaan puasa Syawal

Dalam praktiknya, ada beberapa ketentuan untuk melaksanakan puasa Syawal, yaitu:

1. Puasa Syawal berturut-turut

Sebagian ulama menganjurkan agar puasa Syawal dilakukan enam hari secara berurutan, dimulai setelah Idul Fitri. Cara ini dinilai lebih utama karena menunjukkan semangat menjaga kesinambungan ibadah setelah Ramadhan.

Selain itu, melaksanakan puasa sejak awal bulan juga dapat membantu agar ibadah ini tidak terlewat. 

Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani juga menjelaskan bahwa puasa Syawal yang dilakukan berurutan dan langsung setelah hari raya memang lebih utama, meskipun bukan menjadi syarat sah pelaksanaannya.

2. Puasa Syawal tidak harus berturut-turut

Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa Syawal tidak wajib dilakukan secara berurutan. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa hadis tentang puasa Syawal tidak memuat ketentuan harus dilaksanakan enam hari berturut-turut. 

Pandangan serupa juga dijelaskan oleh ulama Syafi’iyah. Yang menjadi inti adalah menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal, baik dilakukan berturut-turut maupun terpisah. Keterangan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani juga menegaskan bahwa keutamaan puasa Syawal tetap dapat diraih walaupun dilaksanakan secara terpisah, asalkan tidak dilakukan pada hari Idul Fitri dan masih dalam bulan Syawal.

Artinya, puasa Syawal boleh dikerjakan secara selang-seling sesuai kemampuan. Meski demikian, mengerjakannya secara berurutan tetap dipandang lebih utama.

3. Puasa Syawal tidak boleh setelah Lebaran

Puasa Syawal tentu tidak boleh dilakukan tepat pada hari Idul Fitri, karena tanggal 1 Syawal merupakan hari yang diharamkan untuk berpuasa. Oleh sebab itu, puasa Syawal baru dapat dimulai setelah hari raya berlalu.

Ada pula sebagian pendapat ulama yang menilai puasa Syawal sebaiknya tidak langsung dilakukan sesaat setelah Lebaran karena hari-hari awal Idul Fitri masih identik dengan suasana makan, minum, dan silaturahmi.

Namun, pendapat ini bukan pandangan yang kuat. Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif menyebut pendapat tersebut sebagai pandangan yang lemah.

Karena itu, puasa Syawal tetap boleh dimulai sejak 2 Syawal. Bahkan, banyak ulama menilai memulainya lebih awal justru lebih baik agar lebih mudah menuntaskan enam hari puasa dalam bulan Syawal.

4. Tidak boleh puasa Syawal jika ada utang puasa 

Persoalan lain yang kerap dibahas adalah apakah seseorang boleh berpuasa Syawal ketika masih memiliki utang puasa Ramadhan. Dalam hal ini, para ulama umumnya menganjurkan agar qadha puasa Ramadhan didahulukan sebelum melaksanakan puasa Syawal.

Karena qadha Ramadhan bersifat wajib, banyak ulama memandangnya lebih utama untuk segera ditunaikan daripada mendahulukan puasa sunnah. Dengan menunaikan qadha lebih dahulu, seorang Muslim dinilai lebih sempurna dalam meraih keutamaan puasa Syawal sebagaimana disebut dalam hadis.

Keutamaan puasa Syawal

Berikut beberapa keutamaan puasa Syawal yang perlu diketahui.

1. Mendapat pahala seperti berpuasa setahun

Salah satu keutamaan terbesar dari puasa Syawal adalah pahala yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Hal ini dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun" (HR Muslim).

2. Menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan

Puasa Syawal juga dapat menjadi pelengkap atau penyempurnaan bagi ibadah puasa Ramadhan yang telah dijalankan. Sebagaimana ibadah sunnah lainnya, puasa Syawal dapat menutupi kekurangan yang mungkin terjadi saat menjalankan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Artinya: "Amalan seorang hamba yang dihisab pertama kali di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta'ala berfirman, 'Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya?' Kemudian yang demikian berlaku pada seluruh amal wajibnya" (HR at-Tirmidzi).

3. Menjadi tanda diterimanya puasa Ramadhan

Melanjutkan ibadah puasa setelah Ramadhan, seperti dengan puasa Syawal, juga dianggap sebagai salah satu tanda bahwa amal ibadah Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Sebab, salah satu ciri diterimanya suatu amal adalah munculnya amal kebaikan berikutnya.

Sebagaimana disampaikan oleh sebagian ulama berikut ini:

ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها

Artinya: "Ganjaran perbuatan baik adalah perbuatan baik setelahnya, maka siapa saja yang berbuat kebaikan kemudian mengikutkannya dengan perbuatan baik lainnya maka hal yang demikian adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama, pun halnya orang yang berbuat baik kemudian mengikutkannya dengan perbuatan buruk maka yang demikian adalah tanda ditolaknya kebaikan yang ia kerjakan."

4. Bentuk rasa syukur kepada Allah SWT

Puasa Syawal juga dapat menjadi wujud rasa syukur seorang Muslim atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT selama bulan Ramadhan, termasuk kesempatan memperoleh ampunan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [وفي رواية]: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni." [dalam riwayat lain]: "Siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni." (Hr. Bukhari dan Muslim)

5. Menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadhan

Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir pula semangat beribadah. Justru seorang Muslim dianjurkan untuk tetap menjaga kualitas ibadah pada bulan-bulan berikutnya.

Puasa Syawal menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadhan. Dengan melanjutkan ibadah puasa di bulan Syawal, seorang Muslim dapat menjaga konsistensi ibadah sekaligus melatih diri agar tetap istiqamah dalam beramal saleh sepanjang tahun.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda