moms-life
Dewi Lestari Jalani Long Fasting 72 Jam untuk Bersihkan Tubuh hingga Turunkan Berat Badan
HaiBunda
Minggu, 11 Jan 2026 11:40 WIB
Diet long fasting 72 jam atau puasa 72 jam adalah salah satu metode diet yang diklaim dapat membakar lemak tubuh dengan cepat. Sudah banyak public figure menjalani diet long fasting ini untuk membantu menurunkan berat badannya, Bunda.
Baru-baru ini, penulis dan penyanyi Dewi Lestari menjadi salah satu public figure yang memutuskan untuk menjalani long fasting atau puasa 72 jam. Dewi membagikan perjalanan puasa panjangnya ini di akun Instagram, Bunda.
Dalam unggahan di satu video, Dewi mengungkap alasannya melakukan long fasting. Selain karena ingin membersihkan tubuh, ia juga memiliki target untuk menurunkan berat badan. Dewi mesti membakar lemak tubuh lantaran akan menjalani pemotretan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa saya melakukan long fasting ini? Jadi ada beberapa alasan. Pertama, ya karena memang bagus aja, ini merupakan mekanisme bersih-bersih tubuh, ada satu mekanisme di tubuh kita namanya autofagi," katanya, dikutip dari Instagram @deelestari, Jumat (9/1/25).
"Kedua, saya memang mau melakukan sebuah pemotretan, sebentar lagi, yang mengharuskan saya menurunkan kadar lemak di tubuh, dan salah satu cara paling efektif untuk itu adalah melakukan puasa panjang, karena nanti bahan bakar pindah ke lemak, jadi lemaknya terbakar," sambungnya.
Tantangan long fasting 72 jam
Selama menjalani long fasting ini, Dewi tetap mengonsumsi sesuatu untuk meredakan rasa lapar. Alih-alih makanan utuh, Bunda dua anak ini memilih untuk mengonsumsi virgin coconut oil (VCO) dan minum teh herbal yang kaya akan serat. Dewi mengonsumsi keduanya saat di waktu 24 jam pertama puasa.
"Hari ini memasuki 24 jam pertama. Hari ini saya baru minum dua sendok makan virgin coconut oil (VCO) dan satu sendok teh Pysillium Husk, itu adalah semacam fiber atau serat yang bisa dipakai untuk sedikit meredakan rasa lapar tapi tidak membatalkan puasa, dan ini adalah long fasting. Target saya adalah 72 jam, yang berat itu biasanya dari 24 menuju 48. Doakan ya teman-teman, semoga lancar, istiqomah, dan lolos 72 jam," ungkapnya dalam unggahan lain di Instagram.
Dewi mengaku bahwa di 24 jam pertama puasa ini, dia tidak mengalami keluhan yang berarti. Ia terkadang hanya merasa menjadi lebih sensitif saat melihat makanan.
"Enggak sampe keleyengan, cuma sensi lihat makanan," tulisnya.
Dari waktu 24 jam menuju 48 jam, Dewi juga mengonsumsi bone broth atau air kaldu tulang. Minuman yang diklaim kaya akan nutrisi ini dikonsumsinya sebagai menu makan malam.
Nah, memasuki 48 jam puasa, Dewi mulai merasakan keluhan. Perempuan 49 tahun ini mengaku mulai mengalami halusinasi. Ia kerap kali melihat barang di sekitar seperti makanan.
"Sesuai prediksi, ini memang hari yang paling berat, mulai halusinasi, segalanya adalah makanan. Tapi memang beginilah suka duka dari puasa panjang. Reaksi badan orang berbeda-beda, tapi buat saya 24 jam menuju 48 yang paling berat, dan ini tepat yang ke-48 (jam)," ujarnya.
Apa itu long fasting 72 jam?
Long fasting 72 jam atau puasa 72 jam adalah jenis diet di mana Bunda diharuskan puasa 72 jam, namun biasanya tetap diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman rendah kalori, seperti air putih, kopi atau teh tanpa gula, serta minuman mengandung serat.
Berikut perubahan yang terjadi pada tubuh saat menjalani long fasting 72 jam, seperti melansir dari laman Elite Fit:
- 0 hingga 12 jam
Di waktu ini, Bunda berada dalam kondisi kenyang normal di awal, kemudian memasuki tahap pasca-penyerapan setelah selesai mencerna makanan terakhir. Di tahap ini, glukosa darah digunakan untuk energi, dan kelebihannya disimpan sebagai glikogen. Belum ada perubahan signifikan selain sedikit penurunan gula darah dan insulin.
- 12 hingga 24 jam
Cadangan glikogen di hati mulai menipis di waktu ini. Sekitar 18 hingga 24 jam, organ hati telah melepaskan sebagian besar glukosa yang tersimpan, dan kadar insulin turun ke tingkat dasar yang rendah. Tubuh mulai beralih metabolisme ke pembakaran lemak.
Asam lemak dilepaskan dari jaringan lemak, dan hati mengubah lemak menjadi keton sebagai bahan bakar. Banyak orang mencapai ketosis ringan pada akhir 24 jam pertama. Beberapa di antaranya mungkin mengalami rasa lapar, mudah tersinggung, atau sakit kepala saat transisi ini terjadi.
- 24 hingga 48 jam (hari ke-2)
Di antara 24 hingga 48 jam, keton dalam darah terus meningkat tajam seiring percepatan pemecahan lemak. Pada waktu ini, ketosis sudah sepenuhnya aktif, sehingga tubuh mendapatkan sebagian besar energinya dari lemak yang tersimpan.
Mekanisme autofagi sangat aktif pada titik ini, di mana mekanisme dapat membantu membersihkan sisa-sisa sel. Banyak orang melaporkan bahwa rasa lapar berkurang pada hari ke-2. Selain itu, energi dan 'kejernihan' mental mungkin meningkat dibandingkan pertama karena pasokan bahan bakar yang stabil dari keton.
Namun, Bunda mungkin merasa lebih lemah secara fisik bila mencoba aktivitas berat, karena glikogen rendah. Hidrasi dan elektrolit menjadi sangat penting di waktu ini untuk mencegah pusing.
- 48 hingga 72 jam (hari ke-3)
Pada hari ketiga, tubuh memasuki keseimbangan 'mode bertahan hidup'. Lemak kini menjadi bahan bakar utama atau metabolisme telah sepenuhnya beralih untuk membakar lemak dan keton.
Menariknya, tubuh di waktu ini mungkin akan menginduksi semacam resistensi insulin sementara pada otot. Itu artinya, otot menyerap lebih sedikit glukosa, menghemat gula darah untuk otak, dan organ hati mengoksidasi asam lemak serta keton. Ini merupakan mekanisme perlindungan selama kelaparan.
Di tahap ini, autofagi kemungkinan mencapai tingkat tinggi, menghilangkan sel-sel yang rusak dan mungkin merangsang regenerasi. Beberapa orang yang berpuasa pada hari ke-3 menggambarkan keadaan 'kejernihan' mental yang mendalam atau bahkan euforia ringan, karena keton dan neurotransmiter tertentu meningkat. Tentu saja, Bunda juga akan merasa lemas dan ingin makan.
Manfaat long fasting 72 jam
Ada beberapa manfaat dari puasa 72 jam yang diklaim baik untuk kesehatan tubuh. Berikut manfaatnya:
- Meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memberikan ketahanan terhadap penyakit.
- Peningkatan sensitivitas insulin dan menyeimbangkan kadar gula darah.
- Berpotensi menurunkan berat badan dan meningkatkan metabolisme tubuh.
- Mengurangi lemak perut dan memperbaiki penanda sindrom metabolik.
- Menurunkan tekanan darah dan peradangan secara signifikan dalam jangka pendek.
- Meningkatkan ketahanan mental dan emosional.
Perlu dicatat, diet dengan puasa 72 jam memang berpotensi memiliki manfaat bagi kesehatan. Tapi, diet ini tidak boleh terlalu sering dilakukan karena dapat menyebabkan kehilangan massa otot atau kekurangan nutrisi.
Kebanyakan orang yang menjalani puasa ini tidak melakukan aktivitas fisik. Padahal, aktivitas fisik perlu dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh.
Jika berencana untuk melakukan puasa yang lebih lama, Bunda sebaiknya berkonsultasi dulu dengan ahli gizi ya. Pastikan untuk memahami manfaat dan risikonya.
Demikian cerita Dewi Lestari menjalani puasa 72 jam untuk membersihkan tubuh dan menurunkan berat badan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
4 Jenis Teh Ini Bisa Buat Diet Lho Bun
Mom's Life
Ingin Turunkan Berat Badan? Coba 12 Cara Diet Alami Ini, Bun
Mom's Life
Tips Diet Ala Instruktur Pound Fit, Bisa Susut Hingga 24 Kg
Mom's Life
Tips Sehat Menurunkan Berat Badan Tanpa Konsumsi Pelangsing
Mom's Life
7 Langkah Turunkan Berat Badan 10 Kg dalam 2 Bulan, Pakai Aturan 80-20
7 Foto
Mom's Life
7 Potret Terbaru Personel Rida Sita Dewi yang Populer di Tahun 90-an
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Diet Puasa, Bunda 2 Anak Sukses Turunkan Bobot 47 Kg
Wow! Puasa 14 Jam & Makan 10 Jam Terbukti Efektif Turunkan Berat Badan
Pakar Nutrisi Ungkap Cara Sederhana Berat Badan Turun dalam 3 Bulan