moms-life
7 Cara Menghadapi Suami NPD agar Tetap Waras
HaiBunda
Kamis, 22 Jan 2026 07:40 WIB
Hidup bersama pasangan dengan kecenderungan NPD (Narcissistic Personality Disorder) sering diibaratkan seperti berjalan di atas kulit telur. Di satu waktu, ia bisa terlihat penuh pesona, romantis, dan meyakinkan. Namun pada waktu lain, sikapnya berubah drastis menjadi dingin, meremehkan, bahkan menyakitkan secara emosional.
Situasi ini sering membuat istri diliputi kebingungan. Apakah ia benar-benar peduli atau semua hanya tentang dirinya sendiri?
Tak jarang, pasangan dari suami narsistik mulai meragukan perasaan dan pikirannya sendiri. Bunda jadi bertanya-tanya apakah diri sendiri berlebihan atau justru memang sedang diperlakukan tidak adil?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinamika hubungan semacam ini sangat melelahkan dan mengisolasi, terlebih ketika kebutuhan emosional Bunda terus-menerus tersisihkan. Meski demikian, penting untuk diingat bahwa Bunda tidak sendirian.
Banyak orang menghadapi perjuangan serupa dan berusaha mencari cara menghadapi suami NPD demi menjaga kewarasan, melindungi ketenangan batin, dan tetap merasa berharga sebagai seseorang. Mengutip Marriage, mari memahami mengenai suami NPD dan cara menghadapinya.
Memahami suami dengan NPD
Istilah 'narsistik' sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang egois dan kurang memikirkan perasaan pasangannya. NPD merupakan gangguan kepribadian yang dapat didiagnosis secara klinis dan tercantum dalam DSM-5, panduan resmi yang digunakan tenaga profesional kesehatan mental.
Tidak semua suami dengan sifat narsistik pasti mengidap NPD. Ada yang hanya menunjukkan kecenderungan tertentu, sementara lainnya memenuhi kriteria gangguan kepribadian ini secara utuh.
Beberapa ciri umum NPD antara lain:
- Merasa diri paling unggul dibanding orang lain
- Hanya mau bergaul dengan orang yang dianggap sukses, menarik, atau 'spesial'
- Menuntut perlakuan istimewa
- Memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi
- Kurang atau tidak mampu berempati
- Haus akan pujian dan kekaguman
- Bersikap sombong dan angkuh
Narsisme sendiri berada dalam spektrum. Meski tampak percaya diri dan arogan, di baliknya sering tersembunyi rasa tidak aman yang dalam, ego yang rapuh, serta luka masa kecil akibat trauma, penolakan, atau pola asuh yang bermasalah.
Dampak hidup bersama suami NPD
Menjalani pernikahan dengan suami narsistik membawa berbagai konsekuensi, baik secara emosional, mental, maupun sosial. Berikut tujuh dampak yang umum dialami.
- Kepuasan hubungan menurun: Manipulasi psikologis dan agresi emosional membuat hubungan terasa hambar dan tidak membahagiakan.
- Konflik yang tinggi: Pertengkaran bisa terjadi hampir setiap hari karena suami NPD sangat sensitif terhadap kritik atau hal yang dianggap merendahkan dirinya.
- Isolasi sosial: Suami narsistik kerap menjauhkan pasangan dari keluarga atau teman agar tidak ada pihak lain yang menyadari adanya hubungan yang tidak sehat.
- Kesehatan mental memburuk: Banyak istri mengalami depresi, kecemasan, bahkan gejala PTSD akibat perasaan yang terus diabaikan.
- Masalah finansial: Sikap eksploitatif membuat suami NPD tak segan menghabiskan uang pasangan, berutang berlebihan, atau hidup dari penghasilan istri.
- Harga diri menurun: Hinaan dan kata-kata merendahkan yang berulang kali dilontarkan dapat menggerus rasa percaya diri secara perlahan.
- Kelelahan emosional: Tuntutan perhatian tanpa henti membuat pasangan merasa terkuras, kehilangan energi untuk diri sendiri, dan sulit melakukan perawatan diri.
Cara menghadapi suami NPD agar tetap waras
Hubungan dengan suami narsistik umumnya bersifat siklik. Pada awal hubungan, ia akan melakukan love bombing, seperti memberikan perhatian, pujian, dan kasih sayang berlebihan.
Bunda mungkin disebut sebagai belahan jiwa dan dibuat merasa sangat istimewa. Seiring bergulirnya waktu, fase ini berubah menjadi devaluing.
Kesalahan kecil atau perbedaan pendapat bisa membuatnya marah, merendahkan, bahkan bersikap kasar secara verbal maupun emosional. Setelah ledakan amarah, ia bisa kembali bersikap manis seolah tak terjadi apa-apa sehingga menciptakan hubungan naik-turun yang melelahkan.
Jika suami Bunda punya ciri NPD, begini cara menghadapinya agar tetap waras.
1. Pahami polanya dan hentikan menyalahkan diri sendiri
Langkah awal yang penting adalah memahami bahwa perilaku suami berasal dari pola kepribadian, bukan karena kegagalan Bunda sebagai pasangan. Kesadaran ini membantu Bunda melihat situasi dengan lebih jernih.
Dengan memahami pola NPD, Bunda bisa berhenti mencari-cari kesalahan dalam diri sendiri. Ini menjadi pondasi penting untuk menjaga kewarasan dan membangun batas emosional yang sehat.
2. Tetapkan batasan yang tegas dan konsisten
Batasan emosional sangat penting dalam hubungan dengan suami NPD. Bunda perlu menentukan apa yang bisa dan tidak bisa diterima dalam perlakuan sehari-hari.
Meski suami mungkin menolak atau meremehkan batasan tersebut, konsistensi adalah kunci. Batasan bukan untuk mengubahnya, melainkan melindungi diri sendiri.
3. Jangan bergantung pada validasi suami
Suami NPD umumnya sulit memberikan empati atau pengakuan yang tulus. Terus berharap pada validasi darinya hanya akan memperpanjang luka emosional.
Alihkan kebutuhan validasi kepada diri sendiri dan lingkungan yang lebih sehat. Menghargai diri sendiri merupakan langkah penting untuk memulihkan harga diri yang sempat terkikis.
4. Prioritaskan kesehatan mental
Merawat kesehatan mental bukanlah tindakan egois, melainkan kebutuhan. Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang memberi ketenangan dan rasa bahagia. Jika memungkinkan, konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu Bunda memahami dinamika hubungan dan memperkuat daya tahan emosional.
5. Pertahankan koneksi sosial
Hubungan dengan keluarga dan teman menjadi jangkar emosional yang penting. Mereka dapat memberi perspektif objektif dan dukungan yang Bunda butuhkan.
Jangan biarkan diri sendiri terisolasi. Koneksi sosial membantu Bunda mengingat bahwa Bunda tidak sendirian dan masih memiliki ruang aman di luar pernikahan.
6. Kelola keuangan secara mandiri
Jika memungkinkan, pisahkan atau awasi keuangan pribadi untuk melindungi diri dari eksploitasi finansial. Transparansi dan perencanaan menjadi sangat krusial.
Langkah ini bukan berarti tidak percaya, melainkan bentuk perlindungan diri agar Bunda tidak terjebak dalam masalah ekonomi yang lebih besar di kemudian hari.
7. Pertimbangkan bantuan profesional
Terapi individual dapat membantu Bunda mengevaluasi kondisi secara objektif dan menentukan langkah terbaik ke depan. Fokus terapi demi keselamatan dan kesehatan Bunda.
Jika hubungan sudah berdampak serius pada kesehatan mental atau keselamatan, pertimbangkan jarak atau keputusan besar lainnya menjadi bentuk keberanian, bukan kegagalan.
Menghadapi suami NPD agar tetap waras butuh kesadaran, keteguhan, dan keberanian yang luar biasa. Bunda berhak hidup dengan tenang, dihargai, dan didengarkan. Jadi, kewarasan bukan sekadar pilihan, melainkan bentuk cinta paling dasar pada diri sendiri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
10 Cara Bijak Menghadapi Suami yang Selalu Menyalahkan Istri
Mom's Life
7 Tanda Pasutri Butuh Konseling Pernikahan, Jangan Ditunda-tunda Bun
Mom's Life
7 Tanda Kesepian dalam Pernikahan, Penyebab & Cara Mengatasinya
Mom's Life
Mengenal Arti Prioritas dalam Hubungan, Tanda Pasangan Melakukannya & Contohnya
Mom's Life
Wanita Ini Tak Rela Uang Seserahan Dibagi 2 Demi Pesta di Rumah Calon Suami
5 Foto
Mom's Life
5 Seleb yang Dekat dengan Mertua, Jadi Menantu Kesayangan!
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Mengenal Aturan 3-6-9 Bulan yang Perlu Dipahami Pasangan Baru
5 Alasan Pentingnya Bicara Keuangan Sebelum Menikah, Pernahkah Dilakukan oleh Bunda dan Ayah?
Berapa Perbedaan Jarak Usia Pasangan Agar Pernikahan Langgeng? Ini Kata Pakar