moms-life
3 Pola Makan Sederhana Ini Bisa Turunkan Risiko Gagal Jantung
HaiBunda
Senin, 26 Jan 2026 13:20 WIB
Daftar Isi
Diet sehat tidak hanya sekadar untuk menurunkan berat badan. Coba deh Bunda terapkan pola makan sederhana di bawah ini yang juga bisa menurunkan risiko gagal jantung.
Banyak orang merasa bingung menentukan pola makan apa yang benar-benar bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang, khususnya untuk menjaga jantung. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan jantung tidak selalu harus rumit.
Perlu dipahami bahwa gagal jantung saat ini menjadi salah satu tantangan kesehatan global. Diperkirakan sekitar 1 persen hingga 3 persen populasi dunia hidup dengan kondisi ini dan jumlahnya diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2030.
Gagal jantung terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara optimal sehingga memicu berbagai keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, sering dirawat di rumah sakit, hingga menurunnya kualitas hidup. Selain pengobatan medis, pencegahan kini semakin mendapat perhatian, terutama melalui pola makan.
Mengutip Eating Well, berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition, perubahan sederhana dalam kebiasaan makan dapat memberikan perlindungan nyata terhadap risiko gagal jantung. Mari bahas lebih lanjut yuk, Bunda.
Studi: Pola makan dan gagal jantung
Penelitian ini menganalisis data dari lebih dari 450 ribu orang untuk melihat hubungan antara pola makan sehat dan risiko gagal jantung. Para peneliti menelaah tiga pola makan yang sudah dikenal luas, yakni diet DASH, diet Mediterania, dan Alternative Healthy Eating Index (AHEI).
Metode yang digunakan adalah systematic review dan meta-analysis, yaitu penggabungan data dari berbagai penelitian sebelumnya untuk menarik kesimpulan yang lebih kuat. Sebanyak 11 studi kohort prospektif dilibatkan, dengan total 450.451 partisipan dan sedikitnya 18.877 kasus gagal jantung yang tercatat.
Para peserta diikuti selama periode 4,5 hingga 22 tahun, sebagian besar berasal dari Amerika Utara dan Eropa. Ketiga pola makan tersebut memiliki karakteristik berbeda, tapi sama-sama menekankan kualitas asupan makanan.
Diet DASH fokus pada konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, serta pembatasan asupan garam. Diet Mediterania mengutamakan makanan nabati, minyak zaitun, ikan, dan lemak sehat. Sementara itu, AHEI menilai kualitas pola makan secara keseluruhan berdasarkan komponen yang terbukti berkaitan dengan pencegahan penyakit kronis.
Perubahan pola makan menurunkan risiko gagal jantung 25 persen
Hasil analisis menunjukkan temuan yang cukup mencolok. Orang-orang dengan tingkat kepatuhan tertinggi terhadap salah satu dari tiga pola makan sehat tersebut memiliki risiko gagal jantung sekitar 25 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang kepatuhannya paling rendah.
Jika dilihat secara terpisah, diet DASH dikaitkan dengan penurunan risiko sebesar 19 persen, diet Mediterania 26 persen, dan AHEI 25 persen. Menariknya, tidak ada perbedaan signifikan di antara ketiganya.
Jadi, tidak ada satu pola makan yang mutlak paling unggul karena semuanya menawarkan manfaat perlindungan yang sebanding bagi kesehatan jantung. Peneliti juga menemukan bahwa setiap peningkatan kecil dalam kualitas pola makan memberikan dampak positif.
Semakin baik Bunda mendekati pola makan sehat tersebut, semakin besar pula penurunan risikonya. Pada diet DASH misalnya, setiap kenaikan 10 poin skor kepatuhan dikaitkan dengan penurunan risiko gagal jantung sekitar 11 persen.
Pentingnya konsistensi
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti tetap mengingatkan adanya keterbatasan studi. Data pola makan diperoleh dari laporan mandiri peserta yang berpotensi menimbulkan kesalahan.
Selain itu, sebagian besar penelitian hanya menilai kebiasaan makan pada satu waktu, bukan perubahan pola makan selama bertahun-tahun. Meski demikian, setelah disesuaikan dengan berbagai faktor seperti usia, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik, hubungan antara pola makan sehat dan penurunan risiko gagal jantung tetap terlihat kuat.
Langkah sederhana mengubah pola makan harian
Ketiga pola makan sehat yang telah disebutkan di atas memiliki kesamaan utama, yakni memperbanyak konsumsi makanan nabati seperti buah, sayur, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Selain itu, semuanya menyarankan pembatasan daging merah dan olahan, karbohidrat olahan, serta gula tambahan.
Untuk itu, Bunda bisa mengubah kebiasaan dengan langkah sederhana yang bisa diterapkan setiap hari.
- Tambahkan satu porsi sayuran ekstra saat makan siang atau makan malam.
- Ganti nasi putih atau roti putih dengan nasi merah, quinoa, atau roti gandum utuh.
- Pilih camilan kacang-kacangan dibandingkan keripik atau biskuit.
- Konsumsi ikan berlemak seperti salmon atau sarden beberapa kali dalam sepekan.
- Gunakan minyak zaitun sebagai pengganti mentega saat memasak.
- Bumbui makanan dengan rempah-rempah alami untuk mengurangi penggunaan garam.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan sederhana namun konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jantung. Jadi, perubahan kecil yang Bunda lakukan secara berkelanjutan bisa menjadi investasi penting untuk melindungi jantung dan meningkatkan kualitas hidup di masa depan.
Yuk mulai berubah, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Sudah Diet dan Olahraga Kok Badan Malah Tambah Gemuk, Kenapa?
Mom's Life
Kenali Lima Jenis Diet Sesuai Kepribadian, Bunda yang Mana?
Mom's Life
2 Tips Pangkas Bobot Tubuh, Lakukan di Pagi Hari Bun
Mom's Life
Wanita Ini Sukses Diet hingga Turun 20 Kg, Ternyata Ini Rahasianya
Mom's Life
Shirataki Vs Nasi Putih, Mana yang Lebih Sehat?
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Terbaru Kahiyang Ayu Setelah Sukses Diet Sehat hingga BB Turun 30 Kg
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kebiasaan Penyebab Kolesterol Tinggi pada Wanita yang Sering Dilakukan
10 Sarapan Pagi untuk Diet yang Simpel dan Bergizi, Bantu Turunkan Berat Badan
Ternyata Diet Ketat Tak Seefektif Turunkan BB Jangka Panjang, Ini Kata Studi