Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Sejarah Warna Merah Kenapa Identik dengan Imlek dan Dianggap Bawa Hoki

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 17 Feb 2026 06:50 WIB

Ilustrasi Imlek
Ilustrasi Tahun Baru Imlek/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini akan jatuh pada 17 Februari 2026. Tahun Baru Imlek adalah hari raya besar yang dirayakan di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, Cina, Korea, dan Vietnam.

Dilansir laman National Geographic, Tahun Baru Imlek menandai awal tahun baru dalam kalender lunisolar, yang dikembangkan oleh Tiongkok kuno. Perayaan ini diadopsi di berbagai negara seiring penyebaran budaya Tiongkok melalui perdagangan, pengaruh budaya, dan peperangan.

Imlek identik dengan kumpul keluarga dan warna merah. Ya, hiasan berwarna merah sering ditemukan di rumah-rumah orang yang merayakan Imlek, Bunda.

Lantas, apa arti warna merah dalam perayaan Tahun Baru Imlek? Kenapa warna ini dianggap bisa membawa hoki?

Simak penjelasan lengkap dari Bubun berikut ini ya!

Sejarah warna merah saat Imlek

Menurut ulasan di Prestige Online, warna memainkan peran penting dalam budaya Tiongkok karena mewakili berbagai kualitas dan gagasan yang terbentuk ribuan tahun lalu. Warna dalam budaya Tiongkok dianggap terhubung dengan lingkungan di sekitar kita.

Salah satu warna yang identik dengan budaya Tiongkok adalah merah. Warna ini dianggap sebagai warna keberuntungan sehingga dijadikan simbol utama perayaan Imlek hingga acara penting lainnya seperti pernikahan.

Menurut legenda, warna merah membawa hoki atau keberuntungan karena memiliki kisah tersembunyi yang telah diceritakan turun-menurun. Warna merah disebut beruntung karena dapat menghalau 'Nian' atau seekor binatang buas yang akan datang pada malam Tahun Baru Imlek untuk memangsa penduduk desa, ternak, dan hasil panen.

Untuk melindungi diri dari makhluk mitos tersebut, orang-orang akan meletakkan makanan di depan pintu rumah mereka, dengan harapan Nian tidak akan menyakiti siapa pun setelah memakannya.

Suatu malam, orang-orang melihat Nian ketakutan pada seorang anak yang mengenakan pakaian merah. Sejak saat itu, mereka menggantung lampion merah dan gulungan musim semi berisi bait-bait puisi untuk mengusir makhluk buas itu selama setahun.

Sejak zaman dulu, orang-orang juga saling menyapa dengan mengucapkan 'Gong Xi Fa Cai'. Selain memiliki arti untuk mendoakan kebahagiaan, 'Gong Xi Fa Cai' juga diucapkan untuk mengusir makhluk mitos Nian. Nah, karena alasan yang sama, tarian Nian atau tarian singa dipentaskan setiap malam Tahun Baru Imlek.

Ilustrasi ImlekIlustrasi Imlek/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Tiga warna keberuntungan dalam tradisi Tiongkok

Selain warna merah, orang Tiongkok juga percaya dengan dua warna lain yang dianggap bisa membawa keberuntungan. Kedua warna tersebut adalah kuning dan hijau.

Warna-warna tersebut berasal dari Teori Lima Elemen Tiongkok, di mana merah melambangkan 'api', kuning melambangkan 'bumi', hijau atau biru melambangkan 'kayu'. Ada pula warna putih yang dianggap melambangkan 'logam', dan hitam melambangkan 'air'.

Merah sendiri merupakan warna tradisional suku Han atau kelompok etnis dominan di Tiongkok. Selain memiliki arti keberuntungan, warna merah juga dapat melambangkan nasib baik, vitalitas, perayaan, dan kemakmuran. Saat Tahun Baru Imlek, masyarakat Tiongkok biasanya mengenakan pakaian merah untuk mendapatkan keberuntungan dan mengusir roh jahat.

Kemeriahan Imlek yang serba merah

Selain pakaian, warna merah dalam perayaan Imlek juga bisa ditemukan pada amplop yang diberikan kepada anak-anak dan kaum muda lajang. Amplop merah atau Lai See biasanya berisi uang tunai atau koin cokelat yang dimaknai sebagai simbol keberuntungan dan kesehatan.

Menurut tradisi, jumlah uang dalam amplop merah ini harus genap. Pasalnya, jumlah ganjil hanya boleh diberikan saat pemakaman, Bunda.

Perayaan Imlek tak lengkap bila tak memasang lentera di rumah. Di China, terdapat festival lentera yang digelar pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek. Festival ini menandai berakhirnya Festival Musim Semi di sana.

Perayaan festival lentera diadakan pada malam hari dengan lentera merah yang dipajang di seluruh kota dan anak-anak membawanya dalam pawai. Dikutip dari China Light Festival, seiring kemajuan teknologi, kini banyak tempat menggunakan listrik untuk menerangi lentera sambil tetap menggunakan keterampilan pembuatan lentera tradisional. Ada banyak tema yang dapat digunakan, seperti hewan, tumbuhan, makhluk laut, budaya Tiongkok, arsitektur internasional, luar angkasa, sejarah, cerita kuno, dan banyak lagi.

Tradisi dalam festival lentera konon berasal dari Dinasti Han. Saat itu, para biksu Buddha menyalakan lentera dan lilin untuk Buddha. Tradisi lalu menyebar ke masyarakat non-Buddha dan menjadi bagian dari Tahun Baru Imlek.

Demikian sejarah warna merah dalam perayaan Imlek serta tradisi lain di hari besar orang Tiongkok ini.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda