Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

10 Kata Pengganti 'Maaf' yang Buat Seseorang Terlihat Profesional Menurut Psikolog

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Rabu, 18 Feb 2026 11:30 WIB

Ilustrasi Sahabat
10 Kata Pengganti 'Maaf' yang Bisa Bikin Bunda Terlihat Profesional Menurut Psikolog/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tuaindeed
Daftar Isi
Jakarta -

Mengutarakan permintaan maaf adalah hal yang lumrah bila Bunda berbuat kesalahan. Tapi, kata 'maaf' bisa menjadi senjata makan tuan bila disampaikan secara berlebihan.

Terlalu banyak meminta maaf merupakan mekanisme pertahanan diri yang tak memberikan keuntungan apa pun. Sebaliknya, hal tersebut justru dapat merusak pandangan orang lain terhadap Bunda. Tidak hanya itu, sering meminta maaf juga bisa berdampak negatif pada diri sendiri dan lingkungan kerja.

Nah, alih-alih sering mengucapkan maaf, Bunda dapat menggantinya dengan kata yang lebih tepat agar terlihat profesional. Simak kata pengganti 'maaf' yang tepat menurut psikolog berikut ini!

10 Kata pengganti "Maaf" agar terlihat profesional menurut psikolog

Dikutip dari beberapa sumber, berikut 10 kata pengganti "Maaf" yang bisa Bunda sampaikan agar terlihat lebih profesional:

1. "Aku menghargai pengertian kamu"

Meskipun meminta maaf adalah hal yang baik saat terjadi pertengkaran atau konflik besar, hal ini tidak selalu diperlukan dalam percakapan yang tidak terlalu intens.

Misalnya, jika sedang mencoba berkompromi dengan seseorang, Bunda tidak perlu minta maaf jika tidak melakukan kesalahan. Dengan melakukan ini, Bunda memberi tahu mereka bahwa Bunda menghargai perspektif mereka, namun tidak meminta maaf yang tidak perlu.

2. "Terima kasih atas kesabaran kamu"

Mengungkapkan rasa terima kasih atas kesabaran orang lain akan membuat mereka tahu bahwa Bunda peduli dengan dampak kesalahan sendiri. Alih-alih meminta maaf atas kesalahan ini, justru Bunda lebih baik berterima kasih atas kesediaan mereka untuk bersabar.

3. “Mari kita cari solusinya bersama”

Bekerja dengan orang lain untuk memecahkan suatu masalah biasanya tidaklah mudah, itu sebenarnya cukup sulit. Berkolaborasi dengan orang-orang untuk menyelesaikan suatu masalah jauh lebih memberdayakan dan efisien daripada menyalahkan diri sendiri atas ketidakmampuan untuk mencapai suatu kesimpulan.

Ilustrasi SahabatIlustrasi Meminta Maaf/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tuaindeed

4. “Aku mendengarkanmu, aku akan melakukan yang lebih baik lagi”

Dengan memberi tahu orang lain bahwa Bunda secara aktif mendengarkan kekhawatirannya dan memiliki rencana untuk mengubah perilaku yang lebih baik, Bunda menunjukkan komitmen untuk menantikan solusi alih-alih terus mengasihani diri sendiri.

5. “Aku akan mengambil langkah untuk mencegah hal ini”

Melansir dari laman Parade, ini menunjukkan bahwa Bunda bersedia melakukan apa yang diperlukan untuk menghentikan situasi tersebut terjadi lagi di masa yang akan datang.

Menggunakan bahasa ini juga membuat Bunda bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa berulang kali minta maaf, yang biasanya hanya membuat situasi semakin tegang.

6. “Terima kasih atas masukkannya, ini penting bagiku”

Meskipun respons ini terkesan lebih formal daripada respons yang biasa digunakan saat berbicara dengan teman atau keluarga, respons ini sangat berguna, khususnya saat lawan bicara merasa tidak didengarkan.

Hal ini memfasilitasi komunikasi yang terbuka, dibandingkan dengan permintaan maaf yang berlebihan, sehingga menghentikan percakapan. Bunda juga menunjukkan kepada mereka bahwa Bunda menghargai masukkannya.

7. “Saya mengerti kamu kesal”

Bunda benar-benar harus memahami pernyataan ini, ajukan pernyataan tentang apa yang membuat mereka kesal atau apakah itu sesuatu yang pernah dilakukan sebelumnya untuk mengetahui akar masalahnya.

8. “Mari kita selesaikan masalah ini bersama”

Inilah contoh bagus lainnya dalam mendorong kolaborasi dan efisiensi daripada meminta maaf secara tidak perlu. Hal ini tidak hanya membuka pintu bagi kritik yang membangun, namun juga membantu mendorong semua orang yang terlibat untuk mengambil peran mereka dalam situasi tersebut.

9. “Ini tidak berjalan sesuai rencana”

Dengan pernyataan sederhana ini, Bunda memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan mencairkan suasana. Hal ini memungkinkan untuk bergerak maju menuju solusi daripada meminta maaf secara berlebihan.

10. “Aku tahu kamu sedang terluka saat ini, bagaimana aku bisa membantu?”

Jika seseorang terluka, berduka, mereka bisa terlihat tidak terikat ketika yang mereka butuhkan hanyalah dukungan.

Mengenali rasa sakit mereka dan menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk membuat mereka merasa lebih baik adalah menunjukkan kepedulian yang tulus.

Nah, itulah beberapa kata pengganti “Maaf” yang bisa Bunda sampaikan menurut psikolog. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda