Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Suka Kasih Hadiah atau Hampers Lebaran? Ini yang Akan Terjadi pada Otak Menurut Psikolog

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Sabtu, 14 Mar 2026 13:00 WIB

ramadhan hampers with cookies, tea flower and others
Ilustrasi hampers Lebaran / Foto: Getty Images/Kathleen Juanda Teo
Daftar Isi

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi berbagi hadiah atau hampers Lebaran kembali menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan. Tidak hanya sekadar memberi bingkisan, aktivitas ini ternyata juga berkaitan dengan cara kerja otak manusia.

Banyak orang merasa lebih bahagia setelah mengirimkan hampers kepada keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Perasaan hangat yang muncul setelah berbagi ternyata bukan sekadar perasaan sesaat.

Kesibukan dan hiruk pikuk musim liburan juga membuat momen bertukar hadiah terasa semakin istimewa. Tindakan memberi dan menerima hadiah menghadirkan beragam emosi, mulai dari haru hingga kebahagiaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menariknya, sebuah studi tahun 2019 yang dilakukan oleh Jo Cutler dan Daniel Campbell-Meiklejohn mengenai A comparative fMRI meta-analysis of altruistic and strategic decisions to give menemukan bahwa orang yang memberi akan mendapatkan manfaat, terlepas dari apakah mereka memperoleh sesuatu dari pemberian hadiah tersebut.

Lantas, sebenarnya apa yang terjadi pada otak kita saat memberikan hadiah atau hampers saat Lebaran? Simak selengkapnya di sini, Bunda.

Mengapa memberi hampers Lebaran bisa membuat otak merasa bahagia?

Memberikan hampers Lebaran sering membuat seseorang merasakan kebahagiaan yang tulus. Perasaan ini ternyata bukan hanya soal emosi, tetapi juga dipengaruhi oleh aktivitas biologis di dalam otak.

Mengutip dari laman American Psychological Association (APA), tindakan memberi hadiah dapat mengaktifkan jalur penghargaan di otak. Aktivasi ini memunculkan sensasi kebahagiaan yang sering disebut sebagai efek “warm glow”.

Fenomena tersebut dijelaskan oleh seorang direktur sains di Greater Good Science Center di University of California, Emiliana Simon-Thomas, PhD. Ia menyebut bahwa memberi sesuatu kepada orang lain bisa memicu rasa senang yang berasal dari sistem reward di otak.

Saat seseorang menyiapkan hampers, otak tidak hanya memproses tindakan memberi. Otak juga memproses hubungan sosial, perhatian, dan empati terhadap penerima hadiah.

Oleh karena itu, berbagi hampers Lebaran sering terasa begitu memuaskan. Otak secara alami memberikan respons emosional positif ketika seseorang melakukan tindakan baik kepada orang lain.

Hampers Lebaran dan aktivasi sistem reward di otak

Ketika seseorang memberikan hampers, otak akan mengaktifkan area yang berkaitan dengan rasa senang. Bagian otak ini dikenal sebagai sistem penghargaan atau reward system.

Mengutip dari situs University of Arizona News, seorang associate professor di Department of Psychology University of Arizona, Jessica Andrews-Hanna, berpendapat bahwa memberi dan menerima hadiah bisa mengaktifkan area otak yang berkaitan dengan kesenangan. 

Area tersebut juga berkaitan dengan pelepasan neurotransmitter bernama dopamin. Dopamin adalah zat kimia otak yang berperan dalam menciptakan rasa senang dan kepuasan.

Itulah sebabnya memberi hampers sering membuat seseorang merasa puas secara emosional. Otak kita bisa merespons tindakan tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan.

Mengirim hampers Lebaran dapat memperkuat hubungan sosial

Selain memicu kebahagiaan, memberi hampers saat Lebaran juga berkaitan dengan hubungan sosial. Tindakan ini sering dilakukan sebagai bentuk perhatian kepada orang lain.

Menurut Jessica Andrews-Hanna, rasa kepedulian terhadap seseorang dapat mendorong kita melakukan tindakan baik untuk mereka. Salah satu bentuknya adalah memberi hadiah atau hampers. 

Jessica Andrews-Hanna juga mengatakan bahwa terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa dekat dengan orang lain, mereka cenderung melihat orang tersebut sebagai bagian dari dirinya sendiri. Perasaan kedekatan ini membuat seseorang lebih rela melakukan kebaikan dengan memberikan hadiah. 

Sebaliknya, ketika kita melakukan sesuatu yang baik kepada orang lain, hubungan tersebut juga menjadi semakin kuat. Memberi hampers untuk Lebaran ini dapat mempererat hubungan antara Bunda dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Hal ini menunjukkan bahwa berbagi hadiah memiliki fungsi sosial yang penting. Tindakan kecil seperti mengirim hampers dapat membantu membangun kedekatan emosional antarindividu.

Kenapa memberi hampers Lebaran bisa terasa lebih menyenangkan daripada menerima?

Bunda, banyak orang mengira bahwa menerima hadiah adalah hal yang paling menyenangkan. Namun, terdapat penelitian yang dilansir dari laman American Psychological Association (APA) yang menunjukkan bahwa memberi dan menerima hadiah atau hampers mungkin cukup setara dalam hal apa yang terjadi di otak. 

Emiliana Simon-Thomas menjelaskan bahwa ketika seseorang menerima hadiah dari orang yang sangat peduli dan hadiah tersebut sangat disukai, kondisi itu dapat memicu respons penghargaan di otak yang dipenuhi hormon oksitosin dan terasa sangat mirip dengan perasaan bahagia.

“Jika Anda diberi hadiah dari seseorang yang sangat peduli kepada Anda dan Anda sangat menyukai apa yang mereka berikan, itu akan menghasilkan respons penghargaan yang sarat dengan oksitosin yang sangat mirip,” katanya.

Saat seseorang memberikan hampers, otak mengaktifkan area yang sama dengan saat seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Inilah yang membuat aktivitas memberi terasa memuaskan secara emosional. 

Selain itu, ada konsep yang disebut vicarious reward. Konsep ini menjelaskan bahwa seseorang juga bisa merasakan kebahagiaan ketika melihat orang lain merasa senang.

Dengan kata lain, ketika penerima tersenyum saat membuka hampers, pemberi juga ikut merasakan kebahagiaan tersebut. Pengalaman emosional inilah yang membuat kegiatan memberi hadiah terasa begitu berarti.

Peran empati dalam tradisi berbagi hampers Lebaran

Bunda, memberikan hampers juga melibatkan proses psikologis yang disebut perspective-taking. Proses ini terjadi ketika seseorang mencoba membayangkan perasaan atau kebutuhan orang lain.

Dalam memilih hadiah, seseorang biasanya memikirkan apa yang akan membuat penerima merasa senang. Proses berpikir seperti ini merupakan bagian dari empati kognitif.

Empati membantu seseorang memahami apa yang mungkin disukai oleh orang lain. Oleh karena itu, memilih hampers sering kali membutuhkan perhatian dan pemahaman terhadap penerimanya.

Meski memberi dan menerima hampers sering memunculkan harapan dan kegembiraan, proses menyiapkannya juga bisa memicu emosi lain. Persiapan sebelum memberikan hadiah terkadang membuat seseorang merasakan stres atau kecemasan.

Hal ini dijelaskan oleh seorang profesor pemasaran di University of Michigan’s Ross School of Business, Scott Rick, PhD. Rick dikenal karena mengembangkan skala hemat/boros yang menemukan adanya perbedaan nyata pada otak dan perilaku antara orang yang pelit dan orang yang boros, yang berkaitan dengan pengalaman emosional yang disebut “The pain of paying.

“Jika berjalan lancar, itu bisa menjadi hal yang luar biasa, tetapi juga bisa menimbulkan banyak kecemasan tentang berapa banyak uang yang Anda habiskan atau apakah mereka akan menyukai hadiah tersebut,” kata Rick.

Perasaan tersebut juga bisa muncul saat seseorang menyiapkan hadiah atau hampers untuk orang lain. Kekhawatiran tentang biaya atau apakah hadiah itu akan disukai terkadang membuat proses memberi terasa menegangkan, meski niatnya tetap untuk membahagiakan penerima.

Bunda, itulah alasan mengapa kebiasaan berbagi hampers Lebaran terasa begitu membahagiakan bagi banyak orang. Di balik bingkisan sederhana tersebut, otak ternyata merespons dengan emosi positif yang memperkuat rasa bahagia dan kedekatan dengan orang terdekat. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah wawasan Bunda, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda