Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Pertimbangkan 5 Hal Ini Sebelum Memutuskan Resign dari Tempat Kerja

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Rabu, 07 Jan 2026 20:40 WIB

Resignation concept.Businesswoman packing personal company belongings when she deciding resignation change of job or fired from the company.
Ilustrasi resign / Foto: Getty Images/ijeab
Daftar Isi

Bunda sedang mempertimbangkan untuk resign? Sebelum benar-benar keluar, pertimbangkan beberapa hal sebelum resign.

Fenomena pengunduran diri massal dari pekerjaan belakangan ini menjadi perhatian dunia. Istilah Great Resignation atau gelombang resign besar-besaran digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika jutaan pekerja memilih meninggalkan pekerjaannya.

Perubahan prioritas hidup, tekanan mental berkepanjangan setelah pandemi, hingga keinginan mencari makna kerja yang lebih dalam menjadi alasan utama di balik tren ini. Di Amerika Serikat, departemen tenaga kerja mencatat rekor sekitar 4 juta orang mengundurkan diri hanya dalam satu bulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Survei Microsoft terhadap lebih dari 30 ribu pekerja di seluruh dunia juga menunjukkan bahwa 41 persen responden mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan bahkan berpindah profesi. Sementara itu, riset perusahaan perangkat lunak HR Personio menemukan 38 persen pekerja di Inggris dan Irlandia berencana resign.

Meski demikian, resign bukanlah keputusan ringan. Tidak semua rasa lelah atau jenuh harus diakhiri dengan pengunduran diri.

Keinginan resign bisa muncul akibat tekanan situasional, bukan kebutuhan mendesak. Untuk itu, sebelum mengambil langkah besar ini, ada sejumlah pertimbangan penting yang sebaiknya dipikirkan secara matang.

Hal yang perlu dipertimbangkan sebelum resign

Berikut lima hal yang perlu Bunda pertimbangkan sebelum memutuskan resign dari tempat kerja dikutip dari berbagai sumber.

1. Dampak pekerjaan terhadap mental dan fisik

Langkah awal adalah menilai dampak pekerjaan terhadap kesehatan mental dan fisik. Jika pekerjaan memicu stres berat, kelelahan kronis, bahkan gangguan kesehatan akibat perundungan dan beban kerja berlebih, resign bisa menjadi bentuk perlindungan diri. 

Kesehatan tidak boleh dikorbankan demi pekerjaan semata. Namun, Bunda juga perlu jujur pada diri sendiri. Apa sebenarnya frustrasi terbesar Bunda? Apa satu hal utama yang membuat resign ini muncul?

Dengan mengurai penyebab secara spesifik, mulai dari tugas kerja, budaya kantor, gaji, hingga nilai perusahaan, Bunda bisa mendapatkan kejelasan sebelum mengambil keputusan final.

2. Pertimbangkan perjalanan karier hingga saat ini

Merefleksikan perjalanan karier dapat membantu memahami kondisi saat ini. Mengingat alasan awal menerima pekerjaan tersebut dan bagaimana jalur karier Bunda berkembang akan memberi perspektif yang lebih luas.

Terkadang, masalah yang terasa besar saat ini hanyalah bagian dari fase transisi. Refleksi ini juga menguatkan rasa kendali diri.

Oleh karena itu, resign bukanlah kegagalan, melainkan salah satu bentuk pilihan sadar dalam perjalanan profesional.

3. Durasi ketidakpuasan kerja

Durasi ketidakpuasan menjadi indikator penting. Jika rasa tidak bahagia di tempat kerja sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan sebelum pandemi, bisa jadi itu sinyal bahwa perubahan memang diperlukan.

Terlalu sering menunda dengan memberi tenggat 'enam bulan lagi' justru memperpanjang ketidakbahagiaan. Sebaliknya, jika rasa ingin resign baru muncul sejak pandemi, hal tersebut bisa berkaitan dengan tekanan global

Dalam kondisi ini, istirahat, cuti, atau penyesuaian beban kerja patut dipertimbangkan terlebih dahulu.

4. Bos dan lingkungan kerja yang toksik

Atasan atau budaya kerja yang toksik kerap menjadi pemicu utama resign. Namun, di perusahaan besar masih ada peluang untuk berpindah tim atau mengubah divisi. Sementara berbeda dengan perusahaan kecil, Bunda sering kali tidak bisa menghindarinya.

Meski demikian, kesehatan mental tetap harus menjadi prioritas. Jika tidak ada lagi yang bisa dilakukan dan Bunda memutuskan kesehatan mental lebih penting maka jawabannya akan menjadi lebih jelas. Idealnya, keputusan itu dibuat sebelum Bunda mencapai titik kelelahan.

5. Hal yang didapatkan setelah resign

Dibanding hanya fokus pada hal negatif, penting juga melihat potensi keuntungan dari resign. Sebab, banyak pekerja kehilangan gambaran tentang nilai pasarnya sendiri.

Jika kenaikan gaji atau promosi terus terlewatkan, pindah perusahaan bisa menjadi cara untuk mengatur ulang karier dan meningkatkan penghasilan secara signifikan.

Dengan mempertimbangkan kelima hal di atas serta memahami pandangan para pakar, Bunda bisa mengambil langkah yang lebih bijak, bukan sekadar mengikuti emosi sesaat, melainkan demi masa depan karier dan kesehatan yang lebih baik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda