Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Begini Cara Membaca Label Makanan Olahan untuk Cegah Obesitas, Awas Salah Pilih Bun!

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Kamis, 05 Mar 2026 19:10 WIB

Close-up of overweight woman measuring her waist with tape measure
Ilustrasi obesitas/Foto: iStock
Daftar Isi
Jakarta -

Punya berat badan berlebih alias obesitas tentu bukan kondisi ideal, Bunda. Keadaan tersebut dapat memicu berbagai gangguan kronis, mulai dari penyakit jantung, diabetes, hipertensi, kadar kolesterol tidak terkendali, hingga masalah pada organ hati.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini mengungkap bahwa prevalensi obesitas nasional pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun mengalami peningkatan. Angka ini naik dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.

Obesitas sendiri disebabkan oleh konsumsi kalori yang berlebihan dalam jangka panjang, yang bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, dalam bentuk pangan olahan maupun siap saji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kemenkes RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menjelaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat berdampak serius pada kesehatan.

“Kalau dari data yang disampaikan bahwa sebenarnya obesitas dan obesitas sentral terus meningkat,” ungkap Siti Nadia dalam acara Briefing “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas” dalam rangka memperingati Hari Obesitas Sedunia 2026, Selasa (3/3/2026).

“Jadi, kalau kita sudah mulai obesitas, obesitas yang mulai dari anak-anak itu sudah pasti memiliki kecepatan untuk menderita penyakit jantung, stroke, ginjal, sudah pasti menjadi lebih besar risikonya,” sambungnya.

Penyebab angka obesitas di Indonesia naik

Siti Nadia mengungkap bahwa makanan cepat saji atau pangan olahan termasuk penyebab seseorang mengalami obesitas. Terlebih lagi, jika mereka juga tidak menerapkan gaya hidup sehat.

“Jadi, kita tahu faktor risiko penyakit tidak menular itu umumnya sama, mulai dari perokok, aktivitas fisik kurang, konsumsi makan sayurnya rendah, dan tadi konsumsi gula, garam, lemak yang berlebihan,” jelasnya.

Meski begitu, ia menjelaskan kondisi ini masih dapat dicegah dengan perubahan pola hidup sehat dan melakukan skrining kesehatan sejak dini.

“Banyak sekali sebenarnya penyakit tidak menular itu bisa kita cegah lebih awal kalau kita melakukan skrining atau deteksi awal. Makanya cegah-cegah itu sangat bermanfaat,” ungkapnya.

Selain itu, mencermati informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan juga sangat penting untuk membatasi asupan gula, garam, dan lemak.

“Masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas. Gunakan bulan Ramadhan ini untuk kita mengurangi takaran konsumsi gula, garam, dan lemak,” ujar Siti Nadia.

Cara membaca label kemasan makanan olahan

Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana S.T.P., M.Sc., PD.Eng, menjelaskan pentingnya membaca label kemasan pada makanan olahan.

“Pangan olahan dan siap saji yang beredar saat ini sangat beragam, konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, energi total, persentase AKG, serta komposisi bahan,” ujar Susan.

“Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya,” sambungnya.

Lantas, bagaimana cara membaca label kemasan yang dapat Bunda ikuti ketika membeli pangan olahan di supermarket? Simak langkah-langkahnya berikut ini:

1. Perhatikan informasi nilai gizi

Bunda dianjurkan untuk membeli pangan olahan yang mencantumkan informasi nilai gizi. Sebab, informasi tersebut kini telah diwajibkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Informasi nilai gizi itu sebenarnya sudah diwajibkan oleh BPOM. Di informasi nilai gizi itu pasti ada yang disebut dengan takaran saji,” ujar Susan.

2. Membaca takaran saji

Takaran saji pada informasi nilai gizi merupakan jumlah makanan atau minuman yang dianjurkan untuk dikonsumsi dalam satu kali makan.

“Nah, itu harus diperhatikan pertama kali. Misalnya, dalam satu kotak ini tulisan takaran saji satu kotak 125 ml. Artinya apa? Kalau kita menghabiskan satu kotak ini, yaitu satu takaran saji,” jelasnya.

Namun, Bunda juga perlu hati-hati karena ada beberapa produk yang mencantumkan takaran saji lebih dari satu.

“Tapi, ada juga satu kemasan yang isinya empat takaran saji. Sementara informasi nilai gizi itu ditulis berdasarkan satu takaran saja. Artinya, kalau ada kemasan yang isinya empat takaran saji, kemudian kita menghabiskan satu bungkus tersebut, kita harus mengalikan semua yang di informasi nilai gizi ini dengan angka empat,” ujar Susan.

3. Cek energi total, lemak total, lemak jenuh, kolesterol, hingga protein

Energi total, lemak total, lemak jenuh, kolesterol, hingga protein dalam informasi nilai gizi adalah jumlah keseluruhan yang diperoleh tubuh dari satu takaran saji produk tersebut.

“Kemudian, ada juga jumlah energi total. Artinya, energi yang masuk ke dalam tubuh kita kalau kita mengonsumsi satu kotak ini. Lalu, ada juga informasi lemak total, lemak jenuh, kolesterol, protein. Nah, ini semuanya adalah informasi nilai gizi,” ungkap Susan.

4. Perhatikan label penting lainnya pada kemasan

Susan juga menyarankan Bunda untuk memperhatikan label penting lainnya yang berada di luar informasi nilai gizi.

“Di luar informasi nilai gizi ini, dalam label pangan masih ada tanggal kedaluwarsa, nama produk, komposisi, keterangan logo halal, dan izin edar,” jelasnya.

Nah, itulah beberapa cara membaca label pada kemasan yang dapat Bunda ikuti untuk mencegah obesitas. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda