Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

10 Gejala Virus Nipah, Penyakit Zoonosis Mematikan Tanpa Vaksin yang Merebak di Negara Tetangga RI

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Selasa, 27 Jan 2026 15:40 WIB

Virus Nipah
Virus Nipah yang menyerang negara-negara tetangga Indonesia/ Foto: Getty Images/jarun011
Daftar Isi

Bunda, belakangan ini dunia medis kembali menyoroti virus Nipah yang merebak di kawasan Asia Tenggara. Penyakit ini dikenal mematikan dan menjadi perhatian serius karena penyebarannya yang cepat.

Virus Nipah bukan hanya masalah kesehatan biasa, tetapi termasuk penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia. Banyak yang penasaran bagaimana virus ini bisa muncul dan menyebar begitu cepat.

Kasus virus Nipah selalu menimbulkan kekhawatiran karena risikonya tinggi. Lantas, apa sebenarnya virus Nipah itu? Apa saja gejala yang perlu diwaspadai dan bagaimana cara melindungi keluarga dari ancamannya? Simak selengkapnya di bawah ini, Bunda! 

Kasus virus Nipah di negara-negara tetangga Indonesia

Bunda, saat ini Thailand sedang berada dalam status risiko tinggi terkait wabah virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah. Penyakit ini juga dilaporkan sudah menyebar ke beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Melansir dari laman Bangkok Post yang dikutip CNBC Indonesia, ahli virologi Yong Poovorawan dari Universitas Chulalongkorn menegaskan bahwa kasus virus Nipah pertama kali muncul pada akhir 1990-an. Kasus virus Nipah pada saat itu sempat menimbulkan perhatian internasional karena tingkat kematiannya cukup tinggi.

Di negara Malaysia, virus Nipah tercatat sebagai wabah besar dengan ratusan orang terinfeksi. Dari 265 kasus yang dilaporkan, 108 di antaranya berakhir dengan meninggal dunia, Bunda.

Sejak itu, kasus virus Nipah menjadi perhatian utama di wilayah Asia Tenggara. Ancaman penyebarannya pun membuat setiap laporan baru yang selalu dipantau dengan ketat oleh para ahli kesehatan.

Mengenal virus Nipah

Berdasarkan informasi dari situs resmi World Health Organization (WHO), virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang bisa menular dari hewan ke manusia. Penularannya juga bisa melalui makanan yang terkontaminasi atau kontak langsung antar manusia.

Orang yang terinfeksi virus Nipah bisa mengalami gejala ringan hingga penyakit serius seperti gangguan pernapasan atau ensefalitis fatal. Tak hanya manusia, virus ini juga dapat menimbulkan penyakit parah pada hewan, terutama babi. 

Meskipun kasus virus Nipah hanya muncul dalam beberapa wabah di Asia, risikonya tetap sangat tinggi. Bunda perlu memahami virus ini karena menjadi masalah penting dalam kesehatan masyarakat.

Penyebab virus Nipah

Melansir dari laman Independent, virus Nipah termasuk penyakit zoonosis yang bisa menular dari hewan ke manusia, bahkan dari manusia ke manusia. Virus ini menjadi perhatian karena cara penularannya yang cukup beragam dan berisiko tinggi.

Pembawa utama yang menjadi penyebab virus Nipah adalah kelelawar buah dari spesies Pteropus. Manusia bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan kelelawar, hewan lain yang sakit, atau makanan yang terkontaminasi air liur dan kotorannya.

Selain itu, penularan virus Nipah dari manusia ke manusia juga telah dilaporkan. Kontak dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi menjadi salah satu cara penyebaran yang perlu Bunda waspadai.

Gejala virus Nipah

Dikutip dari dokumen Directorate of Health Services (DHS) Kerala, gejala virus Nipah bisa muncul 4–14 hari setelah terpapar virus tersebut. Seseorang yang terkena penyakit ini akan dikenai gejala seperti berikut:

  1. Demam
  2. Sakit kepala
  3. Batuk
  4. Radang tenggorokan
  5. Sulit bernapas
  6. Mual

Seiring waktu pada kasus yang parah, virus Nipah dapat menyerang otak dan menyebabkan pembengkakan (ensefalitis). Pada tahap ini, Bunda perlu waspada terhadap gejala-gejala berikut:

  1. Kebingungan dan disorientasi
  2. Kejang
  3. Koma
  4. Pembengkakan otak (ensefalitis)

Bunda, virus Nipah termasuk penyakit serius dengan angka kematian mencapai 40–75 persen kasus. Tak hanya itu, orang yang selamat juga bisa mengalami efek jangka panjang seperti kejang terus-menerus dan perubahan kepribadian.

Menariknya, gejala virus Nipah kadang muncul lama setelah terpapar, bahkan bisa berminggu-minggu hingga bertahun-tahun kemudian. Hal ini membuat Bunda perlu lebih waspada dan mengenali gejala-gejala tersebut sejak awal.

Seberapa bahaya virus Nipah?

Virus Nipah termasuk penyakit yang sangat berbahaya karena tingkat kematiannya cukup tinggi, yaitu mencapai 40–75 persen tergantung wabah dan jenis virusnya. Bunda perlu waspada karena penyebarannya bisa cepat dan sulit diprediksi.

Para penderita virus Nipah tidak selalu bebas dari risiko karena beberapa mengalami efek jangka panjang pada saraf. Kondisi ini bisa berupa kejang yang terus-menerus atau perubahan kepribadian setelah sembuh.

Kasus yang jarang terjadi menunjukkan virus Nipah bisa kambuh bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi gejala awal. Hal ini membuat kewaspadaan jangka panjang tetap penting bagi mereka yang pernah terpapar virus Nipah ini. 

Penularan virus Nipah

Mengutip dari laman World Health Organization (WHO), penularan virus Nipah banyak terjadi dari babi ke manusia pada wabah awal di Malaysia, yang juga berdampak ke Singapura. Infeksi muncul akibat kontak langsung tanpa perlindungan dengan babi sakit atau jaringan babi yang terkontaminasi.

Penularan tersebut diduga terjadi melalui paparan sekresi babi, seperti cairan tubuh yang mengandung virus Nipah. Kontak tanpa alat pelindung diri meningkatkan risiko tertular penyakit berbahaya ini.

Pada wabah berikutnya di Bangladesh dan India, sumber penularan berbeda dari sebelumnya. Konsumsi buah atau produk buah, seperti jus kurma mentah, yang terkontaminasi urine atau air liur kelelawar menjadi penyebab utama penularan virus Nipah.

Hingga kini, belum ada penelitian yang memastikan berapa lama virus Nipah dapat bertahan di lingkungan atau pada cairan tubuh. Termasuk di dalamnya kemungkinan virus bertahan pada buah-buahan yang terpapar.

Selain dari hewan, penularan virus Nipah juga dapat terjadi antar manusia. Penularan ini dilaporkan terjadi melalui kontak erat dengan sekresi tubuh pasien, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.

Awal mula virus Nipah

Bunda, virus Nipah pertama kali dikenali pada tahun 1999 saat terjadi wabah di kalangan peternak babi di Malaysia. Sejak peristiwa tersebut, tidak ada lagi laporan wabah baru virus Nipah di negara tersebut.

Setelah itu, virus Nipah teridentifikasi di Bangladesh pada tahun 2001 dan hampir muncul setiap tahun hingga kini. Selain Bangladesh, kasus penyakit ini juga tercatat secara berkala di wilayah India bagian timur.

Sejumlah wilayah lain dinilai berisiko, Bunda, karena virus Nipah ditemukan pada reservoir alaminya, yaitu kelelawar Pteropus. Bukti keberadaan virus ini juga terdeteksi pada beberapa spesies kelelawar di negara seperti Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.

Pencegahan dan pengobatan virus Nipah

Hingga kini, belum tersedia vaksin khusus untuk mencegah virus Nipah, sehingga upaya pencegahan menjadi langkah paling penting, Bunda. Menjaga kebersihan lingkungan, terutama di peternakan hewan, perlu dilakukan secara rutin dan menyeluruh.

Berikut ini beberapa hal penting yang harus dilakukan sebagai upaya dan bentuk pencegahan terjadinya infeksi virus Nipah di lingkungan sekitar. 

1. Mengurangi risiko penularan dari kelelawar ke manusia

Langkah pencegahan penularan sebaiknya diawali dengan membatasi kontak kelelawar terhadap getah pohon kurma dan bahan pangan segar lainnya. Penutupan wadah penampungan getah, perebusan sari kurma, serta kebiasaan mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi penting dilakukan, buah yang tampak bekas gigitan kelelawar sebaiknya tidak dimakan.

2. Mengurangi risiko penularan dari hewan ke manusia

Penggunaan sarung tangan serta perlengkapan pelindung lain sangat dianjurkan saat menangani hewan sakit, jaringan hewan, maupun dalam proses penyembelihan. Kontak langsung dengan babi yang terinfeksi sebaiknya dihindari, serta peternakan baru perlu dirancang dengan memperhatikan keberadaan kelelawar dan melindungi pakan serta kandang dari paparan hewan tersebut.

3. Mengurangi risiko penularan dari manusia ke manusia

Kontak langsung tanpa alat pelindung dengan penderita virus Nipah sebaiknya dihindari untuk menekan risiko penularan. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan secara rutin perlu dilakukan setelah merawat atau menjenguk orang yang sedang sakit.

Bagi tenaga medis yang menangani pasien dengan kecurigaan atau konfirmasi infeksi virus Nipah wajib menjalankan protokol pencegahan infeksi secara ketat setiap saat. Langkah ini juga berlaku bagi petugas yang berhubungan langsung dengan bahan pemeriksaan dari pasien.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis berbahaya yang dapat menular dari hewan ke manusia dan hingga kini belum memiliki vaksin, sehingga perlu diwaspadai, Bunda. Mengenali gejala virus Nipah sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko fatal bisa ditekan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda