moms-life
Ciri Orang yang Suka Menghakimi, Sering Ucapkan 12 Kalimat Ini Menurut Psikologi
HaiBunda
Sabtu, 07 Feb 2026 13:40 WIB
Daftar Isi
-
Kalimat yang sering diucapkan orang yang suka menghakimi menurut psikologi
- 1. "Aku enggak akan pernah melakukan itu"
- 2. "Aku enggak habis pikir kamu menganggap itu ide yang bagus"
- 3. "Kamu terlalu sensitif"
- 4. "Harusnya kamu tahu lebih baik"
- 5. "Itu masalah kamu"
- 6. "Ini semua salah kamu"
- 7. "Itu belum cukup baik"
- 8. "Kamu salah"
- 9. "Kamu enggak akan pernah berhasil"
- 10. "Kamu selalu bikin semuanya berantakan"
- 11. "Aku kan sudah bilang"
- 12. "Memang khas kamu banget"
Setiap orang tentu pernah berada di situasi ketika merasa dinilai, dikritik, atau bahkan direndahkan lewat ucapan orang lain. Tanpa disadari, kalimat-kalimat tertentu bisa meninggalkan luka emosional yang mendalam, terutama jika datang dari orang terdekat.
Dalam psikologi, kebiasaan menghakimi bukan sekadar soal kejujuran, tetapi sering berkaitan dengan kondisi emosional dan rasa aman seseorang. Orang yang gemar menghakimi biasanya tidak langsung terlihat dari sikap kasar. Sebaliknya, mereka kerap menyelipkan penilaian lewat kalimat yang terdengar biasa, namun memiliki makna merendahkan.
Mengutip dari laman Your Tango, psikologi mengungkap bahwa ada ciri tertentu yang sering diulang oleh orang-orang yang suka menghakimi. Untuk memahami cirinya lebih dalam, yuk Bunda simak penjelasan lengkapnya dalam artikel di bawah ini.
Kalimat yang sering diucapkan orang yang suka menghakimi menurut psikologi
Berikut ini 12 kalimat yang sering diucapkan orang yang suka menghakimi menurut psikolog.
1. "Aku enggak akan pernah melakukan itu"
Kalimat ini sering diucapkan oleh orang yang suka menghakimi, seseorang menempatkan dirinya seolah lebih bermoral dan lebih benar, sekaligus membuat lawan bicara merasa malu atas pilihan yang diambil.
Dalam psikologi, sikap suka menghakimi sering dipandang sebagai mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat, karena digunakan untuk menutupi rasa tidak aman dan harga diri yang rapuh. Kebutuhan manusia untuk diterima dan dicintai yang tidak terpenuhi bisa berubah menjadi kebiasaan menilai orang lain secara keras.
2. "Aku enggak habis pikir kamu menganggap itu ide yang bagus"
Ucapan ini menyiratkan anggapan bahwa orang lain kurang cerdas atau tidak memiliki pertimbangan yang baik. Padahal, tidak setuju dengan keputusan seseorang tidak harus disampaikan dengan nada merendahkan.
Psikologi menilai sikap menghakimi sangat berkaitan dengan kebiasaan terlalu kritis dan minim empati. Alih-alih menghakimi satu keputusan, umpan balik yang membangun seharusnya melihat seseorang secara utuh, termasuk latar belakang dan pengalaman hidupnya.
3. "Kamu terlalu sensitif"
Kalimat "kamu terlalu sensitif" sering diucapkan orang yang suka menghakimi untuk meremehkan perasaan orang lain. Daripada mencoba memahami emosi yang muncul, ucapan ini justru menghilangkan perasaan tersebut dan menyalahkan orang yang mengungkapkannya.
Dalam psikologi, kebiasaan mengatakan hal ini mencerminkan rendahnya kecerdasan emosional, karena seseorang kesulitan menghadapi ketidaknyamanan, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain.
Semakin sering kalimat ini digunakan, semakin besar jarak emosional yang tercipta, hingga akhirnya hubungan terasa dingin dan tidak dekat.
4. "Harusnya kamu tahu lebih baik"
Ungkapan ini menunjukkan sikap menghakimi karena menilai seseorang hanya dari hasil buruk yang terjadi, tanpa melihat niat di balik tindakannya. Kalimat ini seolah menuntut orang lain mampu memprediksi segala konsekuensi di masa depan.
Menurut pandangan terapis Jeff Guenther, kita cenderung menilai diri sendiri dari niat, sementara menilai orang lain dari dampak yang kita rasakan. Karena itu, komunikasi yang lebih empati perlu digunakan agar hubungan bisa tetap sehat.
5. "Itu masalah kamu"
Kalimat ini sering diucapkan untuk menolak keterlibatan emosional dan menegaskan jarak dengan orang lain. Dari pada mencari titik temu, orang yang suka menghakimi justru menggunakan ucapan ini untuk menutup permintaan bantuan dan menunjukkan sikap tidak peduli.
Mengutip penjelasan dari program Wisdom and Wellbeing University of Virginia, empati adalah dasar dari rasa welas asih, yakni kemampuan memahami perasaan orang lain dan membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi mereka.
Empati tumbuh dari kebiasaan mendengarkan secara aktif dan keingintahuan yang lembut, sehingga percakapan terasa aman dan penuh penerimaan, bukan penghakiman.
6. "Ini semua salah kamu"
Menyalahkan satu pihak atas seluruh masalah menjadi cara mudah bagi orang yang suka menghakimi untuk menghindari tanggung jawab. Dengan ucapan ini, mereka memposisikan diri seolah tidak bersalah, sementara orang lain dianggap sebagai sumber utama masalah.
Mengutip penjelasan Dr. Jerry Duberstein, seorang konselor hubungan, bersama Mary Ellen Goggin, hubungan yang kuat dibangun dari kemampuan saling bertanggung jawab dan menyampaikan masukan secara sehat.
Ia mengingatkan bahwa kritik yang tidak tepat dapat dengan mudah berubah menjadi sikap merendahkan atau penuh rasa jijik, yang disebut sebagai contempt. Menurutnya, sikap ini muncul dari akumulasi kekecewaan yang tidak tersampaikan dengan baik.
7. "Itu belum cukup baik"
Kalimat ini sering diucapkan orang yang suka menghakimi untuk menanamkan keraguan diri pada orang lain. Meski tidak secara langsung menyebutkan "kamu tidak cukup baik", ucapan ini membuat seseorang merasa tidak berharga.
Terapis Meg Josephson menjelaskan bahwa rasa takut akan penilaian orang lain adalah hal yang hampir tidak terhindarkan. "Jika kamu takut akan dihakimi atau disalahpahami, kenyataannya itu memang akan terjadi," ujarnya.
Karena itu, fokus sebaiknya bukan pada menghindari penilaian, melainkan belajar melewati rasa tidak nyaman tersebut.
8. "Kamu salah"
Ucapan "kamu salah" sering digunakan bukan untuk meluruskan, melainkan untuk membuat orang lain merasa kecil dan tersudut. Kalimat ini menjadi bentuk kritik yang melukai, bukan memberi pemahaman atau solusi.
Grief coach Pamela Aloia mengungkapkan bahwa kritis yang terus-menerus, baik ke diri sendiri maupun ke orang lain, dapat menghambat kedekatan emosional dengan orang-orang terdekat.
9. "Kamu enggak akan pernah berhasil"
Kalimat ini tergolong sangat menyakitkan karena secara langsung mematahkan harapan dan kepercayaan diri seseorang. Mengatakan seseorang tidak akan pernah sukses sama artinya dengan menutup kesempatan mereka untuk mencoba, belajar dari kesalahan, dan berkembang.
Dalam psikologi, ucapan ini berkaitan dengan konsep labeling, yaitu memberi cap negatif yang membuat seseorang hanya dilihat dari kekurangannya saja. Orang yang suka menghakimi kerap melontarkan kalimat ini sebagai bentuk kritik keras terhadap dirinya sendiri.
10. "Kamu selalu bikin semuanya berantakan"
Ucapan ini mencerminkan pola pikir kaku yang dikenal sebagai all-or-nothing thinking atau berpikir serba hitam-putih. Orang dengan pola pikir ini cenderung melihat segala sesuatu secara ekstrem, seolah seseorang selalu gagal dan tidak pernah melakukan hal yang benar.
Cara berpikir seperti ini termasuk distorsi kognitif yang membuat penilaian menjadi tidak adil dan cenderung menghakimi. Untuk keluar dari jebakan ini, penting menyadari pola pikiran negatif tersebut, lalu belajar melihat situasi dengan lebih seimbang.
11. "Aku kan sudah bilang"
Kalimat ini termasuk salah satu ucapan paling tidak empatik karena sama sekali tidak bertujuan membantu atau memberi solusi. Ungkapan “aku kan sudah bilang” lebih sering dipakai untuk menunjukkan bahwa diri sendirilah yang paling benar, sambil membuat orang lain merasa bersalah, malu, atau kecewa.
Dalam psikologi, ucapan ini mencerminkan sikap menghakimi karena mengabaikan perasaan lawan bicara dan tidak memberi dukungan apa pun untuk memperbaiki keadaan ke depan.
12. "Memang khas kamu banget"
Ucapan ini menunjukkan cara pandang yang kaku dan penuh penilaian, karena seseorang dinilai hanya dari kesalahan atau pengalaman masa lalunya.
Orang yang suka menghakimi kerap menggunakan kalimat ini untuk memberi label, seolah-olah seseorang tidak bisa berubah atau berkembang.
Padahal, setiap orang memiliki ruang untuk bertumbuh dan menulis ulang kisah hidupnya, terlepas dari penilaian negatif orang lain.
Dengan mengenali ciri orang yang suka menghakimi, Bunda bisa lebih bijak menjaga perasaan, membangun komunikasi yang sehat, dan dapat melindungi diri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
12 Tanda Seseorang Terlahir Egois Menurut Psikologi
Mom's Life
Simak 5 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Orang Tak Kompeten
Mom's Life
11 Macam Kepribadian dari Cara Duduk, Gambarkan Sifat Periang hingga Perfeksionis
Mom's Life
7 Hal yang Bikin Bunda Memesona Selain Menggunakan Riasan Wajah
Mom's Life
Tanda Orang yang Diam-diam Benci pada Kita, Salah Satunya Kontak Mata
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Wisuda S2 Psikologi Tsania Marwa, Anggun Berbalut Kebaya Merah
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ciri Orang Baik tapi Tidak Tulus, Sering Ucapkan 12 Kalimat Ini Menurut Psikolog
Ciri-ciri Orang Bermental Miskin, Sering Ucapkan 10 Kalimat Ini
Fitur Wajah Ini Sering Dianggap Ciri Orang Baik, Ini Fakta Menariknya