moms-life
Kisah Sahabat Nabi, Tsa'labah bin Hathib yang Zakatnya Ditolak Allah SWT
HaiBunda
Jumat, 13 Mar 2026 12:05 WIB
Daftar Isi
Dalam kisah sahabat nabi, terdapat banyak pelajaran berharga tentang keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu kisah sahabat Nabi Muhammad yang menarik untuk diceritakan adalah cerita Tsa'labah bin Hathib, sahabat Rasulullah SAW yang zakatnya ditolak oleh Allah SWT.
Bunda pasti tahu bahwa Allah SWT telah memerintahkan setiap Muslim untuk menunaikan zakat sebagai bentuk kepedulian dan ketaatan kepada-Nya. Namun dalam perjalanan hidup manusia, ada kalanya perintah tersebut justru diabaikan, bahkan oleh orang yang dikenal dekat dengan Rasulullah SAW.
Dikutip dari laman detikcom, terdapat sebuah kisah sahabat nabi yang diceritakan bahwa Tsa'labah bin Hathib awalnya dikenal sebagai pribadi yang sangat rajin beribadah. Ia tidak pernah absen mendirikan salat dan kerap menghadiri majelis Rasulullah SAW dengan penuh kesungguhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana bisa zakat yang dikeluarkan oleh Tsa'labah bin Hathib bisa ditolak oleh Allah SWT? Simak kisah sahabat nabi selengkapnya di bawah ini, Bun!
Kisah sahabat nabi: Tsa'labah yang hidup serba kekurangan
Dikutip dari buku Lembaran Kisah Mutiara oleh Dian Erwanto, kehidupan Tsa'labah saat itu sangat sederhana dan penuh keterbatasan. Bahkan karena kemiskinan yang dialaminya, ia dan sang istri hanya memiliki satu pakaian yang harus dipakai secara bergantian.
Suatu ketika, Tsa'labah tampak akan segera meninggalkan masjid setelah menunaikan salat tanpa sempat memanjatkan doa. Sikapnya yang terburu-buru itu membuat Rasulullah SAW memperhatikannya dan bertanya:
"Mengapa setelah salat, engkau bersikap seperti orang munafik yang terburu-buru keluar masjid?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Tsa'labah pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Ia berkata,
"Ya Rasulallah, saya terburu-buru keluar karena saya dan istri saya hanya memiliki selembar pakaian yang sedang saya pakai ini, jadi saya menggunakan pakaian ini sedangkan istri saya telanjang di rumah, lalu saya menjumpainya untuk memakai pakaian ini untuk shalat sedangkan saya telanjang, oleh sebab itu doakanlah saya agar dikaruniai harta melimpah."
Permintaan itu menunjukkan betapa beratnya kehidupan yang tengah ia jalani bersama sang istri. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW kemudian menasihatinya dengan penuh hikmah,
"Wahai Tsa'labah, sesungguhnya harta yang sedikit yang disyukuri itu lebih baik dari pada harta banyak yang tidak bersyukur."
Kisah sahabat nabi: Tsa'labah minta didoakan agar menjadi kaya
Tsa'labah diketahui beberapa kali memohon kepada Nabi Muhammad SAW agar didoakan menjadi orang yang memiliki banyak harta. Setiap bertemu Nabi Muhammad SAW, ia kembali menyampaikan harapan yang sama dengan penuh harap.
Pada suatu kesempatan, ia kembali datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata:
"Ya Rasulullah, doakanlah kami agar Allah melimpahkan harta kepadaku."
Permintaan tersebut diucapkan oleh Tsa'labah bin Hathib dengan sungguh-sungguh karena berharap kehidupannya akan berubah menjadi lebih baik.
Namun, Rasulullah SAW tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut. Beliau menjawab, "Tidakah engkau mempunyai teladan baik pada diri Rasulullah? Demi Allah seandainya saya ingin mengubah gunung itu menjadi emas dan perak, niscaya itu akan terjadi."
Rasulullah SAW menasihati Tsa'labah agar tetap bersyukur atas rezeki yang telah dimilikinya. Beliau tidak segera mendoakan kekayaan untuknya karena khawatir harta justru membuatnya lalai.
Meski begitu, waktu terus berlalu dan Tsa'labah kembali datang memohon doa yang sama. Ia berkata:
"Ya Rasulullah, doakanlah kami agar dikaruniai harta melimpah, demi Dzat yang telah mengutus engkau sebagai seorang Nabi, maka karuniakan lah harta kepadaku pasti aku akan memberikan hak-hak kepada yang berhak."
Setelah mendengar kesungguhan itu, Rasulullah SAW akhirnya mendoakannya. Beliau juga memberinya sepasang kambing yang kemudian berkembang biak dengan sangat cepat dan membawa keberkahan.
Kambing-kambing tersebut bertambah banyak dalam waktu singkat, seolah berkembang seperti ulat yang terus berlipat ganda. Tidak lama kemudian, jumlah ternaknya begitu banyak hingga memenuhi berbagai tempat.
Karena ternaknya terus bertambah, Tsa'labah pun berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia bahkan memilih tinggal di daerah desa agar memiliki lahan yang lebih luas untuk memelihara kambing-kambingnya.
Seiring bertambahnya kekayaan dan kesibukan mengurus ternak, kehidupannya pun berubah. Tsa'labah mulai jarang hadir di majelis Rasulullah SAW dan perlahan meninggalkan salat berjamaah di masjid.
Pada awalnya ia masih datang ketika salat Jumat saja. Namun lama-kelamaan, ia benar-benar tidak lagi terlihat di masjid untuk melaksanakan salat bersama kaum muslimin.
Tsa'labah diminta untuk berzakat
Suatu waktu, Nabi Muhammad SAW teringat pada Tsa'labah dan menanyakan kabarnya kepada para sahabat. Beliau bertanya, "Apa yang dikerjakan Tsa'labah?"
Para sahabat kemudian menjawab bahwa Tsa'labah kini sibuk menggembalakan kambing dalam jumlah yang banyak hingga memenuhi sebuah perkampungan. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Celakalah Tsa'labah."
Beberapa waktu kemudian, Allah SWT memerintahkan kewajiban zakat kepada kaum muslimin. Nabi Muhammad SAW pun mengutus dua orang sahabat untuk mendatangi Tsa'labah untuk meminta zakat dan harta yang dimilikinya.
Namun, Tsa'labah justru menolak memberikan zakat yang diminta. Bahkan, ia meremehkan permintaan tersebut dan berkata, "Ini tidak lain adalah upeti, kalian pulanglah agar saya bisa mempertimbangkan lagi."
Kedua utusan itu akhirnya kembali menghadap Rasulullah SAW untuk menyampaikan apa yang terjadi. Akan tetapi sebelum mereka sempat menjelaskan kejadian tersebut, Rasulullah SAW telah lebih dahulu bersabda, "Celakalah Tsa'labah."
Peristiwa itu kemudian diikuti dengan turunnya wahyu Allah SWT yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surat At Taubah ayat 75-76:
وَمِنْهُم مَّنْ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنْ ءَاتَىٰنَا مِن فَضْلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضْلِهِۦ بَخِلُوا۟ بِهِۦ وَتَوَلَّوا۟ وَّهُم مُّعْرِضُونَ
Artinya: "Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)."
Zakat Tsa'labah ditolak Allah
Ketika Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT tersebut kepada para sahabat, ada seorang kerabat Tsa'labah yang ikut mendengarkannya. Ia segera bergegas menemui Tsa'labah dan berkata, "Celakalah engkau Tsa'labah, sebab Allah telah menurunkan ayat yang telah mengatakan seperti ini."
Mendengar kabar itu, Tsa'labah langsung merasa takut dan menyesal. Ia pun segera mendatangi Nabi Muhammad SAW sambil membawa zakat dari hartanya dengan harapan dapat menunaikan kewajiban tersebut.
Namun, Rasulullah SAW menolak pemberian itu dan bersabda, "Sesungguhnya Allah telah melarangku untuk menerima zakatmu." Penolak tersebut membuat Tsa'balah sangat terpukul hingga ia menaburkan tanah ke atas kepalanya sebagai tanda penyesalan.
Melihat hal itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Itu karena perbuatanmu sendiri, sebab aku telah memerintahkanmu akan tetapi engkau tidak bersedia mematuhiku." Perkataan tersebut menjadi teguran keras atas sikap Tsa'labah yang sebelumnya menolak menunaikan zakat.
Setelah Rasulullah SAW wafat, Tsa'labah masih berusaha memperbaiki kesalahannya. Ia mendatangi sayyidina Abu Bakar sambil membawa hartanya dan berkata, "Terimalah zakatku ini!"
Namun sayyidina Abu Bakar tidak menerima zakat tersebut dan berkata, "Rasulullah SAW tidak bersedia menerima darimu, bagaimana mungkin aku akan menerimanya." Penolakan itu membuat Tsa'labah kembali pulang tanpa berhasil menunaikan zakatnya.
Ketika masa pemerintahan sayyidina Umar tiba, Tsa'labah kembali datang dengan niat yang sama. Ia membawa zakatnya dan berkata, "Terimalah zakatku ini!"
Akan tetapi sayyidina Umar juga menolak dan berkata, "Beliau berdua (Rasulullah Saw dan sayyidina Abu Bakar) tidak bersedia menerimanya darimu, bagaimana mungkin aku bisa menerimanya." Lagi-lagi zakat tersebut tidak diterima.
Hal yang sama kembali terjadi pada masa khilafah sayyidina Usman. Tsa'labah mendatangi beliau untuk menyerahkan zakat sambil berkata, "Terimalah zakatku ini!"
Namun, Sayyidina Usman tetap menolaknya dan berkata, "Beliau-beliau tidak bersedia menerima zakat darimu, bagaimana mungkin aku akan menerimanya." Hingga akhirnya, Tsa'labah meninggal dunia pada masa pemerintahan Sayyidina Usman bin Affan.
Bunda, itulah kisah sahabat nabi yang bernama Tsa'labah bin Hathib yang menjadi pengingat bahwa harta tidak selalu membawa kebaikan jika tidak disertai dengan rasa syukur dan ketaatan pada Allah SWT. Dari kisah sahabat nabi ini, kita dapat mengambil pelajaran agar selalu menunaikan kewajiban zakat dan tidak menunda peritah Allah SWT.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Batas Waktu Terakhir Bayar Zakat Fitrah dan Waktu Terbaiknya
Mom's Life
Besaran Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang dan Beras 2023, Serta Cara Bayar Online Bun
Mom's Life
Catat Bun, Ini Doa Menerima Zakat Fitrah Arab, Latin, dan Terjemahannya
Mom's Life
Niat Zakat Fitrah serta Beserta Syarat dan Waktu Dilakukannya, Yuk Tunaikan Bun
Mom's Life
Ketentuan Membayar Zakat Fitrah dan 8 Golongan yang Menerimanya
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Cantik Kirana, Anak Anggun C Sasmi yang Kini Berusia 16 Tahun
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kisah Uwais Al Qarni, Anak Berbakti yang Menggendong Ibunya dari Yaman ke Mekkah untuk Berhaji
7 Cerita Islami tentang Kebaikan yang Menginspirasi untuk Anak
Kumpulan Kisah Nabi Muhammad Lengkap dan Mukjizatnya untuk Diajarkan ke Anak